bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online
bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

PENINGKATAN MINAT BELAJAR KIMIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT

Posted by David Sigalingging, S.Pd on Senin, 29 Agustus 2011

RINGKASAN


PENELITIAN TINDAKAN  KELAS



PENINGKATAN MINAT BELAJAR KIMIA
MELALUI


MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TGT


 


 


 


 


 


 


 


Disusun oleh :


Subakri, S.Ag (Kepala Sekolah SMA Islam Jember)


Widyas Palupi, S.Tp (SMA Islam Jember)


Erni Sulistiana, S. Pd (SMAN 1 Arjasa Jember


 


 


 


 


Workshop Penelitian Tindakan Kelas


Dinas Pendidikan dan Kebudayaan


Propinsi Jawa Timur


2005

I. PENDAHULUAN

 


Dewasa ini telah dikembangkan strategi pembelajaran yang dikenal dengan nama Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan nyata dan memotivasi siswa untuk mengkaitkan pengetahuan pelajaran yang dipelajarinya dengan kehidupan mereka. Pembelajaran kooperatif terbagi menjadi beberapa tipe, diantaranya tipe TGT (Team Game Tournament) yaitu pembelajaran kooperatif yang hampir sama dengan tipe STAD (Student Team Achievement Division) yang dilengkapi dengan pertandingan akademis yang mana setiap kelompok mempunyai kemampuan yang sama (Wawang, 2000).

Masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut : a) Bagaimana pengelolaan pembelajaran berdasarkan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ?  b) Bagaima meningkatkan minat belajar siswa terhadap mata pelajaran Kimia dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ? c) Bagaimana ketuntasan belajar siswa dengan menggunakan model pembalajaran kooperatif tipe TGT ?

Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan minat belajar siswa  pada mata pelajaran Kimia untuk meningkatkan  hasil belajar siswa. Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : Guru menjadi lebih profesional, meningkatkan minat belajar siswa dan memperbaiki dan peningkatan mutu pembelajaran.

 

II. KAJIAN PUSTAKA




Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait, yang meliputi 1) saling ketergantung positif, 2) interaksi tatap muka, 3) akuntabilitas individual, dan 4) ketrampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau ketrampilan sosial yang secara sengaja diajarkan. Pembelajaran kooperatif secara ekstensif atas dasar teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit apabila meraka dapat saling mendiskusikan konsep-konsep itu dengan temannya.

Pembelajaran Kooperatif menurut Wawang (2004) terbagi menjadi 5 tipe, yaitu Studen Teams Achievement Division (STAD), Teams-Games Tournament (TGT), Jigsaw II, Groups Investigation (GI) dan Metode Strukltural.

Tipe TGT hampir sama dengan tipe STAD dalam hal jumlah anggota dalam kelompok 4-5, kuis, dan sistem perhitungan Individual Improvement Point (IP). Tipe TGT menggunakan pertandingan akademis yang mana setiap kelompok tournament mempunyai kemampuan yang sama. Sintax dari model pembelajaran ini meliputi urutan Class Presentation, Team study, Tournament Table, dan Team Recognition,

Dalam penelitian tindakan kelas ini guru meneliti sendiri terhadap kegiatan pembelajaran dengan guru mitra sebagai pengamat. Sebelum pelaksanaan penelitian dilakukan sosialisasi dan simulasi model pembelajaran yang akan diterapkan.  Selama  proses pembelajaran dilakukan pengamatan dengan menggunakan lembar observasi pengelolaan kegiatan pembelajaran. Setelah pembelajaran selesai siswa diminta mengisi lembar respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran, selanjutnya refleksi untuk menuju pada siklus kedua.

 

III. METODE PENELITIAN


 


            Penelitian dilakukan di SMA Islam Jember. Subjek penelitian adalah siswa kelas X yang berjumlah 28 anak dengan rincian 19 putra dan 9 putri, Sebagian siswa memiliki minat rendah untuk mengikuti pelajaran yang ditandai ketidak hadiran siswa-siswa tersebut pada jam ketiga dan seterusnya.

Persiapan penelitian meliputi observasi pra penelitian untuk mengetahui minat awal siswa terhadap mata pelajaran Kimia. Model pembelajaran yang akan diterapkan pada penelitian merupakan model baru bagi proses pembelajaran di SMA Islam Jember, sehingga perlu dilakukan sosialisasi kepada siswa yang dilanjutkan dengan simulasi turnamen.

Penelitian ini dibagi dalam dua siklus yang disesuaikan dengan rencana pembelajaran pada materi pokok struktur atom dan sistem periodik. Masing-masing siklus terdiri dari: 1) Perencanaan 2) Tindakan, 3) Observasi, 4) Refleksi

Penelitian ini memerlukan empat intrumen pengamatan untuk mengamati : a) Pengelolaan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar pengamatan pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe TGT, b) Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran. c) minat siswa sebelum dan selama penelitian dengan menggunakan lembar observasi minat siswa dan d) ketuntasan belajar siswa melalaui analisis pencapaian hasil belajar

 

 

 

 

 

IV.  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


 



Implementasi Perangkat Pembelajaran


Implementasi perangkat pembelajaran dilakukan di SMA Islam Jember dari tanggal 25 Agustus 2005 sampai dengan 2 September 2005 dengan subjek penelitian sejumlah 16 siswa kelas X Semester 1 tahun pelajaran 2005/2006. Selama penelitian dilaksanakan, peneliti bertindak sebagai guru, sedangkan pengamat adalah guru kolaboran.

Data yang diperoleh dari siklus 1 dan siklus 2 pada penelitian ini dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif  yang umumnya berupa deskripsi skor rata-rata dan prosentase. Hasil penelitian dan analisis data penelitian siklus 1 dan siklus 2 diuraikan sebagai berikut :

 

  1. 1.    Kemampuan Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif tipe TGT


Hasil pengamatan terhadap pengelolaan pembelajaran pada setiap siklus dengan menggunakan istrumen 2, pengamatan dilakukan oleh seorang guru kolaboran saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Data dari Rp-1 (siklus-1) dan RP-2 (Siklus-2) dijumlah, diambil rata-rata dan ditentukan kategorinya. Secara ringkas hasil pengolahan data ini dapat dilihat pada Tabel 1 berikut :

 

Tabel 1.   Penilaian Pengelolaan Pembelajaran melalui model Pembelajaran tipe TGT























































No.



Aspek yang diamati



Skor tiap RP



Skor


Rata-rata



Kate-gori



RP-1



RP-2


1Pendahuluan

3,33



3,67



3,50



Baik


2Kegiatan inti

3,13



3,63



3,38



Baik


3Penutup

3,00



4,00



3,50



Baik


4Pengelolaan waktu

3,00



3,00



3,00



Baik


5Pengamatan suasana kelas

3,25



3,25



3,25



Baik



 

Dari tabel 1 di atas menunjukkan bahwa pada masing-masing aspek yang diamati mempunyai kategori baik. Hal ini berarti kemampuan guru mengelola pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah baik, sehingga siswa menjadi tertarik untuk mengikuti pelajaran.

 

  1. 2.    Respon siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran


Data respon siswa diambil dari intrumen 3 yang diisi oleh siswa. Hasil pengolahan data dapat dilihat pada Tabel 2 berikut :

Tabel 2. Respon Siswa terhadap Kegiatan Pembelajaran















































































































No.



Uraian Kegiatan Pembelajaran



Respon siswa (%)



Baru



Tidak Baru



Senang



Tidak Senang



RP-1



RP-2



RP-1



RP-2



RP-1



RP-2



RP-1



RP-2



1




Materi




100



100



0



0



81.2



93.8



87.5



18.8



6.2



12.5



2




Bahan Tertulis




100



100



0



0



68.7



75



71.9



31.3



25.0



28.1



3



Lembar kerja Siswa



100



100



0



0



68.7



81.3



75



31.3



18.7



25.0



4



Suasana


Kelas



62.5



31.3



37.5



68.8



56.3



75



65.6



43.7



25.0



34.4



5



Penampilan Guru



81.3



87.5



18.8



12.5



87.5



87.5



87.5



12.5



12.5



12.5



6



Cara Guru Mengajar



87.5



37.5



12.5



62.5



87.5



93.8



90.2



12.5



6.2



9.4



 

Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa materi, bahan tertulis, dan LKS adalah baru karena ketiga hal tersebut baru diberikan pada saat penelitian dilakukan, sedangkan untuk suasana kelas pada beberapa siswa sudah pernah melakukan sebagian dari metode pembelajaran, yaitu metode diskusi dan tanya jawab yang juga terdapat pada model pembelajaran ini, sehingga prosentasenya tidak terlalu tinggi.

Prosentase tingkat kesenangan terhadap pembelajaran cukup baik seperti yang ditunjukan oleh rata-rata diatas 70 % untuk semua bagian kegiatan pembelajaran, kecuali pada suasana kelas. Hal ini terjadi karena ada beberapa siswa yang tidak suka terhadap metode diskusi dan kompetisi dalam turnamen. Namun secara umum ada peningkatan prosentase kesenangan dari RP-1 ke RP-2, yang berarti pula metode yang digunakan berhasil meningkatkan daya tarik siswa terhadap mata pelajaran Kimia.

 

  1. 3.    Minat Siswa Sebelum dan Sesudah Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT


Data minat siswa diperoleh dari isian intrumen I yang diisi oleh 16 siswa. Data minat siswa terhadap mata pelajaran Kimia secara ringkas disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Minat Siswa Sebelum dan Sesudah Penerapan Modell Pembelajaran Kooperatif tipe TGT

 































No.



Kriteria



Prosentase (%)



Sebelum



Sesudah


1Siswa yang kurang berminat

18.75



18.75


2Siswa yang berminat

56.25



18.75


3Siswa yang sangat berminat

25.00



62.50



 

Dari Tabel 3 nampak bahwa setelah penerapan Model Pembelajaran Kooperatif tipe TGT jumlah siswa yang sangat berminat menjadi meningkat, hal ini berarti telah terjadi penurunan jumlah siswa yang hanya berminat tetapi model pembelajaran kooperatif tipe TGT pada kasus ini tidak berhasil meniadakan siswa yang kurang  berminat. Hal ini terjadi karena untuk siswa yang kurang berminat berdasarkan pendapat non objektif, mereka kurang tertarik pada pelajaran Kimia.

 

  1. 4.    Ketuntasan Belajar pada Setiap Sub Materi


Data ketuntasan belajar pada setiap sub materi dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT diperoleh dari hasil tes setiap individu pada setiap rencana pembelajaran.

Pada rencana pembelajaran 1 (RP-1) siswa diberi 5 soal objektif dan 5 soal uraian objektif dengan waktu penyelesaian 45 menit, sedangkan pada rencana pembelajaran 2 (RP-2) siswa diberi 5 soal objektif dan 3 soal uraian objektif dengan waktu penyelesaian 35 menit.

Data yang diperoleh kemudian dianalisis melalui analisis pencapaian hasil belajar disetiap rencana pembelajaran. Prosentase ketuntasan belajar siswa diperoleh dengann kriteria tuntas untuk proporsi menjawab benar secara individu minimal 75 %. Hasil analisis ketuntasan belajar disajikan pada Tabel 4.

 

Tabel 4. Ketuntasan Belajar Siswa


































No.



Rencana


Pembelajaran



Keadaan siswa dalam ketuntasan belajar



Jumlah siswa yang



Ketuntasan


(%)



ikut



tuntas



Tidak tuntas


1RP- 1

16



5



11



31.3


2RP-2

16



7



9



43.8



 

Dari Tabel 4, nampak bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Kooperatif tipe TGT telah terjadi peningkatan prosentase ketuntasan belajar siswa, hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran ini siswa semakin mampu untuk menguasai  materi yang diajarkan.

 

V. KESIMPULAN DAN SARAN


 


5.1 Kesimpulan

            Berdasarkan hasil analisis data terhadap penelitian perangkat pembelajaran Kimia dengan materi Struktur Atom dan Sistem Periodik di SMA Islam Jember yang dilakukan dengan menggunakan 2 (dua) siklus, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran kooperatid tipe TGT adalah baik. Skenario dapat dilaksanakan sesuai alokasi waktu yang ditentukan.

  2. Respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran adalah baik. Siswa senang dengan model pembelajaran yang diterapkan, sehingga mendukung daya tarik siswa terhadap mata pelajaran Kimia.

  3. Minat siswa mengalami peningkatan setelah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT .

  4. Ketuntasan belajar siswa meningkat dari siklus 1 ke siklus 2. Model pembelajaran kooperatif  tipe TGT dapat meningkatkan penguasaan siswa terhadap  materi yang diajarkan.


 

5.2 Saran

Memperhatikan hasil penelitian yang diperoleh, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT perlu untuk diterapkan pada sub materi lainnya khususnya materi yang memberikan pemahaman konsep.




 

DAFTAR PUSTAKA


 

 

 

Depdiknas, 2003, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajaran Kimia, Jakarta.

 

Depdiknas, Dikmenum, 2004, Pedoman Khusus Pengembangan Instrumen dan Penilaian Ranah Afektif. Jakarta.

 

Depdiknas, Dikmenum, 2004, Pedoman Khusus Pengembangan Intrumen dan Penilaian Ranah Psikomotor, Jakarta.

 

Hoetawarman, Wawang, 2000, Laporan Akhir Penelitian Tindakan Kelas “Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk Meningkatkan Ketrampilan Proses Siswa pada Pembelajaran Konsep Kesetimbangan Kimia di Kelas II Cawu I SMU Negeri I Jombang, Lembaga Penelitian Univ. Negeri Malang, Malang.

 

Hoetawarman, Wawang, 2004, Model Pembelajaran Kooperatif. Jaringan Inovasi Pembelajaran.

 

Nurhadi, dkk., 2004, Pembelajaran konstektual dan Penerapan nya dalam KBK, Malang: Universitas Negeri Malang.

 

 

Blog, Updated at: 16.10

0 komentar:

Posting Komentar

Komentari

bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online