RINGKASAN LAPORAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENINGKATAN KETUNTASAN BELAJAR
SISWA KELAS X PADA KOMPETENSI DASAR
STRUKTUR ATOM, SIFAT-SIFAT PERIODIK UNSUR DAN IKATAN KIMIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD
Disusun oleh :
MASRINA DWI PUSPITA, S.Pd. dkk.
Workshop
Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
Gugus Penelitian Tindakan Kelas (PTK) Kimia
SMA ISLAM DARUT TAUHID BANGIL
KABUPATEN PASURUAN, PROPINSI JAWA TIMUR
PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR
DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
SATKER PEMBINAAN PENDIDIKAN MENENGAH UMUM
2005
PENINGKATAN KETUNTASAN BELAJAR SISWA KELAS X PADA KOMPETENSI DASAR STRUKTUR ATOM,
SIFAT-SIFAT PERIODIK UNSUR DAN
IKATAN KIMIA MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE STAD
A. PENDAHULUAN
- 1. Latar Belakang
- Pencapaian jumlah siswa yang tuntas belajar di SMA Islam Darut Tauhid Bangil ternyata masih rendah. Dikatakan rendah karena belum mencapai ketuntasan belajar menurut kurikulum SMU 1994 yaitu memperoleh nilai > 65.
- Pembelajaran masih berpusat pada guru (Teacher Centered), padahal menurut kurikulum 2004, kegiatan belajar mengajar harus berpusat pada siswa (Student Centered) yang artinya siswa harus lebih aktif menggali informasi sendiri (Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD).
- Dalam mempelajari konsep kimia, siswa kurang bisa mengaitkan konsep yang ada ke dalam kehidupan sehari-hari sehingga siswa akan mengalami kesulitan bila dihadapkan pada bahan pengajaran baru (Pendekatan Kontekstual/CTL)
- 2. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, maka penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut :
- Bagaimana kemampuan guru dalam mengolah KBM melalui penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD?
- Bagaimana aktivitas guru dan siswa selama Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD?
- Bagaimana ketuntasan belajar siswa setelah menerapkan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD?
- 3. Batasan Masalah
- Peneliti hanya membahas tentang ketuntasan belajar siswa dan pengelolaan guru dalam menerapkan model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
- Materi pembelajaran dibatasi pada komptensi dasar struktur atom, sifat-sifat periodik unsur dan ikatan kimia.
- Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini dibatasi pada 2 siklus, yaitu :
Siklus 1 : membahas tentang sifat keperiodikan unsur
Siklus 2 : perkembangan teori atom
- Sasaran penelitian adalah siswa kelas X SMA Islam Darut Tauhid Bangil
- 4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :
- Kemampuan guru dalam mengolah KBM melalui penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
- Aktivitas guru dan siswa selama Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
- Ketuntasan belajar siswa setelah menerapkan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
- 5. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
- Bagi siswa, dapat memupuk budaya membaca, berdiskusi/bekerja kelompok dan menggali informasi sendiri sehingga dapat belajar mandiri.
- Bagi guru, dapat dijadikan sebagai contoh model pembelajaran kimia yang berorientasi pada model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD untuk membantu siswa dalam memahami konsep-konsep kimia.
- Dapat digunakan sebagai bahan masukan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, khususnya dapat meningkatkan nilai akademis siswa
- Efektifitas Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
- Pengertian Pendekatan Kontekstual
- Stratgei Pelaksanaan Pembelajaran Kontekstual
- Evaluasi Pendekatan Kontekstual
- Pendekatan Konstruktivis
- Pembelajaran Kooperatif
- Pelaksanaan Pembelajaran Kooperatif
- Tujuan Pembelajaran dan Hasil Belajar
- Kelebihan dan Kelemahan Pembelajaran Kooperatif
- Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
- 1. Seting Penelitian
B. KAJIAN PUSTAKA
C. METODE PENELITIAN
Karakteristik Sekolah I
- Karakteristik Lokasi :
1) Nama Sekolah : SMA Islam Darut Tauhid Bangil
2) Alamat Sekolah : Jl. Layur No. 55 Bangil
3) Kelas : X
4) Lingkungan Fisik : Lokasi sekolah dekat dengan jalan raya
5) Lingkungan Sosial : 300 meter dari lingkungan pondok
- Karakteristik Siswa :
1) Komposisi siswa : 16 siswa (12 siswa perempuan
dan 4 siswa laki-laki)
2) Kemampuan Akademis : Heterogen
3) Motivasi Belajar : Cukup
4) Latar Belakang Sosial/Ekonomi : Menengah kebawah
- Karakteristik Guru (Peneliti)
1) Nama Guru : Masrina Dwi Puspita, S.Pd.
2) Tempat Tanggal Lahir : Sidoarjo, 5 Februari 1982
3) Pendidikan : S-1 Pendidikan Kimia UNESA
4) Agama : Islam
5) Kebangsaan : Indonesia
- 2. Persiapan Penelitian
Dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini, peneliti memilih menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang kemudian membuat satuan pelajaran, rencana pelajaran dan perangkat pembelajaran (LKS, buku siswa, dll).
- 3. Siklus Penelitian
Materi pembelajaran siklus I : Sifat Keperiodikan Unsur (2 jam pelajaran)
Materi pembelajaran siklus II : Perkembangan Teori Atom (2 jam pelajaran)
- 4. Instrumen
- Lembar Tes
Post test digunakan untuk mengetahui sejauhmana ketuntasan belajar yang dapat dicapai siswa.
- Lembar Observasi, berupa :
- Lembar pengamatan pengelolaan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD.
- Lembar observasi aktivitas guru dan siswa.
- 5. Analisis dan Refleksi
- Metode Pengumpulan Data
1) Observasi
2) Metode Tes
- Metode Analisis Data
1) Data hasil ketuntasan belajar siswa
Secara individual, siswa telah tuntas belajar jika mencapai skor 65% atau nilai 65. Secara klasikal dinyatakan tuntas belajar jika terdapat > 85% dari jumlah siswa telah tuntas belajar. (Depdikbud 1994).
2) Data hasil pengamatan aktivitas guru dan aktivitas siswa
Hasil observasi dianalisis dengan jumlah aktivitas siswa yang dilakukan dibagi jumlah siswa yang melakukan aktivitas dibagi waktu keseluruhan dikali 100%.
D. HASIL PENELITIAN
Tabel 4.11
Pengelolaan Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
No. | Aspek yang Diamati | Siklus | |
I | II | ||
I | Persiapan | 3 | 4 |
II | Pelaksanaan | ||
| 3,3 | 4 | |
| 3,3 | 3,8 | |
| 4 | 4 | |
III | Pengelolaan Waktu | 3 | 3 |
IV | Suasana Kelas | 3,6 | 4 |
Tabel 4.12
Aktivitas Guru
No. | Aktifitas Guru | Siklus | |
I | II | ||
1. | Menyampaikan informasi tentang materi | 11,11 | 11,11 |
2. | Membimbing siswa mengerjakan LKS dengan benar | 16,66 | 15 |
3. | Mendorong dan membimbing keterampilan koopertif | 21,27 | 25 |
4. | Mengawasi setiap kelompok secara bergilir | 14,66 | 15 |
5. | Membantu kelompok yang mengalami kesulitan | 22,21 | 13,89 |
6. | Memberi umpan balik/evaluasi | 13,66 | 20 |
7. | Perilaku yang tidak relevan | 0 | 0 |
| Jumlah | 100 | 100 | |
Tabel 4.13
Aktivitas Siswa
No. | Aktifitas Guru | Siklus | |
I | II | ||
1. | Mendengarkan dan memperhatikan penjelasan guru | 15 | 15 |
2. | Membaca (buku siswa/LKS) | 16,20 | 17,20 |
3. | Mengerjakan LKS | 28,86 | 18,24 |
4. | Berlatih keterampilan kooperatif | 20,24 | 28,86 |
5. | Mempresentasikan hasil kerja kelompok | 14,20 | 20,20 |
6. | Perilaku yang tidak relevan | 5,50 | 0,5 |
| Jumlah | 100 | 100 | |
Tabel 4.14
Ketuntasan Belajar
No. | Uraian | Siklus | |
I | II | ||
1. | Jumlah siswa yang tuntas > 65 | 10 | 13 |
2. | Jumlah siswa yang tidak tuntas < 65 | 6 | 3 |
| Prosentase ketuntasan belajar | 62,50% | 81,25% | |
E. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Kemampuan guru dalam mengelola KBM mengalami peningkatan dari siklus I, dan siklus II yaitu dengan nilai rata-rata 3,56 pada siklus I dengan kategori baik menjadi 3,87 dengan kategori baik pada putaran II. Dengan demikian terjadi peningkatan kualitas dalam pembelajaran.
- Aktivitas guru yang sering muncul pada siklus I adalah membantu kelompok yang mengalami kesulitan (22,21%), pada siklus II aktivitas yang sering dilakukan adalah mendorong dan membimbing keterampilan kooperatif (25%). Dengan demikian, siswa lebih aktif dalam KBM dan lebih bisa belajar mandiri (student oriented) sehingga guru bisa menjalankan perannya sebagai fasilitator dan motivator dalam pelaksanaan pembelajaran.
Aktivitas siswa berlatih keterampilan kooperatif pada tiap siklus terjadi peningkatan aktivitas, yaitu pada siklus I sebesar 20,29% meningkat pada siklus II menjadi 28,86%. Hal ini menunjukkan bahwa siswa lebih interaktif dalam kegiatan belajarnya sehingga pembelajaran lebih berpusat pada siswa (student oriented)
- Hasil belajar siswa mengalami peningkatan pada tiap siklus yaitu : pada siklus pertama ketuntasan klasikal sebesar 62,50% dengan nilai rata-rata 65,05 dan pada siklus kedua ketuntasan klasikal sebesar 81,25% dengan rata-rata 71,37. Dengan demikian hasil ketuntasan belajar siswa secara individu maupun klasikal dapat dikatakan memuaskan sehingga model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan pendekatan kontekstual efektif dan dapat membantu siswa mencapai ketuntasan belajar.
- Peneliti lanjutan dapat memadukan beberapa model-model pembelajaran yang bisa dipadukan ke dalam model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD sehingga tingkat keberhasilan akan semakin besar.
- Pendekatan kontekstual pada Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dapat menjadi satu alternatif sebagai upaya untuk meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa dan mengaktifkan proses pembelajaran.
0 komentar:
Posting Komentar
Komentari