RINGKASAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENINGKATAN MINAT BELAJAR KIMIA
MELALUI
MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT
Disusun oleh :
Subakri, S.Ag (Kepala Sekolah SMA Islam Jember)
Widyas Palupi, S.Tp (SMA Islam Jember)
Erni Sulistiana, S. Pd (SMAN 1 Arjasa Jember
Workshop Penelitian Tindakan Kelas
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan
Propinsi Jawa Timur
2005
I. PENDAHULUAN
Dewasa ini telah dikembangkan strategi pembelajaran yang dikenal dengan nama Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa untuk mengkaitkan pengetahuan pelajaran yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kooperatif terbagi menjadi beberapa tipe, diantaranya tipe TGT (Team Game Tournament) yaitu pembelajaran kooperatif yang hampir sama dengan tipe STAD (Student Team Achievement Division) yang dilengkapi dengan pertandingan akademis yang mana setiap kelompok mempunyai kemampuan yang sama (Wawang, 2000).
Masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut : a) Bagaimana pengelolaan pembelajaran berdasarkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ? b) Bagaima meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Kimia dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ? c) Bagaimana ketuntasan belajar siswa dengan menggunakan model pembalajaran kooperatif tipe TGT ?
Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan minat belajar siswa pada mata pelajaran Kimia untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Guru menjadi lebih profesional, meningkatkan minat belajar siswa dan memperbaiki dan peningkatan mutu pembelajaran.
II. KAJIAN PUSTAKA
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait, yang meliputi 1) saling ketergantung positif, 2) interaksi tatap muka, 3) akuntabilitas individual, dan 4) ketrampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau ketrampilan sosial yang secara sengaja diajarkan. Pembelajaran kooperatif secara ekstensif atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila meraka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep itu dengan temannya.
Pembelajaran Kooperatif menurut Wawang (2004) terbagi menjadi 5 tipe, yaitu Studen Teams Achievement Division (STAD), Teams-Games Tournament (TGT), Jigsaw II, Groups Investigation (GI) dan Metode Strukltural.
Tipe TGT hampir sama dengan tipe STAD dalam hal jumlah anggota dalam kelompok 4-5, kuis, dan sistem perhitungan Individual Improvement Point (IP). Tipe TGT menggunakan pertandingan akademis yang mana setiap kelompok tournament mempunyai kemampuan yang sama. Sintax dari model pembelajaran ini meliputi urutan Class Presentation, Team study, Tournament Table, dan Team Recognition,
Dalam penelitian tindakan kelas ini guru meneliti sendiri terhadap kegiatan pembelajaran dengan guru mitra sebagai pengamat. Sebelum pelaksanaan penelitian dilakukan sosialisasi dan simulasi model pembelajaran yang akan diterapkan. Selama proses pembelajaran dilakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi pengelolaan kegiatan pembelajaran. Setelah pembelajaran selesai siswa diminta mengisi lembar respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran, selanjutnya refleksi untuk menuju pada siklus kedua.
III. METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan di SMA Islam Jember. Subjek penelitian adalah siswa kelas X yang berjumlah 28 anak dengan rincian 19 putra dan 9 putri, Sebagian siswa memiliki minat rendah untuk mengikuti pelajaran yang ditandai ketidak hadiran siswa-siswa tersebut pada jam ketiga dan seterusnya.
Persiapan penelitian meliputi observasi pra penelitian untuk mengetahui minat awal siswa terhadap mata pelajaran Kimia. Model pembelajaran yang akan diterapkan pada penelitian merupakan model baru bagi proses pembelajaran di SMA Islam Jember, sehingga perlu dilakukan sosialisasi kepada siswa yang dilanjutkan dengan simulasi turnamen.
Penelitian ini dibagi dalam dua siklus yang disesuaikan dengan rencana pembelajaran pada materi pokok struktur atom dan sistem periodik. Masing-masing siklus terdiri dari: 1) Perencanaan 2) Tindakan, 3) Observasi, 4) Refleksi
Penelitian ini memerlukan empat intrumen pengamatan untuk mengamati : a) Pengelolaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe TGT, b) Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran. c) minat siswa sebelum dan selama penelitian dengan menggunakan lembar observasi minat siswa dan d) ketuntasan belajar siswa melalaui analisis pencapaian hasil belajar
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Implementasi Perangkat Pembelajaran
Implementasi perangkat pembelajaran dilakukan di SMA Islam Jember dari tanggal 25 Agustus 2005 sampai dengan 2 September 2005 dengan subjek penelitian sejumlah 16 siswa kelas X Semester 1 tahun pelajaran 2005/2006. Selama penelitian dilaksanakan, peneliti bertindak sebagai guru, sedangkan pengamat adalah guru kolaboran.
Data yang diperoleh dari siklus 1 dan siklus 2 pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif yang umumnya berupa deskripsi skor rata-rata dan prosentase. Hasil penelitian dan analisis data penelitian siklus 1 dan siklus 2 diuraikan sebagai berikut :
- 1. Kemampuan Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif tipe TGT
Hasil pengamatan terhadap pengelolaan pembelajaran pada setiap siklus dengan menggunakan istrumen 2, pengamatan dilakukan oleh seorang guru kolaboran saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Data dari Rp-1 (siklus-1) dan RP-2 (Siklus-2) dijumlah, diambil rata-rata dan ditentukan kategorinya. Secara ringkas hasil pengolahan data ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut :
Tabel 1. Penilaian Pengelolaan Pembelajaran melalui model Pembelajaran tipe TGT
No. | Aspek yang diamati | Skor tiap RP | Skor Rata-rata | Kate-gori | |
RP-1 | RP-2 | ||||
| 1 | Pendahuluan | 3,33 | 3,67 | 3,50 | Baik |
| 2 | Kegiatan inti | 3,13 | 3,63 | 3,38 | Baik |
| 3 | Penutup | 3,00 | 4,00 | 3,50 | Baik |
| 4 | Pengelolaan waktu | 3,00 | 3,00 | 3,00 | Baik |
| 5 | Pengamatan suasana kelas | 3,25 | 3,25 | 3,25 | Baik |
Dari tabel 1 di atas menunjukkan bahwa pada masing-masing aspek yang diamati mempunyai kategori baik. Hal ini berarti kemampuan guru mengelola pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah baik, sehingga siswa menjadi tertarik untuk mengikuti pelajaran.
- 2. Respon siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran
Data respon siswa diambil dari intrumen 3 yang diisi oleh siswa. Hasil pengolahan data dapat dilihat pada Tabel 2 berikut :
Tabel 2. Respon Siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran
No. | Uraian Kegiatan Pembelajaran | Respon siswa (%) | |||||||||
Baru | Tidak Baru | Senang | Tidak Senang | ||||||||
RP-1 | RP-2 | RP-1 | RP-2 | RP-1 | RP-2 | RP-1 | RP-2 | ||||
1 | Materi | 100 | 100 | 0 | 0 | 81.2 | 93.8 | 87.5 | 18.8 | 6.2 | 12.5 |
2 | Bahan Tertulis | 100 | 100 | 0 | 0 | 68.7 | 75 | 71.9 | 31.3 | 25.0 | 28.1 |
3 | Lembar kerja Siswa | 100 | 100 | 0 | 0 | 68.7 | 81.3 | 75 | 31.3 | 18.7 | 25.0 |
4 | Suasana Kelas | 62.5 | 31.3 | 37.5 | 68.8 | 56.3 | 75 | 65.6 | 43.7 | 25.0 | 34.4 |
5 | Penampilan Guru | 81.3 | 87.5 | 18.8 | 12.5 | 87.5 | 87.5 | 87.5 | 12.5 | 12.5 | 12.5 |
6 | Cara Guru Mengajar | 87.5 | 37.5 | 12.5 | 62.5 | 87.5 | 93.8 | 90.2 | 12.5 | 6.2 | 9.4 |
Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa materi, bahan tertulis, dan LKS adalah baru karena ketiga hal tersebut baru diberikan pada saat penelitian dilakukan, sedangkan untuk suasana kelas pada beberapa siswa sudah pernah melakukan sebagian dari metode pembelajaran, yaitu metode diskusi dan tanya jawab yang juga terdapat pada model pembelajaran ini, sehingga prosentasenya tidak terlalu tinggi.
Prosentase tingkat kesenangan terhadap pembelajaran cukup baik seperti yang ditunjukan oleh rata-rata diatas 70 % untuk semua bagian kegiatan pembelajaran, kecuali pada suasana kelas. Hal ini terjadi karena ada beberapa siswa yang tidak suka terhadap metode diskusi dan kompetisi dalam turnamen. Namun secara umum ada peningkatan prosentase kesenangan dari RP-1 ke RP-2, yang berarti pula metode yang digunakan berhasil meningkatkan daya tarik siswa terhadap mata pelajaran Kimia.
- 3. Minat Siswa Sebelum dan Sesudah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT
Data minat siswa diperoleh dari isian intrumen I yang diisi oleh 16 siswa. Data minat siswa terhadap mata pelajaran Kimia secara ringkas disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Minat Siswa Sebelum dan Sesudah Penerapan Modell Pembelajaran Kooperatif tipe TGT
No. | Kriteria | Prosentase (%) | |
Sebelum | Sesudah | ||
| 1 | Siswa yang kurang berminat | 18.75 | 18.75 |
| 2 | Siswa yang berminat | 56.25 | 18.75 |
| 3 | Siswa yang sangat berminat | 25.00 | 62.50 |
Dari Tabel 3 nampak bahwa setelah penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT jumlah siswa yang sangat berminat menjadi meningkat, hal ini berarti telah terjadi penurunan jumlah siswa yang hanya berminat tetapi model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada kasus ini tidak berhasil meniadakan siswa yang kurang berminat. Hal ini terjadi karena untuk siswa yang kurang berminat berdasarkan pendapat non objektif, mereka kurang tertarik pada pelajaran Kimia.
- 4. Ketuntasan Belajar pada Setiap Sub Materi
Data ketuntasan belajar pada setiap sub materi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT diperoleh dari hasil tes setiap individu pada setiap rencana pembelajaran.
Pada rencana pembelajaran 1 (RP-1) siswa diberi 5 soal objektif dan 5 soal uraian objektif dengan waktu penyelesaian 45 menit, sedangkan pada rencana pembelajaran 2 (RP-2) siswa diberi 5 soal objektif dan 3 soal uraian objektif dengan waktu penyelesaian 35 menit.
Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui analisis pencapaian hasil belajar disetiap rencana pembelajaran. Prosentase ketuntasan belajar siswa diperoleh dengann kriteria tuntas untuk proporsi menjawab benar secara individu minimal 75 %. Hasil analisis ketuntasan belajar disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Ketuntasan Belajar Siswa
No. | Rencana Pembelajaran | Keadaan siswa dalam ketuntasan belajar | |||
Jumlah siswa yang | Ketuntasan (%) | ||||
ikut | tuntas | Tidak tuntas | |||
| 1 | RP- 1 | 16 | 5 | 11 | 31.3 |
| 2 | RP-2 | 16 | 7 | 9 | 43.8 |
Dari Tabel 4, nampak bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT telah terjadi peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa, hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran ini siswa semakin mampu untuk menguasai materi yang diajarkan.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data terhadap penelitian perangkat pembelajaran Kimia dengan materi Struktur Atom dan Sistem Periodik di SMA Islam Jember yang dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) siklus, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:
- Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran kooperatid tipe TGT adalah baik. Skenario dapat dilaksanakan sesuai alokasi waktu yang ditentukan.
- Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran adalah baik. Siswa senang dengan model pembelajaran yang diterapkan, sehingga mendukung daya tarik siswa terhadap mata pelajaran Kimia.
- Minat siswa mengalami peningkatan setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT .
- Ketuntasan belajar siswa meningkat dari siklus 1 ke siklus 2. Model pembelajaran kooperatif tipe TGT dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan.
5.2 Saran
Memperhatikan hasil penelitian yang diperoleh, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT perlu untuk diterapkan pada sub materi lainnya khususnya materi yang memberikan pemahaman konsep.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, 2003, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia, Jakarta.
Depdiknas, Dikmenum, 2004, Pedoman Khusus Pengembangan Instrumen dan Penilaian Ranah Afektif. Jakarta.
Depdiknas, Dikmenum, 2004, Pedoman Khusus Pengembangan Intrumen dan Penilaian Ranah Psikomotor, Jakarta.
Hoetawarman, Wawang, 2000, Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas “Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Ketrampilan Proses Siswa pada Pembelajaran Konsep Kesetimbangan Kimia di Kelas II Cawu I SMU Negeri I Jombang, Lembaga Penelitian Univ. Negeri Malang, Malang.
Hoetawarman, Wawang, 2004, Model Pembelajaran Kooperatif. Jaringan Inovasi Pembelajaran.
Nurhadi, dkk., 2004, Pembelajaran konstektual dan Penerapan nya dalam KBK, Malang: Universitas Negeri Malang.
0 komentar:
Posting Komentar
Komentari