PEMBELAJARAN PENTINGNYA KOPERASI DALAM MELAYANI EKONOMI RAKYAT MELALUI TEKNIK OBSERVASI DI SD NEGERI GRIYA BUMI ANTAPANI 14/ 2 KELAS VI
Oleh : Ai Sarikinkin
Abstrak
Prosedur penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi di SD Negeri Griya Bumi Antapani 14/2 Kelas VI dilakukan oleh peneliti sampai dua siklus. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi. Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase-fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan teknik tes. Hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa dari indikator 1 adalah 100% - 38 % = 62 %; indikator 2 adalah 100% - 38% = 62%; indikator 3 adalah 100% - 33% = 67%; indikator 4 adalah 100% - 32% = 68%. dan indikator 5 adalah 100% - 32% = 68%. Berdasarkan perhitungan di atas dapat dinyatakan bahwa hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa pada indikator 1,2,3, 4, dan 5 adalah 62 %, 62 %, 67%, 68%, dan 68%. Prosentasi hasil tes siklus pertama, pertemuan kesatu seluruh indikator adalah 30%, sedangkan hasil tes siklus kedua, pertemuan kedua adalah 100%. Selisih keduanya merupakan hasil belajar siswa adalah 100% - 30% = 70%. Hasil belajar di atas menunjukkan bahwa hipotesis terbukti yaitu telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa SD Negeri Griya Bumi Antapani 14/2 Kelas VI dalam pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat diterapkan teknik observasi.
Kata Kunci: Penelitian tindakan kelas, pembelajaran koperasi, teknik observasi.
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Dalam pembelajaran sehari-hari peneliti telah melaksanakan proses pembelajaran kompetensi dasar pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat sesuai dengan jadwal. Adapun indikator-indikator yang harus dicapai dalam kompetensi dasar tersebut adalah sebagai berikut. (1) Menjelaskan tujuan dan manfaat koperasi; (2) Menceritakan pentingnya usaha bersama melalui koperasi; (3) Membandingkan koperasi dengan jenis usaha lainnya; (4) Memberikan contoh berbagai jenis koperasi; (5) Menceritakan kegiatan salah satu koperasi di sekolah, (Depdiknas,2003:45).
Pembelajaran tersebut telah peneliti laksanakan dengan menerapkan metode ceramah.
Dalam pembelajaran awal peneliti menugasi ketua kelas untuk memimpim membaca doa, kemudian dilanjutkan dengan mengecek kehadiran siswa. Setelah terlihat seluruh siswa siap untuk belajar peneliti memberikan apersepsi melalui pertanyaan-pertanyaan tentang koperasi.
Dalam kegiatan inti peneliti memulai pembelajaran dengan indikator pertama dan kedua yaitu dengan menjelaskan tujuan dan manfaat koperasi dan penjelasan pentingnya usaha bersama melalui koperasi. Sampai di situ, peneliti memberikan kesempatan beberapa waktu kepada para siswa untuk bertanya. Barangkali ada penjelasan peneliti yang belum dipahami. Setelah ditunggu beberapa lama tidak ada seorang siswa pun yang mau bertanya. Kondisi pembelajaran tersebut diduga oleh peneliti bahwa seluruh siswa memahami penjelasan-penjelasan peneliti.
Kemudian pembelajaran dilanjutkan dengan indikator ketiga dan keempat. Peneliti menjelaskan perbandingan koperasi dengan jenis usaha lainnya dan memberikan contoh berbagai jenis koperasi. Peneliti memberikan beberapa waktu kepada para siswa untuk bertanya. Barangkali ada penjelasan peneliti yang belum dipahami. Setelah ditunggu beberapa lama tidak ada seorang siswa pun yang mau bertanya. Kondisi pembelajaran tersebut diduga oleh peneliti bahwa seluruh siswa memahami penjelasan-penjelasan peneliti. Kegiatan selanjutnya peneliti menjelaskan koperasi yang ada di sekolah.
Kegiatan penutup dilaksanakan dengan cara memberikan kesimpulan tentang pembelajaran tersebut dan masih memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk bertanya. Tetapi, kondisinya tetap sama yaitu tidak ada seorang siswa pun yang mau bertanya. Kondisi pembelajaran tersebut diduga oleh peneliti bahwa seluruh siswa telah memahami dengan baik seluruh indikator yang harus dikuasai oleh siswa. Oleh karena itu, maka pembelajaran dinyatakan selesai.
Pada hari berikutnya, sesuai dengan jadwal peneliti melaksanakan ulangan sebagai tes hasil belajar. Adapun soal-soalnya mengacu pada mengacu pada indikator-indikator yang telah dijelaskan pada pembelajaran di atas. Soal-soal tes tersebut adalah sebagai berikut.
(1) Jelaskan tujuan dan manfaat koperasi.
(2) Jelaskan pentingnya koperasi.
(3) Bandingkan koperasi dengan jenis usaha lainnya.
(4) Berikan contoh berbagai jenis koperasi.
(5) Jelaskan kegiatan koperasi sekolah.
Setelah selesai maka hasil kerja siswa tersebut peneliti kumpulkan lalu peneliti nilai. Hasil penilaian tersebut sebagai berikut.
Enam orang siswa yang memperoleh skor 50 dari tiga puluh orang siswa. Delapan belas orang siswa mendapatkan skor 45 dan enam orang siswa lainnya memperoleh skor 40. Jumlah seluruh skor 225 dari 30 siswa. Skor rata-rata hasil belajar yang diperoleh siswa adalah 45. Sedangkan skor kriteria ketercapaian minimal (KKM) yang telah ditetapkan adalah 80 dengan skor maksimal 100. Skor rata-rata hasil belajar tersebut bila dibandingkan dengan skor maksimal terdapat kekurangan skor 42. Kekurangan-kekurangan skor tersebut menunjukkan kegagalan dalam hasil belajar sekaligus kegagalan dalam proses pembelajaran.
Kemudian peneliti melakukan analisis hasil tes dengan tujuan untuk mengetahui soal tes/ indikator mana yang sudah tercapai dan yang masih gagal. Hasil analisis tersebut sebagai berikut.
Jumlah skor yang diperoleh soal nomor 1 adalah 65, skor rata-ratanya adalah 13. Skor maksimal 30, skor KKM 24. Jadi skor yang tercapai adalah 24 – 13 = 11. Jumlah skor yang diperoleh soal nomor 2 adalah 50, skor rata-ratanya adalah 10. Skor maksimal 10, skor KKM 8. Jadi soal nomor 2 telah tercapai. Jumlah skor yang diperoleh soal nomor 3 adalah 35, skor rata-ratanya adalah 7 Skor maksimal 20, skor KKM 16. Jadi skor yang belum tercapai adalah 16 – 7 = 9. Jumlah skor yang diperoleh soal nomor 4 adalah 25, skor rata-ratanya adalah 5. Skor maksimal 20, skor KKM 16. Jadi skor yang belum tercapai adalah 20 – 5 =15.Jumlah skor yang diperoleh soal nomor 5 adalah 50, skor rata-ratanya adalah 10. Skor maksimal 20, skor KKM 16. Jadi skor yang belum tercapai adalah 16 – 10 = 6.
Uraian di atas dapat disimpulkan bahwa skor yang belum mencapai skor KKM dari indikator 1, 2. 3. 4, dan 5 adalah 11, 0, 9, 11, dan 6. Jumlah skor rata-rata seluruh indikator adalah 45 atau 45 %. Skor maksimal yang telah ditetapkan 100 atau 100%. Skor KKM yang telah ditetapkan 80 atau 80 %. Jadi skor rata-rata seluruh indikator yang belum tercapai adalah 80 – 45 = 35 atau 35 %.
Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi kegagalan dalam pencapaian skor KKM apalagi pencapaian skor maksimal.
Selanjutnya peneliti melakukan refleksi bersama tiga orang guru dari sekolah tempat peneliti bekerja untuk mencari penyebab kegagalan tersebut. Hasil refleksi terhadap proses pembelajaran tersebut sebagai berikut. Selama pembelajaran peneliti menjelaskan keempat indikator yang harus dikuasai oleh siswa. Selanjutnya siswa diberi kesempatan untuk bertanya beberapa kali ternyata kesempatan tersebut tidak dimanfaatkan oleh siswa. Seluruh siswa tidak ada yang mau bertanya. Ketika itu peneliti menduga bahwa seluruh siswa sudah menguasai seluruh indikator dengan baik. Tetapi hasil tes menunjukkan kegagalan. Ini berarti bahwa proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh peneliti dengan menerapkan metode ceramah ternyata tidak mampu mencapai skor KKM apalagi mencapai skor maksimal.
Awalnya peneliti menduga bahwa dengan menugasi seluruh siswa untuk meletakkan tangannya di atas meja agar dapat berkonsentrasi mendengarkan penjelasan peneliti dan melarang seluruh siswa untuk mencatat ataupun berkata-kata proses pembelajaran berlangsung efektif dan berdampak pada dapat tercapainya skor KKM bahkan skor maksimal. Tetapi ternyata kebalikannya, hasil belajar tidak mampu mencapai skor KKM apalagi skor maksimal.
Ini berarti, bahwa dalam pembelajaran tersebut telah terjadi kesalahan dalam menggunakan metode. Dengan menggunakan metode ceramah tidak mampu menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan tidak mampu mencapai skor KKM yang ditetapkan. Penggunaan metode cermah dalam pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat terjadi kegagalan dalam proses dan hasil pembelajaran.
Kegagalan tersebut merupakan masalah yang harus segera diatasi. Sebab, pemahaman siswa dalam pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat sangat bermanfaat bagi siswa dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Kemanfaatan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.
Pertama, pemahaman siswa terhadap pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat sebagai dasar dalam mempelajari kompetensi-kompetensi dasar lainnya. Kedua, pemahaman siswa terhadap pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat akan menumbuhkan kesadaran siswa pentingnya koperasi.
2. Masalah dan Pemecahan Masalah
Upaya untuk mengatasi kegagalan tersebut peneliti mempelajari model-model pembelajaran yang bermakna, kreatif, inovatif, menyenangkan, dan dialogis, (Sisdiknas,2003: pasal 40). Salah satu model pembelajaran yang memenuhi kriteria tersebut adalah teknik observasi. “Teknik observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan dan wawancara terhadap objek secara langsung, teliti, dan sistematis,” (Nurgiyantoro, 2001:57). Dengan teknik tersebut, para siswa dalam kelompok melakukan pengamatan terhadap situasi dan kondisi koperasi sekolah dn melakukan wawancara terhadap petugas atau ketua koperasi sekolah tentang hal-hal yang tertulis dalam indikator. Selanjutnya, hasil observasi tersebut dibawa ke kelas unuk didiskusikan dan disusun sebagai laporan hasil belajar.
Pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat cara tersebut, meyakinkan peneliti akan dapat mencapai skor KKM, bahkan skor maksimal dan mampu menciptakan pembelajaran yang bermakna, serta mendorong seluruh siswa untuk kreatif dan inovatif serta belajar dengan senang dan melakukan dialog baik dalam kelompoknya ataupun antar kelompok.
3. Tujuan Penelitian dan Harapan
Tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah ingin meningkatkan hasil belajar siswa SD Negeri Griya Bumi Antapani 14/2 Kelas VI terhadap pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi. Harapan peneliti dari hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan nyata terhadap sekolah tentang pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi, dapat memberikan motivasi terhadap guru-guru di kecamatan Antapani kota Bandung untuk melakukan penelitian tindakan kelas, dan sebagai bahan diseminasi dalam kegiatan rutin KKG kecamatan Antapani kota Bandung tentang pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi di SD Negeri Griya Bumi Antapani 14/2.
B. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi. Penelitian dilakukan hingga dua siklus dengan setiap siklus terdiri dari empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi.
Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase-fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Berikut ini, peneliti menjelaskan kegiatan yang dilakukan pada setiap fase sebagai berikut.
Kegiatan yang dilakukan dalam merencanakan PTK adalah sebagai berikut. (a) Menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi. (b) Membuat pedoman observasi sebagai instrumen untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran. (c) Membuat tugas kelompok yang harus dikerjakan selama proses pembelajaran untuk mengukur tingkat ketercapaian indicator.
Kegiatan melaksanakan PTK adalah melaksanakan pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi dengan berpedoman pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah disusun. Obsevasi atau pengamatan dilakukan oleh tiga orang observer terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti. Observasi ini menggunakan pedoman observasi. Refleksi dilakukan bersama observer dan dilakukan setelah proses pembelajaran siklus pertama berakhir. Hasil refleksi adalah ditemukannya masalah yang menjadi penghambat peningkatan hasil belajar pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan tes hasil belajar. “Observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan terhadap suatu hal secara langsung, teliti, dan sistematis,” (Nurgiyantoro, 2001:57) atau “pengamatan dengan tujuan tertentu,” (Wardani, 2002:2.17). Berdasarkan kedua pendapat tersebut, maka dapat dinyatakan bahwa observasi adalah teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung, teliti, dan sistematis untuk mencapai tujuan tertentu.
Teknik tes yang digunakan adalah tes yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Tes tersebut merupakan pelaksanaan evaluasi proses yaitu evaluasi yang dilaksanakan selama pembelajaran berlangsung. Proses pembelajaran dan evaluasi proses berlangsung secara simultan. Ketika itu, peneliti dapat memberikan motivasi belajar, memberikan bantuan kepada siswa atau kelompok yang mendapatkan kesulitan, dan sekaligus dapat mengecek hasil belajar setiap kelompok.
Data yang digunakan untuk mengukur hasil belajar pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi adalah data dari hasil tes atau hasil kerjasama kelompok siklus pertama dan siklus kedua. Hasil tes tersebut adalah angka, maka teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik kuantitatif.
Teknik kuantitatif yang peneliti gunakan sebagaimana dilakukan dalam pembelajaran sehari-hari dengan cara sebagai berikut. Pertama, peneliti mencari selisih hasil tes siklus kedua dikurangi hasil tes siklus pertama untuk setiap tugas dari setiap kelompok. Kedua, peneliti mencari selisih hasil tes siklus kedua dikurangi hasil tes siklus pertama untuk seluruh tugas dari setiap kelompok. Selisih hasil tes siklus kedua dikurangi hasil tes siklus pertama merupakan hasil belajar (Arikunto,1998:84). Apabila terjadi peningkatan hasil belajar pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi berarti hipotesis terbukti. Atau sebaliknya, jika tidak terjadi peningkatan siswa terhadap pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat melalui teknik observasi, berarti hipotesis tidak terbukti. Ketiga, hasil pengolahan pertama dan kedua tersebut diubah ke dalam bentuk diagram batang dan diagram lingkaran. Hal itu dimaksudkan agar dapat dibaca dengan jelas dan mudah.
C. Hasil Penelitian
1. Hasil Penelitian Siklus I, Pertemuan 1 dan 2
Kegiatan pendahuluan siklus I pertemuan 1 dan pertemuan 2 menggunakan RPP yang sama yaitu RPP yang disusun pada fase merencanakan PTK siklus I. Proses pembelajaran siklus I pertemuan 1 dan pertemuan 2 relatif sama, tetapi dengan hasil tes yang pasti berbeda. Mengingat tempat yang sangat terbatas dan sesuai dengan kebutuhan dalam laporan hasil mengolahan data, maka dalam jurnal ini hanya dilaporkan hasil penelititan pertemuan 1 sedangkan dalam siklus II hanya dilaporkan pertemuan 2 saja. Sebab, selisih hasil tes siklus II pertemuan 2 dengan hasil tes siklus I pertemuan 2 merupakan hasil belajar, (Arikunto, 1998:84).
Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan peneliti menjelaskan manfaat mempelajari konpetensi dasar pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat. Peneliti berkata, “Pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat adalah sebagai berikut. Pertama, sebagai dasar bagi kalian untuk mempelajari kompetensi-kompetensi dasar lainnya. Kedua, pemahaman siswa terhadap pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat akan menumbuhkan kesadaran siswa pentingnya koperasi. Selanjutnya, penjelasan di atas dituliskan di papan tulis.
Selama peneliti menjelaskan manfaat mempelajari kompetensi dasar tersebut, terlihat para siswa antusias untuk memahami pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat. Terlihat mereka tertarik akan pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat. Selanjutnya, peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan tentang pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat. Tetapi, tidak ada seorang siswa pun yang bertanya. Kemudian peneliti bertanya lagi, “Apakah kalian sudah paham?” Secara serempak para siswa menjawab, “Paham!” “Terima kasih,” jawab peneliti.
Selanjutnya, peneliti membentuk kelompok dengan cara menyebutkan nama-nama siswa yang manjadi anggota kelompok 1, 2, 3, 4, dan 5. Setiap kelompok beranggotakan enam orang yang terdiri atas siswa yang cedas, sedang, dan kurang dalam mata pelajaran IPS. Setelah pembentukan kelompok selesai, pembelajaran dilanjutkan pada kegiatan inti.
Kegiatan Inti
Peneliti memulai kegiatan inti dengan memberikan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan oleh setiap kelompok yaitu melakukan observasi di koperasi sekolah. Peneliti berkata, ”Anak-anak sekarang kalian akan mempelajari kompetensi dasar tentang pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat dengan cara kalian melakukan observasi di koperasi sekolah. Observasi yang akan kalian lakukan itu dengan menggunakan pedoman observasi yang akan Ibu bagikan.”
Selanjutnya, peneliti membagikan pedoman observasi kepada setiap kelompok. Dan peneliti mempersilakan setiap kelompok untuk mempelajari pedoman observasi tersebut. Setelah beberapa lama, peneliti memberikan partanyaan, ”Apakah ada yang perlu kalian tanyakan tentang tugas-tugas itu?” Ternyata, tidak ada siswa yang mau bertanya. Selanjutnya, peneliti memberikan penjelasan tentang tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh siswa dalam pembelajaran ini. ”Anak-anak kalian belajar dalam kelompok. Setiap kelompok diberi tugas yang sama yaitu melakukan observasi di koperasi sekolah.
”Adapun caranya adalah sebagai berikut. Setiap kelompok dibagi menjadi dua kecil. Tugas kelompok kecil yang satu melakukan pengamatan dan pencatatan barang yang dijual di koperasi sekolah dan kelompok kecil yang kedua melakukan wawancara dengan petugas koperasi yaitu pak Andi atau ketua koperasi yaitu bu Wina dengan menggunakan pedoman observasi yang telah dibuat oleh peneliti. Karena itu sekarang kalian ke ruang koperasi dan minta menyampaikan maksud kalian yaitu akan melakukan pengamatan dan wawancara dengan petugas atau ketua koperasi.” Setelah seluruh siswa menyatakan memahami akan tugas masing-masing selanjutnya mereka ditugasi menuju ke ruang koperasi untuk melaksanakan tugasnya.”
Seluruh siswa dalam kelompok keluar dari ruang belajar menuju ke ruang koperasi. Sampai di sana mereka mengucapkan salam dan disambut oleh ketua koperasi yaitu bu Wina. Terlihat mereka bersalaman dan menyampaikan tujuannya. Kemudian mereka langsung melaksankan tugasnya. Sebagian dari mereka melihat dan mencatat barang dagangan yang dijual oleh koperasi dan sebagian yang lainnya melaksanakan wawancara dengan bu Wina. Mereka menanyakan kepada bu Wina tentang (1) tujuan dan manfaat koperasi. (2) Pentingnya koperasi bagi para anggotanya. (3) Persamaan dan perbedaan koperasi dengan jenis usaha lainnya. (4) Jenis koperasi di sekolah dan jenis koperasi yang lainnya. (5) Kegiatan yang dilakukan oleh koperasi sekolah. Setelah mereka selesai melaksanakan observasi lalu mereka kembali ke kelas.
Sampai di kelas mereka duduk berkelompok dan peneliti menjelaskan tugas berikutnya. Peneliti menjelaskan bahwa tugas mereka selanjutnya adalah mendikusikan hasil observasi sebagai laporan hasil belajar. Selanjutnya, laporan tersebut dibacakan di depan kelas untuk ditanggapi dan dinilai oleh kelompok lain. Ketika para siswa melakukan observasi dan menyusun laporan hasil observasi, peneliti melakukan penilaian realistik dengan cara membimbing dan memberikan bantuan seperlunya kepada siswa yang membutuhkan serta melihat atau menegcek hasil observasi dan laporan hasil observasinya.
Setelah setiap kelompok selesai mengerjakan tugas-tugas tersebut selanjutnya, hasil kerja kelompok dilaporkan di depan kelas dan ditanggapi serta dinilai oleh kelompok lain. Hasil penilaian kerja kelompok pertemuan 1 dijelaskan pada tabel 4.1, sedangkan hasil penilaian kerja kelompok pertemuan 2 dijelaskan pada tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.1
Penilaian Hasil Kerjasama Kelompok Siklus Pertama
Pertemuan Kesatu
Tabel 4.2
Penilaian Hasil Kerjasama Kelompok Siklus Pertama
Pertemuan Kedua
Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup dilakukan dengan menugasi setiap kelompok untuk memberikan masukan mengenai manfaat pembelajaran, bahan ajar, proses pembelajaran, dan sistem penilaian yang baru dilakukannya sebagai refleksi. Masukan-masukan dari beberapa siswa isinya sama yaitu meminta agar pembelajaran komptensi dasar yang lain pun dilaksanakan pembelajaran yang seperti ini.
Selanjutnya peneliti menegaskan tentang pernyataan mereka itu dengan mengajukan pertanyaan, “Anak-anak benarkah yang disampaikan oleh beberapa temanmu itu?” Mereka secara serempak menjawab, “Benar Bu.” Peneliti menegaskan lagi dengan pertanyaan,” Apakah semua siswa setuju belajar engan cara ini?” Sekali lagi mereka menjawab,”Setuju!”
2. Deskripsi Hasil Refleksi Siklus I
Hasil Refleksi
Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap soal/ indikator oleh seluruh kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator 1 adalah 7. Skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Skor rata-rata soal/ indikator 1 bila dibandingkan dengan skor maksimal masih kurang 13 dan bila dibandingkan dengan skor KKM masih kurang 11. Jadi soal/ indikator 1 dinyatakan belum tercapai.
Skor ketercapaian rata-rata soal/ indikator 2 adalah 8. Skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Skor rata-rata soal/ indikator 2 bila dibandingkan dengan skor maksimal masih kurang 18 dan bila dibandingkan dengan skor KKM masih kurang 10. Jadi soal/ indikator 2 dinyatakan belum tercapai.
Skor ketercapaian rata-rata soal/ indikator 3 adalah 8. Skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Skor rata-rata soal/ indikator 3 bila dibandingkan dengan skor maksimal masih kurang 18 dan bila dibandingkan dengan skor KKM masih kurang 10. Jadi soal/ indikator 3 dinyatakan belum tercapai.
Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator 4 adalah 7. Skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Skor rata-rata soal/ indikator 4 bila dibandingkan dengan skor maksimal masih kurang 13 dan bila dibandingkan dengan skor KKM masih kurang 11. Jadi soal/ indikator 4 dinyatakan belum tercapai.
Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator 5 adalah 7. Skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Skor rata-rata soal/ indikator 5 bila dibandingkan dengan skor maksimal masih kurang 13 dan bila dibandingkan dengan skor KKM masih kurang 11. Jadi soal/ indikator 5 dinyatakan belum tercapai.
Jumlah seluruh skor yang telah dicapai oleh seluruh soal/indikator adalah 37 atau 37%. Bila dibandingkan dengan skor maksimal yaitu skor 100 atau 100% maka terdapat kekurangan skor 63 atau 63%. Bila dibandingkan dengan skor KKM yaitu 90 atau 90%, maka terdapat kekurangan skor 53 skor atau 53%.
Berdasarkan uraian data di atas dapat dijelaskan bahwa seluruh soal/ indikator masih menjadi masalah dan harus dicarikan penyebab serta solusinya.
Penyebab Kegagalan Siklus Pertama
Kegagalan pembelajaran tersebut disebabkan oleh proses pembelajaran yang telah dilakukan oleh para siswa pada siklus pertama, pertemuan kesatu dan pertemuan kedua. Sebab-sebab kegagalan tersebut adalah sebagai berikut. Penyebab kegagalan pertama, dalam proses pembelajaran tersebut peneliti memberikan penjelasan tentang tugas kelompok kecil yang satu melakukan pengamatan dan pencatatan barang yang dijual di koperasi sekolah dan kelompok kecil yang kedua melakukan wawancara dengan petugas koperasi dengan menggunakan pedoman observasi. Penjelasan peneliti di atas memang sulit untuk dipahami oleh siswa. Karena penjelasan peneliti tersebut bersifat umum belum secara rinci.
Penyebab kegagalan kedua adalah perkataan peneliti bahwa peneliti menugasi para siswa untuk menyampaikan maksud kalian yaitu akan melakukan pengamatan dan wawancara dengan petugas atau ketua koperasi. Kalimat ini memang sangat sulit untuk dipahamileh para siswa. Siswa merasa kebingungan dengan kalimat tersebut. Mereka merasa bingung tentang menyampaikan maksud kalian yaitu akan melakukan pengamatan dan wawancara dengan petugas atau ketua koperasi.
Penyebab kegagalan ketiga adalah ketika siswa melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap barang-barang yang dijual oleh koperasi dan ketika para siswa melakukan tanya jawab dengan berpedoman pada pedoman wawancara, peneliti memberikan bantuan seperlunya kepada siswa yang terlihat membutuhkan bantuan. Sedangkan banyak siswa yang membutuhkan bantuan tetapi tidak terlihat oleh peneliti. Sehingga mereka banyak melakukan kesalahan dan tidak terpantu oleh peneliti.
Solusi untuk Mengatasi Masalah Siklus Pertama
Di atas telah dijelaskan bahwa terdapat tiga penyebab kegagalan siswa dalam pembelajaran siklus pertama sebagai berikut. Penyebab kegagalan pertama adalah penjelasan peneliti tentang tugas-tugas kelompok kecil dalam melakukan pengamatan dan pencatatan barang yang dijual di koperasi sekolah dan melakukan wawancara dengan petugas koperasi sulit untuk dipahami oleh siswa. Karena penjelasan peneliti tersebut bersifat umum belum secara rinci.
Maka, solusi untuk mengatasinya adalah peneliti harus memberikan penjelasan secara rinci tentang tugas tentang melakukan pengamatan dan pencatatan barang yang dijual di koperasi sekolah dan melakukan wawancara dengan petugas koperasi. Selain itu peneliti harus memberi waktu kepada siswa yang agak lama untuk bertanya.
Penyebab kegagalan kedua adalah tugas yang disampaikan oleh peneliti kepada para siswa dengan kalimat sebagai berikut. “Kalian ditugasi untuk menyampaikan maksud yaitu akan melakukan pengamatan dan wawancara dengan petugas atau ketua koperasi.” Kalimat ini memang sangat sulit untuk dipahami oleh para siswa. Siswa merasa kebingungan dengan kalimat tersebut. Mereka merasa bingung tentang pengertian menyampaikan maksud kalian yaitu akan melakukan pengamatan dan wawancara dengan petugas atau ketua koperasi.
Maka, solusi untuk mengatasi penyebab kegagalan tersebut adalah dengan memperbaiki kalimat tugas di atas sebagai berikut. Para siswa diberi tugas pertama menyampaikan salam dan maksud kunjungan ini adalah untuk melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap barang-barang yang dijual di koperasi ini. Tugas kedua adalah mohon kesediaan Bapak atau Ibu petugas koperasi untuk dapat memberikan penjelasan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikan oleh para siswa tenang koperasi sekolah.
Penyebab kegagalan ketiga adalah ketika siswa melakukan pengamatan dan pencatatan terhadap barang-barang yang dijual oleh koperasi dan ketika para siswa melakukan tanya jawab, peneliti hanya memberikan banuan kepada sebagian kecil siswa saja. Sehingga banyak siswa yang sebenarnya membutuhkan bantuan tetapi tidak memperoeh pelayanan dari peneliti. Akibatnya, mereka banyak melakukan kesalahan dan tidak terpantu oleh peneliti.
Maka, solusi untuk mengatasi penyebab kegagalan tersebut adalah peneliti harus memantau seluruh siswa ketika melakukan pengamatan dan wawancara di koperasi. Sehingga setiap siswa ang membutuhkan bantuan dapat terlayani.
Selanjutnya solusi di atas akan peneliti gunakan untuk memperbaiki RPP siklus pertama dan akan digunakan sebagai RPP siklus kedua serta akan digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan perbaikan pembelajaran pada siklus kedua pertemuan kesatu dan pertemuan kedua.
3. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II Pertemuan 1 dan 2
Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan peneliti mengulang menjelaskan manfaat mempelajari kompetensi dasar pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat. Lalu menuliskannya di papan tulis.Selanjutnya, peneliti menugasi seluruh siswa untuk kembali kepada kelompoknya masing-masing dan kegiatan dilanjutkan pada kegiatan inti.
Kegiatan Inti
Peneliti memulai kegiatan inti dengan memberikan penjelasan tentang kegiatan yang akan dilakukan oleh setiap kelompok yaitu melakukan observasi di koperasi. Peneliti berkata, ”Anak-anak sekarang kalian akan mempelajari kompetensi dasar yang sama yaitu tentang pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat dengan cara melakukan observasi di koperasi sekolah.” Selanjutnya, peneliti menjelaskan, ” Dalam melakukan observasi ini setiap kelompok akan dibagi menjadi dua kelompok kecil yang masing-masing beranggotakan dua atau tiga orang. Oleh karena itu sekarang kalian membagi kelompok masing-masing menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ibu beri nama kelompok A dan yang kedua diberi nama kelompok B. Selanjutnya, kelompok A Bapak beri tugas untuk melakukan pengamatan terhadap barang-baran yang dijual di koperasi lalu catatlah. Ada yang belum jelas? Silakan tanyakan. Dan ternyata, setelah ditunggu sampai cukup lama tetapi tidak ada yang mau bertanya. Untuk lebih meyakinkan peneliti, maka peneliti menjelaskan lagi tugas kelomok A. Tugas kelompok A adalah mengamati dan mencatat barang-barang yang dijual di koperasi.
Selanjutnya, peneliti menjelaskan tugas kelompok B. ”Tugas kelompok B adalah melakukan tanya jawab dengan petugas koperasi dan hasilnya dicatat. Untuk memudahkan dalam melakukan wawancara, maka kelompok B dibagi dua. Silakan, kalian bagi dua kelompok kalian. Setelah selesai pembagian kelompok. Lalu peneliti melanjutkan penjelasannya ”Satu orang bertugas melakukan tanya jawab dengan pak Andi atau bu Wina dengan berpedoman pada pedoman ini. Dua orang siswa lainnya mencatat jawaban-jawaban dari pak Andi atau bu Wina.”
Untuk lebih meyakinkan diri peneliti mengulangi tugas kelompok B, ”Satu orang bertugas melakukan tanya jawab dengan pak Andi atau bu Wina dengan berpedoman pada pedoman ini. Dua orang siswa lainnya mencatat jawaban-jawaban dari pak Andi atau bu Wina.” Bagi kelompok penanya, ”Kalian tanyakan kepada pak Andi atau bu Wina tentang (1) tujuan dan manfaat koperasi. (2) Pentingnya koperasi bagi para anggotanya. (3) Persamaan dan perbedaan koperasi dengan jenis usaha lainnya. (4) Jenis koperasi di sekolah dan jenis koperasi yang lainnya. (5) Kegiatan yang dilakukan oleh koperasi sekolah. Kelompok pencatat, mencatat penjelasan –penjelasan dari pak Andi atau bu Wina tersebut. Kalian mengerti? Jawab siswa secara serempak, ”Mengerti...,Pak.” Baik dan terima kasih.”
Selanjutnya peneliti menjelaskan tentang apa yang dilakukan oleh siswa ketika sampai di koperasi. Peneliti menjelaskan, ” Ketika kalian sampai di koperasi kalian mengucapkan salam lalu menjelaskan maksud dan tujuannya. Kalian Perkenalkan diri siswa dari kelas enam yang sedang belajar tentang koperasi. Kalian minta izin pada petugas koperasi pak Andi atau bu Wina bahwa pertama kalian akan melakukan pengamatan dan pencatatan barang-barang yang dijual di koperasi. Kedua, kalian minta kesediaan pak Andi atau bu Wina untuk memberikan penjelasan tentang koperasi sekolah ini. Tugas ini Bapak berikan pada Damar sebagai ketua kelas untuk melakukan yang Bapak jelaskan tadi. Damar, Kamu mengerti apa yang Bapak jelaskan tadi.” Damar menjawab, ”Saya paham, Pak.” ”Terima kasih Damar.”
Setelah penjelasan yang perlu disampaikan dipahami oleh siswa lalu mereka dipersilakan menuju ke koperasi dipimpin oleh Damar. Peneliti pun mengikuti mereka dari belakang sambil membimbing.
Sampai di koperasi Damar tampil ke depan menemui pak Andi dan bu Wina untuk menyampaikan maksudnya dan Bu Wina pun mempersilakan para siswa untk melakukan tugasnya masing-masing. Para siswa terbagi ke dalam dua kelompok. Kelompok A melakukan pengamatan dan pencatatan barang-barang yang dijual di koperasi. Kelompok B pun terbagi dua. Ada seorang siswa yang melakukan wawancara dengan pak Andi dan anggota lainnya melakukan pencatatan. Sementara itu seorang siswa yang lainnya melakukan wawancara dengan bu Wina dan anggota lainnya melakukan pencatatan.
Mereka menanyakan kepada pak Andi dan bu Wina tentang (1) tujuan dan manfaat koperasi. (2) Pentingnya koperasi bagi para anggotanya. (3) Persamaan dan perbedaan koperasi dengan jenis usaha lainnya. (4) Jenis koperasi di sekolah dan jenis koperasi yang lainnya. (5) Kegiatan yang dilakukan oleh koperasi sekolah. Peneliti memantau seluruh siswa ketika melakukan pengamatan dan wawancara di koperasi. Sehingga setiap siswa yang membutuhkan bantuan dapat terlayani.
Setelah observasi selesai, seluruh siswa diminta untuk kembali kelas. Sampai di kelas siswa duduk per kelompok. Selanjutnya peneliti menjelaskan, ” Tugas kalian selanjutnya adalah mendikusikan hasil observasi sebagai laporan hasil belajar. Selanjutnya, laporan tersebut dibacakan di depan kelas untuk ditanggapi dan dinilai oleh kelompok lain. Ketika para siswa menyusun laporan hasil observasi, peneliti melakukan penilaian realistik dengan cara membimbing dan memberikan bantuan seperlunya kepada siswa yang membutuhkan serta melihat atau menegcek hasil observasi dan laporan hasil observasinya.
Setelah setiap kelompok selesai mengerjakan tugas-tugas tersebut selanjutnya, hasil kerja kelompok dilaporkan di depan kelas dan ditanggapi serta dinilai oleh kelompok lain. Hasil penilaian kerja kelompok tersebut seperti pada tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3
Penilaian Hasil Kerjasama Kelompok Siklus Kedua
Pertemuan Kedua
Kegiatan Penutup
Kegiatan penutup dilakukan dengan menugasi setiap kelompok untuk memberikan masukan mengenai manfaat pembelajaran, bahan ajar, proses pembelajaran, dan sistem penilaian yang baru dilakukannya sebagai refleksi. Masukan-masukan dari beberapa siswa isinya sama yaitu meminta agar pembelajaran komptensi dasar yang lain pun dilaksanakan pembelajaran yang seperti ini.
Selanjutnya peneliti menegaskan tentang pernyataan mereka itu dengan mengajukan pertanyaan, “Anak-anak benarkah yang disampaikan oleh beberapa temanmu itu?” Mereka secara serempak menjawab, “Benar Pak.” Peneliti menegaskan lagi dengan pertanyaan,” Apakah semua siswa setuju belajar engan cara ini?” Sekali lagi mereka menjawan,”Setuju!”
Refleksi Siklus Kedua
Refleksi siklus kedua, pertemuan II dilakukan bersama ketiga observer. Kegiatan ini bertujuan untuk mencari dan menemukan indikator- indikator yang telah tercapai dan yang belum tercapai dalam pembelajaran pertemuan kedua. Adapun caranya adalah dengan membandingkan ketercapaian rata-rata skor setiap soal/ indikator dan ketercapaian rata-rata skor setiap kelompok pada pertemuan kedua dengan kriteria ketercapaian minimal (KKM) yang telah ditetapkan sebelumnya. Selanjutnya, peneliti mencari penyebab dan solusi untuk mengatasinya.
Hasil Refleksi Siklus Kedua
Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap soal/ indikator oleh seluruh kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator 1 adalah 20. Rata-rata skor tersebut telah melebihi skor KKM yang telah ditetapkan yaitu 18. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator 1 telah mencapai skor maksimal yaitu 20. Jadi soal/ indikator 1 dinyatakan telah tercapai. Skor ketercapaian rata-rata soal/ indikator 2 adalah 20, skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Jadi soal/ indikator 2 dinyatakan telah tercapai. Skor ketercapaian rata-rata indikator 3 adalah 20, skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Jadi soal/ indikator 3 dinyatakan telah tercapai. Skor ketercapaian rata-rata soal/ indikator 4 adalah 20. skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Jadi soal/ indikator 4 dinyatakan telah tercapai.
Skor ketercapaian rata-rata soal/ indikator 5 adalah 20. skor maksimal yang telah ditetapkan adalah 20 dan KKM-nya adalah 18. Jadi soal/ indikator 5 dinyatakan telah tercapai. Jumlah seluruh skor yang telah dicapai oleh seluruh soal/indikator adalah 100 atau 100%. Bila dibandingkan dengan skor maksimal yaitu skor 100 atau 100% maka seluruh soal/indikator telah tercapai dan penelitian dinyatakan selesai.
D. Pembahasan Hasil Penelitian
Pembahasan Hasil Belajar setiap Indikator
Hasil belajar setiap indikator adalah selisih prosentasi hasil tes siklus kedua, pertemuan kedua dikurangi prosentasi hasil tes siklus pertama, pertemuan pertama setiap indikator. Prosentasi hasil tes siklus kedua, pertemuan kedua indikator 1, 2, 3, 4 dan 5 adalah 100%, 100%, 100%,100%, dan 100%. Sedangkan prosentasi hasil tes siklus pertama, pertemuan kesatu indikator 1, 2, 3, 4, dan 5 adalah 33, 38, 33, 32, dan 32.
Hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa setiap indikator adalah sebagai berikut. Hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa dari indikator 1 adalah 100% - 38 % = 62 %; indikator 2 adalah 100% - 38% = 62%; indikator 3 adalah 100% - 33% = 67%; indikator 4 adalah 100% - 32% = 68%. dan indikator 5 adalah 100% - 32% = 68%.
Berdasarkan perhitungan di atas dapat dinyatakan bahwa hasil belajar yang dicapai oleh siswa pada indikator 1,2,3, 4, dan 5 adalah 62%, 62%, 67%, 68%, dan 62 %,
Selanjutnya hasil belajar di atas diubah ke dalam bentuk diagram batang sebagai berikut.
Diagram 4.1
Hasil Belajar Indikator 1, 2, 3, 4, dan 5
Perbandingan hasil belajar indikator 1: 2 : 3 : 4 : 5 yang dicapai siswa adalah 62: 62:67 : 68 : 68 = 327. Prosentasi yang dapat dIcapai dari indikator 1 adalah (62 : 327) x 100% = 19 %; indikator 2 adalah (62 : 327) x 100% = 19 %;; indikator 3 adalah (67 : 327) x 100% = 20 %; indikator 4 adalah (68 : 327) x 100% = 21 %; dan indikator 5 adalah (68 : 327) x 100% = 21 %. Selanjutnya, perbandingan hasil belajar indikator 1:2:3:4:5 adalah 19% : 19% : 20% : 21% : 21% diubah menjadi diagram lingkaran sebagai berikut.
Diagram 4.2
Perbandingan Hasil Belajar Indikator 1, 2, 3, 4, dan 5
Pembahasan Hasil Belajar Seluruh Indikator
Prosentasi hasil tes siklus pertama, pertemuan kesatu seluruh indikator adalah 30%, sedangkan hasil tes siklus kedua, pertemuan kedua adalah 100%. Selisih keduanya merupakan hasil belajar siswa adalah 100% - 30% = 70%.
Selanjutnya, data di atas diubah menjadi diagram batang sebagai berikut.
Diagram 4.3
Perbandingan Hasil Tes dan Hasil Belajar Seluruh Indikator
Perbandingan hasil tes siklus pertama, pertemuan pertama dengan hasil tes siklus kedua, pertemuan kedua, dan hasil belajar adalah 30% : 100% : 70% = 200%. Prosentasi hasil tes siklus pertama, pertemuan pertama adalah (30 : 200) X 100% = 15 %. Prosentasi hasil tes siklus kedua, pertemuan kedua adalah (100 : 200)X 100% = 50%. Prosentasi hasil belajarnya adalah (70 :200) X 100% = 35%.
Berdasarkan hasil perhitungan di atas, maka dapat ditentukan perbandingan antara hasil tes siklus pertama, pertemuan pertama dengan hasil tes siklus kedua, pertemuan kedua, serta hasil belajarnya adalah 15 : 50 : 35. Selanjutnya hasil perbandingan tersebut diubah menjadi diagram lingkaran sebagai berikut.
Diagram 4.4
Perbandingan Prosentasi Hasil Tes dan Hasil Belajar
Seluruh Indikator
E. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa setiap indikator adalah sebagai berikut. Hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa dari indikator 1 adalah 100% - 38 % = 62 %; indikator 2 adalah 100% - 38% = 62%; indikator 3 adalah 100% - 33% = 67%; indikator 4 adalah 100% - 32% = 68%. dan indikator 5 adalah 100% - 32% = 68%. Berdasarkan perhitungan di atas dapat dinyatakan bahwa hasil belajar yang dapat dicapai oleh siswa pada indikator 1,2,3, 4, dan 5 adalah 62 %, 62 %, 67%, 68%, dan 68%.
Prosentasi hasil tes siklus pertama, pertemuan kesatu seluruh indikator adalah 30%, sedangkan hasil tes siklus kedua, pertemuan kedua adalah 100%. Selisih keduanya merupakan hasil belajar siswa adalah 100% - 30% = 70%.
Hasil belajar di atas menunjukkan bahwa hipotesis terbukti yaitu telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa SD Negeri Griya Bumi Antapani 14/2 Kelas VI dalam pembelajaran pentingnya koperasi dalam melayani ekonomi rakyat diterapkan teknik observasi.
2. Saran
a) Peneliti mengharapkan agar hasil penelitian ini sebagai motivator bagi guru-guru di kecamatan Antapani, kota Bandung untuk melakukan penelitian tindakan kelas.
b) Peneliti mengharapkan agar kelompok kerja guru (KKG) Kecamatan Antapani, kota Bandung dapat memanfaatkan hasil penelitian ini sebagai bahan diseminasi tentang pembelajaran koperasi dalam melayani ekonomi rakyat diterapkan teknik observasi.
c) Peneliti mengharapkan agar hasil penelitian ini dapat ditindaklanjuti oleh pengawas sekolah dan atau oleh kepala seksi pendidikan dasar demi kemajuan pendidikan di kota Bandung.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Asyari.dkk. (2005) Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial. Jakarta:Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional (2003) Standar Kompetensi Mata Pelajaran
Pendidikan Kewarganegaraan dan Pengetahuan Sosial Jakarta: Depdiknas.
Kardiman. (2006). Pengetahuan Sosial. Jakarta:Erlangga.
Nurgiyantoro, B. (2001). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta BPFE.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Bandung : Nuansa Aulia.
Wardani, (2002), Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Universitas Terbuka
Penulis: adalah Kepala SD Negeri Griya Bumi Antapani 14/2
PENTINGNYA KOPERASI
Posted by David Sigalingging, S.Pd on Minggu, 24 Oktober 2010
Blog, Updated at: 04.07
0 komentar:
Posting Komentar
Komentari