bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online
bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Metode Inkuiri

Posted by David Sigalingging, S.Pd on Minggu, 24 Oktober 2010

Upaya Peningkatan Pemahaman Arti Pecahan dan Urutannya Melalui Metode Inkuiri di SDN 1 Cijerah Kelas IV

Oleh: Tati Sugiharti,S.Sos.

 

Abstrak
Prosedur penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran arti pecahan dan urutannya melalui metode inkuiri di SDN 1 Cijerah kelas IV Kecamatan Bandung Kulon Kota Bandung dilakukan hingga dua siklus. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan  (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap pembelajaran arti pecahan dan urutannya melalui metode inkuiri. Fase dalam siklus pertama dirancang dari hasil refleksi kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan teknik tes. Hasil penelitian berupa data sebagai berikut ini. Selisih nilai hasil tes siklus kedua pertemuan kedua dikurangi  nilai hasil tes siklus pertama pertemuan kesatu yaitu untuk nomor soal 1 : 2 : 3 : 4 : 5 adalah 0,72: 1,72: 2,57: 4,86: 5,14  atau 5 %: 12%:  17%:  32%:  34%.  Nilai rata hasil tes siklus kedua pertemuan kedua adalah 6,4. Nilai rata hasil tes siklus pertama pertemuan kesatu mencapai rata-rata 3,4. Selisih pencapaian tersebut merupakan hasil belajar yaitu 3. Perbandingan prosentase kemampuan menjelaskan arti pecahan dan urutannya pada siklus pertama pertemuan kesatu dan siklus kedua pertemuan kedua adalah 3,4 : 6,4 atau 34,7%: 65,3%. Selisih prosentase tersebut adalah 30,6%. Hasil  tersebut menunjukkan telah terjadi peningkatan pemahaman siswa untuk seluruh tugas. Kemampuan menjelaskan arti pecahan dan urutannya pada kelompok 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 adalah 3,8: 2,8: 2,4: 2,8: 3,2: 3,6: 2,6. Prosentase peningkatan kemampuan menjelaskan arti pecahan dan urutannya setiap kelompok tersebut sebagai berikut;  kelompok 1 adalah 18%, kelompok  2 adalah 13%, kelompok 3 adalah 12%, kelompok 4 adalah 13%, kelompok 5 adalah 15%, kelompok 6 adalah 17% dan kelompok 7 adalah 12 %. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hipotesis terbukti yaitu  dengan menggunakan metode inkuiri dalam pembelajaran arti pecahan dan urutannya, pemahaman siswa  dapat meningkat.

Kata Kunci:  Penelitian tindakan kelas, metode inkuiri, pembelajaran arti pecahan dan urutannya, pemahaman siswa.

A. Pendahuluan


 

1.    Latar Belakang Penelitian

Dalam pembelajaran sehari-hari telah dilaksanakan proses pembelajaran kompetensi dasar menjelaskan arti pecahan dan urutannya,  dengan indikator 1) mengenal arti pecahan sebagai sesuatu yang tidak utuh, 2) menyatakan pecahan secara visual, 3) menuliskan letak pecahan  pada garis bilangan, 4) membandingkan dua pecahan, urutannya pecahan berpenyebut sama, (Depdiknas, 2003: 37 ). Kompetensi Dasar (KD) tersebut sudah diajarkan pada siswa, dengan waktu pembelajaran selama empat jam pelajaran dibagi dua kali pertemuan, masing-masing dua jam pelajaran . Pada kegiatan awal pembelajaran, dilakukan apersepsi dengan bernyanyi bersama, setiap siswa diberi potongan kertas yang berisi nyanyian dengan lirik lagu “Salam” diubah liriknya sesuai dengan KD, Agar mereka dapat bernyanyi secara kompak, setiap siswa diberi catatan lirik lagu. Setelah kegiatan apersepsi, dilakukan pembelajaran sebagai kegiatan inti.

Pada kegiatan inti ini digunakan metode ceramah dan bertanya jawab. Untuk menjelaskan pengertian pecahan digunakan kertas dari buku tulis. Bersama itu siswa juga melipat kertas untuk menunjukkan harga suatu pecahan yang diinginkan oleh peneliti. Setelah menggambarkan nilai suatu pecahan, kepada siswa diberi contoh tentang urutan pecahan yang berpenyebut sama, lalu mereka juga membandingkannya.

Pada kegiatan akhir, diajukan pertanyaan kepada beberapa siswa yang temasuk kelas atas mengenai materi yang telah disampaikan. Setelah itu siswa diminta  untuk menyimpulkan pembelajaran. Dari enam orang siswa yang diberi pertanyaan,  empat orang dapat menjawab pertanyaan dengan benar dan dua orang memberikan jawaban yang salah. Kesimpulan diambil berdasarkan pendapat siswa, namun siswa belum menyimpulkan secara benar sehingga mereka dibantu memperbaiki kesimpulannya.

Pada akhir pembelajaran, kepada siswa diberikan test tertulis dengan soal-soal yang menyangkut semua indikator, yaitu menyatakan beberapa bagian dari keseluruhan ke bentuk pecahan sebanyak satu soal, menyajikan pecahan melalui gambar sebanyak dua soal, menuliskan pecahan pada garis bilangan sebanyak tiga soal, membandingkan dua pecahan sebanyak dua soal, dan urutannya pecahan berpenyebut sama sebanyak dua soal, sehingga jumlah seluruh soal ada sepuluh butir. Soal diberikan dalam Bentuk Uraian Terstruktur (BUO).

2.    Masalah dan Pemecahan Masalah

Data hasil test menunjukkan bahwa soal nomor satu (indikator pertama),  soal nomor  dua dan tiga (indikator ke-dua), soal nomor tujuh dan delapan (indikator ke-empat), soal nomor sembilan dan sepuluh (indikator ke-lima) dijawab benar kurang dari 50 % dari siswa yang ada, sementara yang mencapai di atas 50 % benar hanya indikator ke-tiga. Nilai rata-rata perolehan hasil test siswa hanya 4,3, padahal Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) KD tersebut adalah 7,5 dengan demikian KD gagal dicapai dan manjadi masalah dan harus dipecahkan.

Dari hasil membaca buku-buku tentang metode mengajar ditemukan  metode inquiri. Metode inkuiri bertitik tolak dari suatu keyakinan dalam rangka perkembangan murid secara independen. Metode tersebut membutuhkan partisipasi aktif dalam penyelidikan secara ilmiah. (Sudjana, 2001.35). Suchman dalam Sudjana menyatakan bahwa tujuan umum dari latihan inkuiri ialah  untuk menolong siswa mengembangkan disiplin intelektual dan keterampilan yang dibutuhkan dengan memberikan pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka (2001.35). Karakteristik metode ini dinilai cocok untuk diterapkan dalam mengajarkan KD mengenal dan menggunakan pecahan dalam pemecahan masalah. Dengan metode ini maka rasa ingin tahu siswa dikembangkan, sehingga mereka mengetahui bagaimana menyatakan beberapa bagian dari keseluruhan ke bentuk pecahan, menyajikan pecahan melalui gambar, menuliskan pecahan pada garis bilangan, membandingkan pecahan berpenyebut sama, urutannya pecahan berpenyebut sama. Berangkat dari  asumsi tersebut dilakukanlah pnelitian tindakan kelas dengan judul, “Upaya Meningkatkan Pemahaman Arti Pecahan dan Urutannya Melalui Metode Inkuiri di Kelas IV SDN Cijerah I Kecamatan Bandungkulon Kota Bandung.”

3.    Tujuan Penelitian dan Harapan

Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap arti pecahan dan urutannya melalui penerapan metode inkuiri.  Hasil penelitian akan digunakan sebagai pedoman dalam mengajarkan KD pecahan dan urutannya di SDN Cijerah 1 kelas IV. mempunyai acuan mengajar KD menjelaskan arti pecahan dan urutannya  di kelas IV tahun-tahun yang akan datang. Dengan demikian dapat diharapkan hasil penelitian akan memberikan manfaat bagi siswa SDN Cijerah 1 kelas IV dalam mempelajari KD dimaksud. Hasil penelitian juga diharapkan menjadi motivator bagi teman-teman peneliti untuk mau melaksanakan PTK.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran arti pecahan dan urutannya melalui metode inkuiri dilakukan oleh peneliti sampai dua siklus. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan  (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap arti pecahan dan urutannya melalui metode inkuiri. Fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi  kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Berikut ini, peneliti menjelaskan kegiatan yang dilakukan pada setiap fase sebagai berikut.

Merencanakan PTK

Dalam tahap ini disusun segala hal yang harus dipenuhi untuk melaksanakan PTK yaitu sebagai berikut ini. Langkah pertama, menyusun rencana perbaikan pembelajaran (RPP) menjelaskan arti pecahan dan urutannya. Langkah kedua, menyusun tugas yang harus dikerjakan selama proses pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan diskusi kelompok Hal ini dilakukan agar ketercapaian hasil pembelajaran dapat terukur dan untuk melihat indikator yang berhasil dan tidak berhasil dicapai guna membuktikan hipotesis yang sudah dirumuskan. Langkah ketiga, membuat kunci jawaban. Langkah keempat, membuat pedoman penskoran dan penilaian. Langkah kelima, menyusun pedoman observasi yang akan digunakan oleh observer. Pedoman observasi ini merupakan instrument untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran.

Melaksanakan PTK

Pembelajaran dilakukan dengan kegiatan pendahuluan, kegiatan inti termasuk test, dan kegiatan akhir. Kegiatan pendahuluan adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk memberikan pengetahuan awal dan merangsang minat siswa agar tertarik pada pembelajaran. Kegiatan inti berisi pengungkapan materi menggunakan metode inkuiri. Peneliti memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk merangsang siswa menemukan sendiri fakta yang dipelajari. Test tertulis juga diberikan pada akhir kegiatan inti. Kegiatan akhir, adalah kegiatan yang menganalisis pola-pola penemuan siswa yang merupakan kesimpulan dan penguatan.

Melaksanakan Observasi

Observasi dilakukan oleh tiga orang guru yaitu Ibu Dedeh Djubaedah, Ibu Pusmawati S. Pd. Dan Ibu Tresnawati S. Pd. Diharapkan observer dapat membantu dalam mengatasi kegagalan pembelajaran menjelaskan arti pecahan dan urutannya. Observasi dilakukan untuk memperoleh masukan mengenai pembelajaran yang dilakukan dengan menggunakan instrumen yang telah dibuat.

Melaksanakan Refleksi

Pelaksanaan refleksi bertujuan untuk menemukan kegagalan pada proses pembelajaran, (Wardani, 2002 : 2. 18) Pada kegiatan refleksi peneliti dan observer berkumpul tidak lama setelah selesai pembelajaran. Pada kegiatan ini pula akan disampaikan kegagalan atau kelemahan pembelajaran yang dilakukan. Pada refleksi ditemukan kegagalan dan kelemahan pembelajaran. Dalam kesempatan itu, observer menyampaikan penyebab kegagalan dan kelemahan pembelajar serta solusi  untuk mengatasinya. Hasil refleksi siklus kesatu ini menjadi bahan acuan melaksanakan siklus kedua. Selanjutnya, hasil refleksi siklus kedua dijadikan bahan pertimbangan untuk melihat kegagalan atau keberhasilan pembelajaran.

Teknik Pengumpulan Data

Data PTK ini dikumpulkan dengan menggunakan (1) instrument observasi bagi observer dan (2) instrument evaluasi bagi siswa. Instrument observasi berisi tentang penampilan peneliti dan siswa, komunikasi antara siswa dan peneliti selama proses belajar, keadaan dan situasi kelas saat pembelajaran.  Instrument evaluasi siswa adalah test tertulis berisi pertanyaan dalam bentuk uraian objektif (BUO) dan bentuk uraian non objektif (BUNO). Pertanyaan meliputi indikator-indikator pada KD yang dipelajari. Soal pada siklus kesatu dan kedua dibedakan angka-angkanya namun dengan indikator yang sama.

Teknik pengolahan data pada PTK ini dilakukan secara kuantitatif yaitu dengan mencari selisih siklus kesatu pertemuan kesatu dengan siklus kedua pertemuan kedua. Jika ada kenaikan nilai yang diperoleh siswa pada siklus kesatu ke siklus kedua, maka berarti ada peningkatan hasil belajar siswa dan berarti hipotesis yang peneliti rumuskan terbukti benar. Apabila tidak ada kenaikan dari hasil test siklus kesatu ke hasil test siklus kedua maka hipotesis tidak terbukti. Hasil pengolahan data ditampilkan dengan menggunakan diagram batang dan diagram lingkaran.

C. Hasil  Penelitian

1. Hasil Penelitian Siklus I, Pertemuan 1 dan 2

Kegiatan Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan memuat penjelasan mengenai manfaat mempelajari kompetensi dasar menjelaskan arti pecahan dan urutannya dalam kehidupan sehari-hari. Kepada siswa dijelaskan sebagai berikut : Dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang berhubungan dengan pecahan, sehinggga kita perlu memahami apa artinya pecahan dan urutannya, misalnya Ibu di rumah meminta kita membagi satu kg terigu menjadi tiga bagian atau seorang anak diminta untuk memotong kue tar pada saat ulang tahun dan menyisakan 1/3 bagiannya, jadi mempelajari arti pecahan dan urutannyanya sangat penting agar bisa memahami materi mengenai pecahan lebih lanjut.

Setelah melakukan dilakukan demontrasi dengan menunjukkan dua buah vas dari tanah liat. Kegiatan ini sekaligus untuk membahas indikator pertama mengenal arti pecahan sebagai sesuatu yang tidak utuh. Kemudian siswa diminta untuk menjatuhkannya salah satu vas tanah liat ke atas lantai. Setelah demonstrasi  dilakukan diskusi bersama siswa. Dalam diskusi tersebut diperlihatkan vas tanah lihat yang dipecahkan dan yang tidak dipecahkan serta diajukan oertanyaan kepada siswa: “Apa bedanya vas tanah liat yang Ibu pegang, yang masih utuh, dengan vas tanah liat yang temanmu jatuhkan ke atas lantai tadi?”. Siswa menjawab : “vas tanah liat yang di tangan Ibu tidak pecah, vas tanah liat yang di bawah pecah” . Peneliti kemudian mengambil beberapa pecahan vas tanah liat dari atas lantai sambil bertanya : “dari manakah potongan ini berasal?” siswa menjawab : “dari vas yang dijatuhkan ke lantai” peneliti mengomentari : “Jadi apakah potongan ini merupakan bagian dari vas yang dijatuhkan ke atas lantai?” Siswa menjawab : “ya”

Siswa terlihat tertarik pada saat salah seorang dari mereka memecahkan vas tanah liat ke atas lantai. Kemudian memberikan kepada para siswa untuk bertanya, namun tak seorang pun yang mengajukan pertanyaan. Akhirnya peneliti bertanya pada siswa yang pintar atau siswa pada kelompok atas tentang vas tersebut.

Langkah berikutnya dalam kegiatan pendahuluan adalah membentuk kelompok dengan cara mengabsen siswa kemudian kemudian membaginya ke dalam kelompok  yang telah ditentukan dan meminta siswa duduk berdekatan dala kelompoknya. Hasilnya diperoleh 7 kelompok yang terdiri darai 6 kelompok masing-masing beranggotakan 5 orang siswa dan 1 kelompok yang beranggitakan 1 orang siswa.

Kegiatan Inti

Kegiatan inti   dimulai dengan melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai pengertian pecahan dan urutannya. Peneliti membagikan kartu pecahan kepada siswa. Jumlah kartu pecahan yang disiapkan adalah 10 buah, terdiri dari dua seri, sehingga jumlah kartu adalah   20 buah. Siswa berebut untuk mendapatkan kartu pecahan. Tidak semua siswa dalam kelompok mendapatkan kartu pecahan.   Hanya 20 orang sementara jumlah siswa yang hadir adalah 34 orang. Ada 14 orang siswa tidak mendapatkan kartu pecahan. Siswa dalam kelompok melakukan tanya jawab dengan siswa dalam kelompok lain mengenai nilai pecahan yang tergambar pada kartu pecahan yang diperolehnya.

Kepada siswa diminta untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Siswa mengerjakan jawabannya di papan tulis. Beberapa siswa maju ke depan untuk menjawab pertanyaan berbeda yang diajukan. Kemudian pembelajaran dilanjutkan dengan menjelaskan indikator ketiga yaitu menuliskan letak pecahan pada garis bilangan. Kemudian dibuat garis bilangan di papan tulis, lalu memasang karton peraga garis bilangan. Peraga ini memuat gambar yang mirip dengan garis bilangan dan berisi nilai pecahan. Nilai bilangan pecahan yang diungkap adalah 1/1, ½, 1/3, ¼, 1/5, 1/6, 1/7, 1/8, 1/9, dan 1/10.

Selanjutnya siswa diminta untuk membaca nilai pecahan yang tertera di karton peraga. Siswa yang duduk dekat dengan papan tulis dapat melihat angka yang tertera pada karton peraga. Tulisan bilangan pecahan tidak dapat terlihat jelas oleh kelompok siswa yang duduk di belakang, karena tulisan terlalu kecil dan tidak jelas.

Peneliti menggambar garis bilangan di papan tulis dan meminta beberapa siswa menuliskan pecahan tertentu pada garis bilangan tersebut. Ternuata, siswa yang aktif menjawab adalah siswa yang sama. Siswa lainnya tidak aktif. Kegiatan dilanjutkan dengan pembahasan materi pada indikator keempat yaitu membandingkan dua pecahan. Peneliti menggunakan karton peraga pecahan dalam menjelaskannya. Siswa diminta untuk menganalisa pecahan-pecahan yang memiliki nilai sama. Selanjutnya di jelaskan indikator kelima yaitu mengurutakan  pecahan berpenyebut sama.

Setelah semua materi/ indikator dibahas, diberikan lembar kerja pada setiap kelompok, lembar kerja terdiri dari pertanyaan untuk didiskusikan di dalam kelompok. Untuk pertanyaan nomor satu, kepada siswa  dibagikan satu bungkus Oreo. Kemudian peneliti membuka bungkusnya  dan mengambil satu keping Oreo dari dalamnya.

Pertanyaan dalam lembar kerja terdiri dari hal-hal berikut. 1). a). apakah pengertian pecahan b). berapa bagiankah oero yang di keluarkan dari dalam bungkusan dan apakah Oreo dalam bungkusan masih utuh? Sementara pertanyaan lainnya adalah : 2) nyatakanlah pecahan berikut dalam bentuk gambar a). 5/8 b). ¾ c). 2/6  3) tuliskan pecahan berikut pada garis bilangan : a). 5/7 dan 9/7 b). 1/3 dan 5/3 c). 3/6 dan 6/6, 4) bandingkan pecahan : a). 2/4 dan 1/3 b). 4/6 dan ¾ c) 6/8 dan 4/5, 5) urutkan pecahan mulai dari yang terkecil: a). 6/6, 7/6, 5/6, 9/6 b). ¾, 5/4, ¼, 4/4 c). 9/10, 5/10, 7/10, 2/10; urutkan pecahan berikut mulai dari yang terbesar : a). 5/10, 8/10, 3/10, 6/10 b). 3/3, 5/3, 1/3, 4/3 c). 3/5, 5/5, 2/5, 4/5.

Kemudian diberikan penjelasan kepada siswa dengan cepat karena telah banyak waktu yang digunakan untuk kegiatan pendahuluan terutama dalam pengelompokan siswa. Selama pembelajaran tersebut, siswa sulit diatur dan diarahkan.Oleh sebab itu,  peneliti berkeliling ke setiap kelompok untuk melakukan penilaian yang objektif sekaligus memberi motivasi agar setiap kelompok agar  mengerjakan tugas dengan baik. Kepada kelompok yang mengalami kesulitan menyelesaikan soal-soal yang diberikan dalam lembar kerja diberikan bantuan seperlunya

Anggota kelompok tiga tidak bekerja sama dengan baik satu sama lain. Oleh sebab itu, kepada kelompok tiga diberi bantuan untuk menyelesaikan tugasnya. Kelompok ini tidak mendapatkan kartu pecahan. Mereka sulit untuk memahami dan membandingkan dua pecahan yang berbeda. Setelah waktu selesai, semua kelompok memberikan hasil pekerjaannya dan melaporkannya di depan kelas kemudian  ditanggapi oleh kelompok lain. Penilaian dilakukan terhadap hasil kerja kelompok. Hasil penilaian kerja kelompok tersebut adalah seperti tercantum dalam tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1
Hasil Tes Siklus Kesatu Pertemuan Kesatu




Kegiatan Penutup

Kegiatan penutup dilakukan dengan cara menyimpulkan pembelajaran. Setiap kelompok diminta untuk mengungkapkan manfaat pembelajaran, mengomentari proses pembelajaran, media pembelajaran yang digunakan, pengelolaan kelas dan penilaian. Pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh setiap kelompok dijadikan catatan untuk menyusun RPP siklus kedua.

Refleksi Siklus Pertama

Refleksi siklus kesatu pertemuan kesatu dan kedua dilakukan dengan ketiga orang observer. Tujuan dari refleksi adalah untuk menemukan indikator yang gagal dicapai dan mencari penyebab kegagalan dan mencari solusi untuk mencapai indikator tersebut. Hasil belajar pertemuan kesatu dan pertemuan kedua dibandingkan ketercapaian rata-rata skor setiap soal dan ketercapaian rata-rata setiap kelompok pada pertemuan kedua dengan kriteria ketercapaian minimal (KKM) yang telah ditetapkan.

Hasil Refleksi Siklus Pertama

Hasil analisis ketercapaian setiap soal/ indikator adalah bervariasi dengan rentang 1 – 12. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 1 adalah 1,7. Skor maksimal adalah 2. Rata- rata skor tersebut sudah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 1,5, jadi soal/ indikator 1 telah tercapai. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 2 adalah 4,85. Skor maksimal adalah 6. Rata- rata skor tersebut sudah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 4,5, jadi soal/ indikator 2 telah berhasil dicapai. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 3 adalah 4,28. Skor maksimal adalah 6. Rata- rata skor tersebut belum mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 4,5, jadi soal/ indikator 3 gagal dicapai. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 4 adalah  2,85. Skor maksimal adalah 4,5. Skor maksimal 6. Rata- rata skor tersebut belum mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 4,5, jadi soal/ indikator 4 gagal dicapai. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 5 adalah 7,14. Skor maksimal adalah 12. Rata- rata skor tersebut belum mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 9 , jadi soal/ indikator 5 gagal dicapai. Seluruh skor rata-rata soal/ indikator yang telah dicapai berjumlah 65,62 atau 65,62%, jika dibandingkan dengan skor maksimal yaitu 100 atau 100% maka terdapat kekurangan skor 34,38 atau 34,38%.

Dari uraian di atas maka dapat dijelaskan bahwa soal/ indikator yang berhasil dicapai adalah soal/ indikator 1 yaitu tentang arti pecahan sebagai sesuatu yang tidak utuh dan soal/ indikator 2 tentang menyatakan pecahan secara visual, sementara soal/ indikator yang gagal dicapai serta harus dicarikan solusinya adalah, soal/ indikator 3 tentang menuliskan letak pecahan  pada garis bilangan, soal indikator 4 tentang membandingkan dua pecahan, dan soal/ indikator 5 tentang mengurutkan pecahan berpenyebut sama.

Penyebab Kegagalan Siklus Pertama

Penyebab kegagalan pembelajaran siklus pertama adalah sebagai berikut. Peneliti kurang menguasai kelas dan metoda pembelajaran inkuiri. Siswa tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Waktu yang digunakan dalam kegiatan pembentukan kelompok terlalu lama dan tidak efektif. Tulisan pada alat peraga tidak terlihat jelas dan terlalu kecil. Komunikasi antara siswa dan peneliti tidak efektif. Peneliti lebih banyak bicara dari pada siswa. Peneliti seharusnya melakukan pembelajaran dengan metode inkuiri dan seharusnya lebih banyak membimbing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan untuk merangsang siswa berpikir.

Dalam diskusi pada kegiatan pendahuluan peneliti hanya memberi kesempatan hanya pada siswa yang pintar saja. Kartu pecahan yang digunakan dalam pembelajaran kurang. Hanya siswa yang pandai yang diberi kartu pecahan. Siswa yang tidak kebagian kartu pecahan tidak dapat kesempatan ke depan kelas untuk menjelaskan nilai kartu pecahan.Situasi kelas tidak mendukung belajar aktif. Siswa di deretan belakang tidak terlibat dalam pembelajaran. Ini disebabkan deretan meja terlalu panjang dan  peneliti tidak menjangkau siswa yang berada di belakang, sehingga banyak siswa yang ngobrol. Siswa yang ditanya oleh peneliti hanya siswa yang pintar dan tidak dialihkan ke siswa lainnya. Jawaban siswa yang menjawab di papan tulis ada yang salah tapi tidak dikoreksi dan dibahas. Pada saat menyimpulkan pembelajaran peneliti mengarahkan kesimpulan siswa sehingga tidak sesuai dengan tahapan terakhir pada metode inkuiri. Seharusnya, dengan bimbingan peneliti siswa menyimpulkan pembelajaran. Kegagalan pembelajaran di atas dijadikan acuan untuk melaksanakan siklus kedua. Pada  siklus kedua,   kesalahan yang terjadi  pada  siklus pertama diperbaiki.

Solusi untuk Mengatasi Masalah Siklus Kesatu

Berdasarkan hasil refleksi di atas maka solusi untuk mengatasi  kegagalan dilakukan dengan kegiatan sebagai berikut.


  • Untuk mengatasi penguasaan kelas dan penguasaan metode inkuiri peneliti yang masih lemah, maka mengatasi kegagalan tersebut peneliti akan memperbaiki manajemen kelas dan penguasaan metode inkuiri. Pembelajaran dimulai dengan menyampaikan tujuan pembelajaran dan member arahan tentang langkah-langkah pembelajaran yang akan dilakukan bersama.

  • Untuk mengatasi siswa-siswa yang tidak bersemangat dalam mengikuti pembelajaran, dibuat suasana belajar yang menyenangkan yaitu melakukan Tanya jawab mengenai pecahan dengan menggunakan lagu. Kelompok siswa yang bertanya menyampaikan pertanyaan dengan lagu dan kelompok siswa lainnya menjawab dengan menggunakan lagu yang sama.

  • Untuk mengurangi waktu yang digunakan untuk melakukan  kegiatan pembentukan kelompok, pengelompokan siswa dilakukan sebelum pembelajaran.

  • Karton peraga yang tulisannya tidak jelas dan terlalu kecil, diganti dengan tulisan berukuran lebih besar dan lebih jelas.

  • Untuk mengatasi ketidakefektipan komunikasi antara siswa dan peneliti, diberikan kesempatan pada siswa untuk lebih banyak dan aktif berbicara. Peneliti lebih banyak membimbing siswa dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan guna merangsang siswa untuk berpikir.

  • Untuk mengatasi rendahnya partisipasin siswa  dalam diskusi pada kegiatan pendahuluan, kesempatan berbicara tidak diberikan hanya kepada siswa yang pintar saja, tetapi kepada semua siswa untuk memberi komentar atau menjawab pertanyaan. Kemudian peneliti mengoreksi dan  mengomentari jawaban siswa di papan tulis.

  • Untuk mengatasi kekurangan kartu pecahan, disediakan lebih banyak kartu pecahan untuk digunakan dalam pembelajaran. Kartu pecahan diberikan kepada semua siswa.

  • Untuk mengatasi situasi kelas yang tidak mendukung belajar aktif, tempat duduk siswa ditata ulang agar semua  kelompok siswa dapat dijangkau dengan mudah oleh peneliti serta  untuk meminimalkan kemungkinan  siswa untuk mengobrol bercanda.

  • Untuk menghindarkan pengajuan pertanyaan hanya kepada siswa tertentu dan yang pintar saja, pertanyaan disebarkan kepada sebanyak mungkin siswa tanpa  membedakan kompetensinya. Adapun jawaban salah yang tidak dikotreksi diatasi dengan mengomentari dan mengoreksi semua jawaban siswa di papan tulis secara langsung.

  • Untuk mengatasi kesalahan dalam mengarahkan kesimpulan, maka peneliti  tidak mendominasi kegiatan ini dan agar sesuai dengan tahapan terakhir pada metode inkuiri, siswa dibimbing untuk menyimpulkan sendiri pembelajaran. Solusi di atas akan digunakan oleh peneliti untuk memperbaiki RPP siklus kesatu sebagai RPP siklus kedua.


Hasil Penelitian Siklus Kedua Pertemuan 1 dan 2

Kegiatan Pendahuluan

Kegiatan pendahuluan memuat penjelasan mengenai manfaat mempelajari kompetensi dasar menjelaskan arti pecahan dan urutannya dalam kehidupan sehari-hari. Peneliti menjelaskan sebagai berikut : dalam kehidupan sehari-hari banyak hal yang berhubungan dengan pecahan, sehinggga kita perlu memahami apa artinya pecahan dan urutannya, misalnya Ibu di rumah meminta kita membagi satu kilogram terigu menjadi tiga bagian atau seorang anak diminta untuk memotong kue tar pada saat ulang tahun dan menyisakan 1/3 bagiannya, jadi mempelajari arti pecahan dan urutannyanya sangat penting agar bias memahami materi mengenai pecahan lebih lanjut.

Setelah melakukan penjelasan peneliti melakukan demontrasi dengan menunjukkan dua buah vas dari tanah liat, lalu meminta bantuan siswa untuk menjatuhkannya salah satu vas tanah liat ke atas lantai. Peneliti berdiskusi dengan siswa setelah demontrasi memecahkan vas tanah liat sambil menunjukkan vas tanah liat yang tidak dipecahkan peneliti bertanya pada siswa : “Apa bedanya vas tanah liat yang Ibu pegang (yang masih utuh) dengan vas tanah liat yang temanmu jatuhkan ke atas lantai?” siswa menjawab : “vas tanah liat yang di tangan Ibu tidak pecah, vas tanah liat yang di bawah pecah”.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk membahas materi/ indikator pertama mengenai arti pecahan sebagai sesuatu yang tidak utuh. Peneliti kemudian mengambil beberapa pecahan vas tanah liat dari atas lantai sambil bertanya : “dari manakah potongan ini berasal?” siswa menjawab : “dari vas yang dijatuhkan ke lantai” peneliti mengomentari : “Jadi apakah potongan ini merupakan bagian dari vas yang di jatuhkan ke atas lantai?” Siswa menjawab : “ya” Siswa terlihat tertarik pada saat peneliti meminta anak memecahkan vas tanah liat ke atas lantai. Peneliti memberikan pertanyaan kepada siswa. Peneliti bertanya baik pada siswa pintar maupun siswa kurang pintar. Peneliti bertanya pada Irvan :”Apakah setelah dipecahkan vas bunga masih utuh?” Siswa serempak menjawab : “Tidak!” Peneliti bertanya secara individual kepada beberapa siswa, diantaranya kepada Irvan : “Irvan, Apakah kamu setuju dengan jawaban teman-temanmu, bahwa sekarang vas tidak utuh lagi?”    menjawab : “ya!” lalu peneliti bertanya kepada Hanna “ Hanna, utuhkan vas bunga ini?” Hanna menjawab, “Tidak!” Pada kegiatan ini peneliti memberikan kesempatan secara merata kepada siswa di kelas.

Langkah berikutnya dalam kegiatan pendahuluan adalah membentuk kelompok . Jumlah anggota setiap kelompok adalah lima orang (enam kelompok) dan enam orang (satu kelompok), sehingga jumlah kelompok ada tujuh kelompok. Sebelum membentuk kelompok peneliti mengarahkan agar siswa yang sudah dikelompokan segera bergabung dengan kelompoknya dan mengatur tempat duduk masing-masing. Siswa yang sudah disebutkan segera mengambil tempat berkelompok dengan anggota kelompoknya. Waktu yang digunakan untuk pengelompokan lebih efesien. Setelah kelompok terbentuk peneliti mengatur kelompok agar tidak berderet terlalu panjang ke belakang. Hal itu dilakukan agar semua kelompok dapat dengan mudah dijangkau oleh peneliti. Peneliti dan siswa mengatur agar lorong antar kelompok dapat dilewati oleh peneliti dan siswa sehingga mempermudah interaksi peneliti dan siswa.

Kegiatan Inti

Kegiatan inti dimulai dengan melakukan diskusi dan tanya jawab mengenai pengertian pecahan yang sudah dibahas pada pendahuluan. Peneliti membagikan kartu pecahan kepada setiap siswa. Peneliti menyediakan kartu pecahan sejumlah siswa. Siswa secara bergiliran bertanya dan menjawab pertanyaan dari siswa lainnya. Peneliti mengajak siswa  untuk bertanya jawab menggunakan lagu lagu yang berisi tentang pecahan (irama lagu “Jumpa Lagi”). Peneliti memulai bernyanyi sambil menunjukkan kartu pecahan 5/10. (Sekaligus memberi contoh pada peserta didik).
Peneliti : Yang inilah, yang inilah kue milik saya Berapa? Berapa? Ayo coba terka! Siswa : 5/10 (menjawab bersama-sama). Kelas menjadi ramai, siswa bersemangat mengikuti pembelajaran. Sebagian besar siswa aktif mengikuti tanya jawab.

Peneliti membawa satu buah kue dan bertanya pada siswa : “Apakah kue ini dapat dibagi sama besar?” Jawaban siswa ada yang menjawab ya dan ada yang menjawab tidak. Peneliti menanyakan mengapa tidak bisa dibagi dan bagaimana membaginya jika bisa. Salah satu siswa dari kelompok yang menjawab ya yaitu kelompok 6, diminta untuk menunjukkan bagaimana cara membagi kue. Siswa bertanya pada peneliti kuenya dibagi jadi berapa potong. Peneliti menyerahkan keputusan pada kelompok. Siswa menggunakan penggaris untuk mengukur panjang kue bolu dan mengukur kue bolu, lalu memotong menjadi 5 bagian. Peneliti meminta kelompok yang memotong kue bolu untuk menjelaskan pada teman-temannya apa yang telah mereka lakukan dalam membagi kue bolu. Azi siswa dari kelompok 1 mengajukan pertanyaan :  “berapa panjang satu kue bolu?” kelompok 6 menjawab 20 cm. Azi bertanya lagi berapa panjang satu potong kue. Kelompok 6 menjawab 4 cm. Reynaldiana meminta pada kelompok 6 untuk menguji dan menghitung tiap-tiap bagian kue bolu. Setelah dihitung ternyata benar tiap potong kue bolu adalah 4 cm sehingga jumlah panjang 5 bagian kue bolu adalah 20 cm.

Peneliti mengajukan pertanyaan pada semua siswa  bagaimana cara menyatakan satu bagian kue bolu yang dipotong menjadi lima bagian (dari satu bagian yang utuh). Siswa menjawab 1/5. Peneliti bertanya bisakah disebut 1/6. Siswa menjawab tidak, dan peneliti bertanya alasannya mengapa demikian. Hani menjawab karena satu kue bolu dibagi lima potong. Peneliti kemudian bertanya apakah kue bolu yang asal panjangnya 20 cm dapat disebut masih utuh. Siswa menjawab tidak. Peneliti bertanya lebih lanjut mengapa tidak disebut utuh lagi, siswa menjawab sudah dipotong/ dipecah/ dibagi. Siswa menyimpulkan sendiri bahwa pecahan adalah sesuatu yang tidak utuh (dengan bantuan pertanyaan yang menggali fakta dari peneliti).

Pada pembelajaran di atas, siswa diajak menguji fakta dan hakekat pecahan sebagai sesuatu yang tidak utuh. Pada tahap ini peneliti menyajikan masalah yang akan dipelajari siswa dan merangsang siswa untuk tertarik mengikuti pelajaran. Untuk itu peneliti bertanya pada siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengundang siswa menemukan masalah.

Langkah selanjutnya adalah siswa mengadakan eksperimen untuk memahami materi atau indikator kedua yaitu menyatakan pecahan secara visual. Pada kegiatan ini siswa mengumpulan unsur  baru ke dalam situasi untuk melihat perubahan yang terjadi. Peneliti memotong kue bolu menjadi delapan bagian. Siswa menyebutkan nilai satu bagian kue adalah 1/8.

Peneliti membimbing siswa dengan pertanyaan-pertanyaan agar siswa menyelidiki pecahan yang disajikan peneliti baik kue yang dipotong-potong atau pun kartu pecahan. Siswa menggambar kue dengan bentuk persegi panjang, siswa membagi persegi panjang menjadi tiga bagian. Peneliti menyajikan garis bilangan untuk menggambarkan ½ bagian dari 1. Kegiatan ini sekaligus merupakan pengantar materi/ indikator ketiga yaitu menuliskan letak pecahan pada garis bilangan, indikator keempat yaitu membandingkan dua pecahan, dan indikator kelima yaitu mengurutakan pecahan berpenyebut sama.
Siswa diminta mencoba membuat garis bilangan dan membaginya menjadi 3 bagian. Siswa ditanya apakah bagian ½ sama dengan 2/3. Siswa ditanyakan alasan mengapa menjawab seperti itu. Siswa juga menyelidiki, membandingkan dan melakukan penelitian terhadap bilangan berpenyebut sama. Pada tahap ini diharapkan siswa paham melalui penemuan sendiri bahwa jika garis bilangan dibagi menjadi 2 bagian maka satu bagian bernilai ½. Siswa juga diharapkan melalui penemuan sendiri dapat membandingkan dan urutannya bilangan pecahan berpenyebut sama.

Peneliti juga menyajikan bagan peraga bilangan pecahan dari karton, untuk memperjelas materi/ indikator ketiga menuliskan letak pecahan pada garis bilanga. Dari bagan yang disajikan siswa diminta untuk menemukan  pecahan-pecahan beda nama namun memiliki nilai sama. Setelah semua indikator dipelajari oleh siswa peneliti mengajak siswa merumuskan penjelasan arti pecahan kembali seperti pada awal kegiatan inti, siswa menyatakan pecahan dengan gambar dan garis bilangan, membandingkan dan memperhatikan pecahan berpenyebut sama. Peneliti membantu siswa tersebut dengan memandunya melalui pertanyaan agar siswa menyelidiki kembali fakta mengenai pecahan.

Siswa diminta untuk menganalisis pola-pola penemuan mereka. Siswa dapat menggunakan bahan dan cara lain untuk memperjelas materi. Peneliti memberi pertanyaan lain dengan menggunakan soal cerita, yaitu sebagai berikut. Ibu mempunyai satu helai kain. Ibu membagi kain menjadi 6 bagian sama besar. Ibu memberi saudara-saudaranya masing-masing satu bagian. Berapa bagian kain kah yang diperoleh oleh setiap saudara Ibu? Semua siswa dapat menjawab dengan benar pertanyaan peneliti.

Setelah semua materi/ indikator disampaikan dan dibahas dalam pembelajaran, peneliti memberikan lembar kerja pada setiap kelompok, lembar kerja terdiri dari  pertanyaan untuk didiskusikan di dalam kelompok. Pertanyaan-pertanyaannya adalah sebagai berikut. 1a. Apakah pengertian pecahan? 1b. Ani membeli satu buah pizza. Ani membagikan pizzanya sama besar kepada lima orang temannya dan dia mendapatkan satu bagian. Berapa bagiankah masing-masing orang mendapatkan pizzanya? 2. Nyatakanlah pecahan berikut dalam bentuk gambar a. 9/12, b. 7/7, c. 6/16. 3.  Tuliskan pecahan berikut pada garis bilangan. a. 3/10 dan 7/10, b.  1/6 dan 8/6, c.5/12 dan 12/12. 4. Bandingkan pecahan berikut!   a. 2/4 dan 1/3, b. 4/6 dan ¾, c.6/8 dan 4/5. 5. Urutkan pecahan berikut mulai dari yang terbesar ke terkecil. a). 5/8, 2/8, 3/8, 7/8, b). 9/9, 3/9, 6/9, 1/9, c). 8/12, 4/12, 6/12, 12/12. 5.b. Urutakan pecahan berikut mulai dari yang terkecil ke terbesar. d). 7/7, 5/7, 9/7, 3/7, e). 5/5, 2/5, 3/5, 4/5, f). 10/16, 12/16, 15/16, 7/16.

Selama kegiatan pembelajaran peneliti berkeliling ke setiap kelompok untuk melakukan penilaian yang objektif sekaligus memberi motivasi agar setiap kelompok  mengerjakan tugas dengan baik. Peneliti dapat mendatangi semua kelompok dan memastikan kelompok bekerja dengan baik. Peneliti pun memberikan bantuan seperlunya kepada kelompok yang mengalami kesulitan menyelesaikan soal-soal yang diberikan dalam lembar kerja. Setelah semua kelompok menyelesaikan pekerjaannya, setiap kelompok melaporkan hasilnya di depan kelas dan ditanggapi oleh kelompok lain. Peneliti melakukan penilaian terhadap hasil kerja kelompok. Hasil penilaian kerja kelompok adalah seperti tercantum dalam tabel 4.2 berikut

Tabel 4.2
Hasil Tes Siklus Kedua Pertemuan Kedua



Kegiatan Penutup

Kegiatan penutup dilakukan dengan cara menyimpulkan pembelajaran. Setiap kelompok minta untuk mengungkapkan manfaat pembelajaran, mengomentari proses pembelajaran, media pembelajaran yang digunakan, pengelolaan kelas dan penilaian. Peneliti membimbing siswa untuk membuat kesimpulan pembelajaran. Pernyataan-pernyataan yang diungkapkan oleh setiap kelompok.

Refleksi Siklus Kedua


Refleksi siklus kedua pertemuan kesatu dan kedua dilakukan dengan ketiga orang observer. Tujuan dari refleksi adalah untuk menemukan indikator yang gagal dicapai dan mencari penyebab kegagalan dan mencari solusi untuk mencapai indikator tersebut. Hasil belajar pertemuan kesatu dan pertemuan kedua dibandingkan ketercapaian rata-rata skor setiap soal dan ketercapaian rata-rata setiap kelompok pada pertemuan kedua dengan kriteria ketercapaian minimal (KKM) yang telah ditetapkan.
Hasil Refleksi Siklus Kedua

Hasil analisis ketercapaian setiap soal/ indikator adalah bervariasi dengan rentang 1 – 12. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 1 adalah 2. Rata- rata skor tersebut sudah maksimal (skor maksimal adalah 2) dengan demikian mencapai/ bahkan KKM yang ditetapkan yaitu1,5, jadi soal/ indikator 1 telah berhasil dicapai.Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 2 adalah 6. Skor maksimal adalah 6, rata- rata skor tersebut sudah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 4,5, jadi soal/ indikator 2 telah berhasil dicapai. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 3 adalah 6, skor maksimal adalah 6. Rata- rata skor tersebut sudah melebihi KKM yang ditetapkan yaitu 4,5, jadi soal/ indikator 3 telah berhasil dicapai.

Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 4 adalah  6, skor maksimal soal/ indikator 4 adalah 6. Rata- rata skor tersebut sudah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 4,5, jadi soal/ indikator 4 telah berhasil dicapai. Ketercapaian rata-rata skor soal/ indikator no 5 adalah 12, skoer maksimal 12. Rata- rata skor tersebut sudah mencapai KKM yang ditetapkan yaitu 9, jadi soal/ indikator 5 telah berhasil dicapai. Seluruh skor rata-rata soal/ indikator yang telah dicapai berjumlah 32 atau 100%, jika dibandingkan dengan skor maksimal yaitu 32 atau 100% maka tidak terdapat kekurangan skor.

Dari uraian di atas maka dapat dijelaskan bahwa seluruh  soal/ indikator yang berhasil yaitu indikator 1 tentang arti pecahan sebagai sesuatu yang tidak utuh, indikator 2 tentang menyatakan pecahan secara visual, soal/ indikator 3 tentang menuliskan letak pecahan  pada garis bilangan, soal indikator 4 tentang membandingkan dua pecahan, dan soal/ indikator 5 tentang mengurutkan pecahan penyebut yang sama telah mencapai skor minimal. Ini berarti penelitian dinyatakan telah selesai.

D. Pembahasan Hasil Penelitian
Selanjutnya dicari selisih siklus ke-satu pertemuan kesatu  (sebagai pretest) dengan siklus kedua pertemuan kedua (sebagai post test). Jika ada kenaikan nilai yang diperoleh siswa dari siklus pertama pertemuan kesatu ke siklus kedua pertemuan kedua, maka berarti ada peningkatan hasil belajar siswa dan berarti hipotesis yang peneliti rumuskan terbukti benar. Apabila tidak ada kenaikan dari hasil test siklus pertama pertemuan kesatu ke hasil test siklus ke-dua pertemuan kedua, maka hipotesis tidak terbukti.

Ketercapaian Setiap Tugas

Berikut dijelaskan data ketercapaian setiap tugas dari setiap kelompok pada siklus kesatu pertemuan kesatu dengan siklus  kedua pertemuan kedua sebagai  berikut. Selisih ketercapaian soal nomor 1 adalah 2 – 1,28 = 0,72. Selisih ketercapaian soal nomor 2 adalah 6 – 4,28 = 1,72. Selisih ketercapaian soal nomor 3 adalah 6 – 3,43 = 2,57. Selisih ketercapaian soal nomor 4 adalah 6 – 1,14 = 4,86. Selisih ketercapaian soal nomor 5 adalah 12 – 6,86 = 5,14. Berdasarkan selisih ketercapaian soal di atas diperoleh data peningkatan hasil belajar sebagai berikut. Terjadi peningkatan hasil belajar pada soal nomor 1 = 0,72, soal nomor 2 = 1,72, soal nomor 3 = 2,57, soal nomor 4 = 4,86, soal nomor 5 = 5,14. Peningkatan hasil belajar tertinggi terjadi pada nomor 5, sedangkan peningkatan hasil belajar terendah terjadi pada nomor 1. Rata-rata ketercapaian soal adalah 6,4 – 3,4 = 3. Peningkatan hasil belajar disajikan dalam diagram berikut ini.

Diagram 4.1
Peningkatan Ketercapaian Setiap Soal



Perbandingan ketercapaian seluruh soal digambarkan sebagai berikut. Perbandingan ketercapaian soal nomor 1: 2: 3: 4: 5 adalah 0,72: 1,72 : 2,57 : 4,86: 5,14 = 15. Selanjutnya masing-masing angka ketercapaian setiap soal dibagi 15, lalu dikalikan 100. Pengolahan angka-angka tersebut adalah sebagai berikut. Soal nomor 1 adalah 0,72/15 x 100 = 5.  Soal nomor 2 adalah 1,72/15 x 100 = 12. Soal nomor 3 adalah 2,57/15 x 100 = 17. Soal nomor 4 adalah 4,86/ 15 x 100 = 32. Soal nomor 5 adalah 5,14/15 x 100 = 34. Hasil pengolahan angka-angka tersebut merupakan hasil pembulatan, hasil tersebut  merupakan perbandingan ketercapaian soal nomor 1: 2: 3: 4: 5 adalah 5 :12 :17: 32 : 34 = 100. Berikut diagram presentase ketercapaian seluruh soal.

Diagram 4.2
Diagram Presentase Ketercapaian Seluruh Soal



Ketercapaian Seluruh Tugas

Berdasarkan tabel di atas, dapat dikemukakan data ketercapaian seluruh soal dari setiap kelompok pada siklus kesatu pertemuan kesatu dengan siklus kedua pertemuan kedua adalah sebagai berikut. Ketercapaian hasil belajar kelompok 1 adalah 6,4 – 2,6 = 3,8. Kelompok 2 adalah 6,4 – 3,6 = 2,8. Kelompok 3 adalah 6,4 – 4 = 4. Kelompok 4 adalah 6,4 – 3,6 = 2,8. Kelompok 5 adalah 6,4 – 3,2 = 3,2. Kelompok 6 adalah 6,4 – 2,8 = 3,6 dan kelompok 7 adalah 6,4 – 4 = 2,4.Berdasarkan data tersebut maka telah terjadi peningkatan hasil belajar menjelaskan arti pecahan dan urutannyanya. Berikut diagram ketercapaian tugas setiap kelompok.

Diagram 4.3
Ketercapaian Seluruh Soal Setiap Kelompok


Perbandingan  ketercapaian soal atau hasil belajar kelompok 1: 2: 3: 4: 5: 6: 7  adalah 3,8:  2,8:  2,4:  2,8: 3,2:  3,6:  2,6 = 21. Masing-masing angka ketercapaian setiap soal dibagi 16,4 lalu dibagi 100. Pengolahan angka-angka tersebut adalah sebagai berikut. Kelompok 1 adalah 3,8/ 21 x 100 = 18. Kelompok  2 adalah 2,8/ 21 x 100 = 13. Kelompok 3 adalah 2,4/ 21 x 100 = 12. Kelompok 4 adalah 2,8/ 21 x 100 = 13. Kelompok 5 adalah 3,2/ 21 x 100 = 15. Kelompok 6 adalah 3,6/ 21 x 100 = 17. Kelompok 7 adalah 2,4/ 21 x 100 = 12. Hasil perhitungan telah peneliti bulatkan. Hasil perhitungan ini merupakan perbandingan ketercapaian setiap soal atau hasil belajar kelompok 1:  2:  3:  4:  5:  6:  7 adalah 18:  13:  12:  13:  15:  17:  12 = 100. Berikut diagram presentase ketercapaian setiap soal atau hasil belajar kelompok.

Diagram 4.4
Prosentasi Ketercapaian Setiap Soal Setiap Kelompok


E. Kesimpulan dan Saran

1.    Kesimpulan

Berdasarkan pencapaian soal nomor 1 sampai nomor 5 siklus ke- satu pertemuan kesatu dan siklus kedua diperoleh selisih pencapaian hasil belajar. Selisih tersebut merupakan peningkatan pemahaman menjelaskan arti pecahan dan urutannya sebagai berikut. Soal nomor 1 : 2 : 3 : 4 : 5 adalah 0,72: 1,72: 2,57: 4,86: 5,14  atau 5 %: 12%:  17%:  32%:  34%.

Kemampuan menjelaskan arti pecahan dan urutannya pada siklus pertama pertemuan kesatu mencapai rata-rata 3,4 dan siklus kedua pertemuan kedua adalah 6,4. Selisih pencapaian tersebut merupakan hasil belajar yaitu 3. Perbandingan prosentase kemampuan menjelaskan arti pecahan dan urutannya pada siklus pertama pertemuan kesatu dan siklus kedua pertemuan kedua adalah 3,4 : 6,4 atau 34,7%: 65,3%. Selisih prosentase tersebut adalah 30,6%, dengan demikian terjadi peningkatan hasil belajar untuk seluruh tugas.

Kemampuan menjelaskan arti pecahan dan urutannya pada kelompok 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 adalah 3,8: 2,8: 2,4: 2,8: 3,2: 3,6: 2,6. Prosentase peningkatan kemampuan menjelaskan arti pecahan dan urutannya setiap kelompok tersebut adalah kelompok 1 adalah 18%, kelompok  2 adalah 13%, kelompok 3 adalah 12%, kelompok 4 adalah 13%, kelompok 5 adalah 15%, kelompok 6 adalah 17% dan kelompok 7 adalah 12 %.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang diajukan terbukti yaitu : dengan diterapkan metode inkuiri dalam pembelajaran arti pecahan dan urutannya, maka pemahaman siswa   meningkat.

2.    Saran

Peneliti memberikan saran bagi teman sejawat, kepala sekolah dan para pengawas sebagai berikut :
a)    Teman Sejawat dan Kepala Sekolah
Teman sejawat dapat menggunakan hasil penelitian ini untuk acuan dalam mengajar KD menjelaskan arti pecahan dan urutannya. Laporan ini dapat dijadikan salah satu acuan bagi teman sejawat dalam melakukan penelitian tindakan kelas.
b)    Pengawas
Pengawas diharapkan dapat memberikan kesempatan pada peneliti untuk menyebarluaskan hasil penelitian ini dalam kegiatan-kegiatan ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA
Adinawan, Ch. (2005)  Matematika SD. Jakarta: Erlangga
Arikunto, S. (1998). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta:   Rineka Cipta.
Departemen Pendidikan Nasional. (2003a). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika SMP/M.Ts. Jakarta: Depdiknas
Sudjana, 2001.Metoda dan Teknik Pembelajaran Partif, Bandung. Falah
Production.
Wardani, (2002), Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Universitas Terbuka

Penulis adalah Guru SDN I Cijerah Kecamatan Bandung Kulon Kota Bandung

Blog, Updated at: 04.08

0 komentar:

Posting Komentar

Komentari

bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online