bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online
bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

Metode Struktur Analitik Sintetik

Posted by David Sigalingging, S.Pd on Rabu, 22 September 2010

Upaya Peningkatan Keterampilan Membaca Nyaring Pada Siswa SD Negeri Cibeber 2 Kelas 1 Dengan Metode Struktur Analitik Sintetik
Oleh: Dewi Anis Rubaah, S.Pd.

Abstrak
Penelitian tindakan kelas yang dilakukan terhadap pembelajaran membaca nyaring melalui metode Sintetik Analitik Sintetik (SAS) di SD Negeri 2 Cibeber Kelas 1 dilakukan terhadap dua siklus. Setiap siklus terdiri ats empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan  (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan hasil belajar membaca nyaring dengan menerapkan  metode SAS. Fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi dari kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan teknik tes.  Hasil penelitian menunjukkan telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa sebagaimana diuraikan berikut ini. Hasil pengerjaan tugas nomor 1 adalah 20 – 6,5 = 13,5.,  tugas nomor 2  adalah 20 – 6,8 = 13,2. Adapun hasil pengerjaan tugas nomor 3 adalah 20 – 7 = 13, tugas nomor 4 adalah 20 – 8,7 = 11,3, dan tugas nomor 5 adalah 20 – 7,2 = 12,8. Perbandingan ketercapaian setiap tugas sebagai indikator 1:2:3:4:5 adalah 13,5 :  13,2 : 13 : 11,3 : 12,8  =  68,3. Adapun rata – rata ketercapaian peningkatan hasil belajar siswa untuk seluruh tugas adalah 7,2. Ketercapaian tersebut bila dibandingkan siklus pertama dan siklus kedua  adalah 7,2 : 20 yang berarti terdapat selisih ketercapaian sebesar 12,8. Rata-rata kemampuan keterampilan membaca nyaring siklus pertama adalah 7,2 dan siklus kedua adalah 20 Selisih keduanya merupakan  peningkatan hasil belajar yaitu sebesar 20 – 7,2 = 12,8. Besarnya prosentase peningkatan hasil belajar siklus pertama dan kedua adalah 47,41%. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa hipotesis yang dibangun untuk penelitian ini terbukti kebenarannya yaitu kemampuan membaca nyaring siswa SD Negeri 2 Cibeber Kelas 1 meningkat melalui metoda SAS.


Kata Kunci:  Penelitian tindakan kelas, membaca nyaring, metode SAS

A. Pendahuluan

1.    Latar Belakang Masalah

Membaca adalah salah satu kompetensi dasar (KD) yang harus ditempuh dan dikuasai oleh seluruh siswa sekolah dasar terutama kelas satu. Membaca termasuk keterampilan yang sangat penting dalam mengawali suatu ilmu. Telah dirumuskan dalam kurikulum  KBK 2004 semester awal untuk kompetensi dasar (KD) membaca nyaring (lancar). Dengan indikator (1) membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang benar, (2) membaca dengan memperhatikan tempat jeda (untuk berhenti, menarik nafas), jeda panjang atau pendek, (3) membaca dengan memberikan penekanan pada kata tertentu sesuai dengan konteksnya (Depdiknas. 2003 : 21), telah diajarkan dengan menggunakan metode penugasan.

Adapun urutan pembelajarannya sebagai berikut. Kegiatan diawali dengan mengecek kehadiran siswa, kemudian berdoa dan mengingatkan sikap duduk yang baik selama pembelajaran. Langkah berikutnya adalah pengkondisian kelas dengan cara menjelaskan materi yang akan di bahas dan dipelajari. Dalam kegiatan inti dibacakan sebuah teks pendek yang berjudul “Ke Kebun Binatang” dengan intonasi yang benar, memperhatikan tempat jeda dan memberi penekanan pada kata. Kemudian, semua siswa diminta menirukan kembali cara pembacaan tersebut.

Selanjutnya, dijelaskan secara rinci apa itu intonasi, jeda dan penekanan pada kata sekaligus memberikan contoh. Hal ini penting dalam membaca suatu teks pendek maupun panjang, karena tanpa aturan membaca, makna atau arti sebuah kata atau kalimat akan berbeda dan salah. Dalam konteks ini, sebuah aturan akan lebih baik ditanamkan sejak dini, agar siswa tidak salah mengartikan suatu kata baik dalam pembelajaran di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah berikutnya adalah memberikan tugas secara perorangan kepada siswa untuk membaca teks lain yang berjudul “Jagalah Kesehatan Gigimu” Terhadap kegiatan ini digunakan pedoman penilaian membaca nyaring. Adapun aspek yang dinilai adalah lafal, intonasi, jeda panjang, jeda pendek, dan penekanan pada kata tertentu sesuai konteks.

Berdasarkan refleksi pembelajaran dari hasil yang dicapai oleh siswa dalam membaca, ternyata masih masih banyak siswa dalam setiap kelompok yang belum bisa membaca dengan lancar. Dari 30 orang siswa, hanya  satu orang memperoleh nilai enam, satu orang mendapat nilai lima setengah, satu orang mendapat nilai lima, delapan orang mendapat nilai empat, tujuh orang mendapat nilai tiga koma lima, tujuh orang mendapat nilai 3, dan lima orang mendapat nilai dua koma lima. Rata-rata nilai yang diperoleh adalah 3,5. Nilai rata-rata ini belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan adalah yaitu 80.

2.    Masalah dan Pemecahan Masalah

Rendahnya nilai yang diperoleh oleh siswa menunjukan telah terjadi kegagalan dalam proses pembelajaran dan tentunya hasil belajar juga. Kegagalan yang timbul tersebut harus segera ditanggulangi, sebab kemampuan dalam pembelajaran membaca nyaring secara lancar dengan memperhatikan intonasi, tanda baca, dan jeda adalah kunci keberhasilan seorang siswa dalam memecahkan suatu masalah baik masalah pembelajaran di sekolah maupun masalah di kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun,  apabila seseorang salah mengartikan suatu kata atau kalimat maka akan bisa terjadi salah paham dan berakibat fatal.

Peneliti melakukan penelaahan terhadap beberapa metoda membaca. Peneliti memilih metode membaca Stuktur Analitik Sintetik (SAS). Metoda ini memiliki landasan linguistiknya bahwa itu ucapan bukan tulisan, unsur bahasa dalam metoda ini adalah kalimat, bahwa bahasa Indonesia mempunyai struktur tersendiri, landasan paedagogik yaitu 1). mengembangkan potensi dan pengamatan anak, 2). membimbing anak menemukan jawaban suatu masalah, sementara landasan psikologisnya adalah : bahwa pengamatan bersifat global (totalitas) dan bahwa anak usia sekolah memiliki sifat melit (ingin tahu) (Broto. Dalam Pakde Sofa. http://massofa.wordpress.com. 02/02/2009

Berdasarkan landasan psikologis di atas yang menyatakan bahwa pengamatan yang bersifat global akan diterapkan dalam pembelajaran membaca nyaring dengan disajikan sebuah teks yang menggambarkan situasi secara global. Siswa dibimbing oleh guru untuk membaca nyaring dengan memperhatikan lafal, intonasi, jeda, dan penekanan kata, hal ini relevan dengan landasan linguistic yang menyatakan bahwa bahasa bukan tulisan melainkan kalimat yang diucapkan sesuai dengan struktur kalimat yang meliputi lafal, intonasi, jeda, dan penekanan kata. Semua digunakan untuk mengembangkan potensi siswa dengan landasan paedagogik.

Dengan uraian di atas peneliti yakin bahwa pembelajaran membaca nyaring akan dapat mencapai KKM yang ditetapkan.  Oleh karena itu, peneliti akan melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul sebagai berikut “Upaya Peningkatan Keterampilan Membaca Nyaring pada siswa SDN Cibeber 2 kelas 1 Melalui Metoda Stuktur Analitik Sintetik (SAS).”

3.    Tujuan Penelitian dan Harapan

Tujuan penelitian yang akan dicapai adalah untuk meningkatkan keterampilan siswa SDN Cibeber 2 kelas 1 dalam membaca nyaring melalui metoda SAS. Peneliti mengharapkan agar hasil penelitian ini  bermanfaat bagi siswa dalam meningkatkan kemampuannya dalam membaca nyaring. Sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah agar lebih memperhatikan media pembelajaran yang begitu penting untuk kelangsungan KBM. Sebagai bahan masukan bagi seluruh warga sekolah agar bersama-sama mensukseskan pembelajaran.

B. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas terhadap pembelajaran membaca nyaring melalui metoda SAS dilakukan oleh peneliti sampai dua siklus. Dalam setiap siklus terdapat empat fase yaitu (1) merencanakan PTK, (2) melaksanakan PTK, (3) melaksanakan observasi, dan  (4) melakukan refleksi. Keempat fase tersebut direncanakan dan dilaksanakan untuk meningkatkan keterampilan siswa SDN Cibeber 2 kelas 1 dalam membaca nyaring melalui metoda SAS.
Fase-fase pada siklus pertama dirancang dari hasil refleksi  kegiatan pembelajaran sehari-hari. Sedangkan fase-fase pada siklus kedua dirancang dari hasil refleksi siklus pertama. Berikut ini, peneliti menjelaskan kegiatan yang dilakukan pada setiap fase sebagai berikut.

Beberapa kegiatan yang peneliti lakukan dalam merencanakan PTK Pertama menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) membaca nyaring melalui metode Struktur Analitik Sintetik (SAS). Kedua Menyusun teks bacaan. Ketiga menyusun pedoman penilaian dan format penilaian. Keempat  menyusun format observasi sebagai instrumen untuk mengumpulkan data tentang proses pembelajaran.
Kegiatan melaksanakan PTK adalah pelaksanaan dari pembelajaran membaca nyaring melalui metoda SAS dengan mengacu pada rencana pelaksanaan pembelajaran yang telah di susun. Observasi atau pengamatan dilakukan oleh tiga observer terhadap proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti. Dalam observasi ini dilampirkan pedoman observasi. Ketiga observer itu adalah Ahmad Atje S.Pd, Sani NR, S.Pd, dan Cecep Rahmat H, S.Pd. Dalam kegiatan refleksi tiap siklus peneliti bersama-sama ketiga observer setelah dilakukan proses pembelajaran siklus pertama dan kedua berakhir. Hasil refleksi adalah ditemukannya masalah yang menjadi faktor penghambat dalam peningkatan membaca nyaring  melalui metoda SAS .

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi dan tes. Bogdan dalam Moehadjir (1996:102) menjelaskan, bahwa secara rinci berbagai kejadian bukan ringkasan atau opini dan mengutip penyataan orang bukan meringkas apa yang dikatakan orang.

Berikut adalah dimensi-dimensi yang harus di deskripsikan (1) tampilan fisik siswa dan guru, (2) dialog yang terjadi dalam proses pembelajaran, (3) lingkungan fisik atau  kelas dengan berbagai situasinya, (4) kejadian-kejadian khusus yang dilakukan oleh siswa ketika berinteraksi dengan media/sumber belajar, (5) aktivitas siswa dan guru dalam SAS model pembelajaran, serta (6) ide-ide dari peneliti perlu dideskripsikan terperinci, karena peneliti bagian dari penelitian.

Teknik tes adalah tes yang diberikan guru kepada siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Selama tes berlangsung, peneliti selalu memberikan motivasi dan arahan sekaligus mengevaluasi hasil belajar setiap siswa. Apabila masih ditemukan kesulitan dalam tes sikap siswa.
Data hasil penampilan siswa (tes) digunakan untuk mengukur tingkat keterampilan siswa dalam membaca nyaring melalui metoda SAS  adalah dari hasil penampilan siswa pada siklus pertama dan siklus kedua. Data yang diperoleh peneliti adalah berupa angka/nilai, maka teknik pengolahan data yang digunakan adalah teknik kuantitatif.

Berikut adalah langkah-langkah menggunakan teknik kuantitatif : membandingkan prosentase ketercapaian setiap tugas dari setiap kelompok pada siklus pertama dan  prosentase ketercapaian setiap tugas dari setiap kelompok pada siklus kedua.
Selisih hasil penampilan siklus kedua dan siklus pertama merupakan hasil belajar (Arikunto,1998:84). Hasil belajar tersebut yaitu dapat membaca nyaring  melalui metoda SAS . Apabila terjadi peningkatan membaca nyaring melalui metoda SAS, berarti hipotesis terbukti. Jika tidak terjadi peningkatan membaca nyaring melalui metoda SAS,berarti hipotesis tidak terbukti.



C. Hasil  Penelitian


1.    Hasil Penelitian Siklus I, Pertemuan 1 dan 2

Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan peneliti menjelaskan manfaat mempelajari kompetensi dasar pentingnya membaca nyaring dalam pembelajaran sehari-hari siswa kelas satu SD. Peneliti berkata, “Pentingnya membaca nyaring dalam pembelajaran sehari-hari adalah sebagai berikut. Pertama, sebagai dasar/ acuan bagi kalian untuk mempelajari kompetensi-kompetensi dasar lainnya. Kedua, akan menumbuhkan keterampilan membaca teks pendek dengan lafal dan intonasi yang benar, Ketiga dapat membaca dengan memperhatikan jeda (untuk berhenti, menarik nafas), jeda panjang atau pendek. Keempat dapat membaca dengan memberikan penekanan pada kata tertentu sesuai dengan konteknya.

Selama peneliti menjelaskan manfaat mempelajari kompetensi dasar tersebut, terlihat para siswa antusias dan tertarik untuk memahami pentingnya membaca nyaring  dalam pembelajaran sehari-hari. Selanjutnya, peneliti memberikan kesempatan untuk bertanya kepada para siswa, namun tidak ada yang menjawab. Kemudian peneliti bertanya kepada kepada para siswa “ Apakah kalian sudah paham dengan materi yang sudah ibu jelaskan ?”. Dan semua siswa menjawab “Paham bu!”. “Terima kasih anak-anak.” Jawab Peneliti.

Selanjutnya peneliti membentuk kelompok dengan cara menyebutkan nama-nama siswa yang menjadi anggota kelompok 1,2,3.4 dan 5. Setiap kelompok beranggotakan enam orang yang terdiri atas siswa yang cerdas, sedang dan kurang dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Setelah pembentukan kelompok selesai, pembelajaran di lajutkan pada kegiatan inti.

Kegiatan Inti

Peneliti menjelaskan materi pembelajaran dan metoda pembelajaran yang akan dilaksanakan. Setelah pembelajaran dijelaskan peneliti memberi contoh membaca dengan memperhatikan lafal dan intonasi, jeda panjang dan jeda pendek, serta penekanan pada kata tertentu dalam kalimat sesuai konteksnya.

Pada kegiatan ini banyak siswa yang tidak memperhatikan peneliti membaca teks.
Setelah penjelasan selesai, peneliti membagikan lembar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap siswa. Dalam tugas tersebut, peneliti memberikan gambar dan kalimat/ bacaan. Setiap siswa berlatih membaca kalimat/ bacaan yang diberikan. Siswa berlatih masing-masing. Ada beberapa siswa yang tidak melakukan latihan membaca teks. Peneliti mendekati siswa yang belum melakukan latihan membaca teks.

Setelah cukup berlatih, beberapa siswa tampil ke depan kelas untuk membaca nyaring dengan memeperhatikan lafal, intonasi, jeda pendek, jeda panjang, dan penekanan kata yang benar. Setelah siswa berlatih peneliti memanggil siswa untuk di test satu persatu di depan kelas. Peneliti memanggil siswa untuk ditest berdasarkan nomor urut absen, dimulai dari absen pertama.

Beberapa siswa tidak mau ditest, salah satunya Friska. Friska menolak untuk ditest. Peneliti bertanya kenapa tidak mau ditest, Friska hanya menggeleng saja. Peneliti memanggil siswa lainnya. Siswa tidak dapat membaca teks yang diberikan dengan baik. Beberapa siswa membaca dengan suara yang sangat pelan hamper tidak terdengar. Siswa lainnya membaca sambil bercanda.

Selama melakukan pengetesan berkali-kali peneliti mengarahkan siswa untuk tidak rebut di kelas. Siswa diminta untuk latihan membaca sambil menunggu gilirannya dipanggil. Semua siswa mendapat kesempatan untuk ditest. Siawa yang tidakmau ditest setelah dibujuk akhirnya mau ke depan kelas. Peneliti melakukan penilaian terhadap setiap siswa pada saat siswa tampil ke depan kelas. Penilaian dilakukan dengan mengacu pada pedoman penilaian membaca nyaring. Hasil penilaian terhadap penampilan kelompok tersebut seperti pada tabel 4.1 berikut.

Tabel 4.1
Pemilaian Penampilan Setiap Siswa
Siklus Pertama Pertamuan Kesatu



Kegiatan Akhir

Pada kegiatan akhir peneliti dan siswa menyimpulkan pembelajaran, berdiskusi mengenai manfaat pembelajaran membaca nyaring dan penggunaan metoda SAS.

Refleksi Siklus Pertama

Refleksi siklus pertama pertemuan kesatu dan kedua dilakukan bersama tiga orang observer. Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan tugas/ indikator yang sudah tercapai dan yang belum tercapai dalam pembelajaran pertemuan kedua. Adapun caranya adalah dengan membandingkan ketercapaian rata-rata setiap tugas/ indikator dan ketercapaian rata-rata skor tiap kelompok pada pertemuan kesatu dan pertemuan kedua dengan KKM yang telah ditetapkan sebelumnya. Kemudian peneliti mencari penyebab dan solusi untuk mengatasinya.

Hasil Refleksi Siklus Pertama

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap tugas/indikator oleh seluruh kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 1 adalah 16,1. Rata-rata skor kriteria/indikator 1 telah mencapai  skor KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator1 masih kurang dari skor maksimal 20 yaitu kurang 3,9. Dengan demikian tugas/ indikator 1 dinyatakan tercapai. Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 2 adalah 10,8. Rata-rata skor kriteria/indikator 2 belum mencapai skor KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 2 masih kurang dari skor maksimal 20 yaitu kurang 9,2. Dengan demikian tugas/ indikator 2 dinyatakan belum tercapai.
Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 3 adalah 10. Rata-rata skor kriteria/indikator 3 belum mencapai skor KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 3 masih kurang dari skor maksimal 20 yaitu kurang 10. Dengan demikian tugas/ indikator 3 belum tercapai.

Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 4 adalah 10,1. Rata-rata skor kriteria/indikator 4 kurang dari  skor KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 4 masih kurang dari skor maksimal 20 yaitu kurang 9,9. dengan demikian tugas/ indikator 4 dinyatakan belum tercapai. Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 5 adalah 9,1. Rata-rata skor kriteria/indikator 5 belum mencapai skor KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 5 masih kurang dari skor maksimal 20 yaitu kurang 10,9. Dengan demikian tugas/ indikator 5 belum tercapai. Skor rata-rata yang telah dicapai oleh seluruh tugas/ indikator adalah 56,1 atau 56,1%. Bila dibandingkan dengan skor maksimal yaitu skor 100 atau 100%, maka terdapat kekurangan skor 43,9 atau 43,9 %. Bila dibandingkan dengan skor KKM yaitu 80 atau 80 %, maka terdapat kekurangan skor 23,9 atau23,9 %.
Berdasarkan  uraian data di atas maka kriteria yang menjadi masalah harus dicarikan penyebab dan solusinya. Yakni tugas/ indikator 2 tentang intonasi, tugas/indikator 3 tentang jeda pendek, tugas / indikator 4 tentang jeda pendek, tugas indikator 5 tentang penekanan kata.

Penyebab Kegagalan Siklus Pertama

Kegagalan pada siklus pertama disebabkan karena siswa tidak memperhatikan saat guru menberikan contoh dalam membacakan teks. Selain itu karena siswa tidak tertarik untuk membaca teks. Kegagalan lain diakibatkan oleh situasi belajar siswa yang tidak kondusif. Ada beberapa siswa yang tidak melakukan latihan sama sekali. Siswa yang duduk di belakang kelas hanya bermain-main saja ketika peneliti mengetest siswa di depan kelas. Hal di atas mengakibatkan pula siswa tidak  menampilkan membaca nyaring dengan baik. Sebagian besar siswa tidak mahami apa yang harus dilakukan. untuk hal tersebut peneliti menuliskan point-point di papan tulis tentang hal yang harus dilakukan siswa.
Pada kegiatan pemebelajaran peneliti sangat sering menegur dan mengarahkan siswa untuk diam dan jangan bermain-main. Siswa yang sudah ditest tidak memiliki tugas lain, sehingga mereka mengobrol atau bermain-main. Kondisi ini mengakibatkan kegiatan pembelajaran tidak efektif. Siswa yang sedang ditest menghentikan membacanya ketika peneli memberikan pengarahan pada siswa yang main-main saja.

Ada beberapa siswa yang tidak mau ke depan kelas untuk membaca karena tidak berani. Beberapa siswa membaca dengan suara yang sangat pelan sehingga tidak terdengar oleh peneliti. Sebagian besar siswa membaca teksnya tidak sesuai dengan arahan, peneliti member tahu siswa yang membaca dengan cara yang salah, namun peneliti tidak member contoh bagaimana membaca teks yang benar dan bagian mana yang dibaca salah oleh siswa.

Solusi untuk Mengatasi Masalah Siklus Pertama

Berdasarkan hasil refleksi atas kegagalan peneliti mengkaji kembali metode SAS.  Metoda ini memiliki landasan linguistiknya bahwa itu ucapan bukan tulisan, unsur bahasa dalam metoda ini adalah kalimat, bahwa bahasa Indonesia mempunyai struktur tersendiri, landasan paedagogik yaitu 1). mengembangkan potensi dan pengamatan anak, 2). membimbing anak menemukan jawaban suatu masalah, sementara landasan psikologisnya adalah : bahwa pengamatan bersifat global (totalitas) dan bahwa anak usia sekolah memiliki sifat melit. Berdasarkan teori tersebut maka peneliti melakukan pembelajaran pada siklus kedua dengan menerapkan solusi-solusi sebagai berikut.

Untuk mengatasi masalah siswa tidak memperhatikan pada saat peneliti memberi contoh membaca, maka peneliti akan mengkondisikan siswa untuk memperhatikan peneliti ketika memberi contoh membaca. Adapun cara untuk hal tersebut adalah peneliti menempelkan gambar di papan tulis yang sesuai dengan teks yang diberikan pada siswa. Peneliti akan bertanya jawab mengenai teks setelah peneliti memberi contoh membaca teks.

Situasi belajar yang tidak kondusif, akan diatasi dengan memberikan dukungan dan bantuan pada siswa - siswa yang memerlukan bantuan. Peneliti akan mengatur kembali pengelolaan kelas dan tempat duduk siswa agar semua siswa dapat diawasi dan diarahkan oleh peneliti. Peneliti memberi tugas kepada siswa untuk berlatih di bangku masing-masing ketika temannya ditest oleh peneliti. Apabila siswa sudah berlatih peneliti memberi tugas agar siswa mengomentari temannya yang tampil di depan kelas.

Untuk mengatasi masalah waktu belajar yang tidak efektif karena seringnya peneliti menegur dan mengarahkan siswa agar diam dan tidak main-main, maka peneliti memberikan lembar gambar yang sesuai dengan tema teks yang diberikan pada siswa. Siswa diperbolehkan untuk mewarnai gambar tersebut setelah mereka ditest ke depan kelas. Untuk mengatasi masalah beberapa siswa yang tidak mau ke depan kelas untuk membaca karena tidak berani. Maka peneliti akan mendekati siswa dan melakukan test di tempat duduk siswa tersebut. Untuk mengatasi siswa yang membaca dengan suara yang sangat pelan, peneliti mengarahkan siswa yang mampu membaca lancar untuk membimbing mereka sebelum dilakukan pengetesan. sehingga tidak terdengar oleh peneliti.

Untuk mengatasi sebagian besar siswa membaca teksnya tidak sesuai dengan arahan, maka peneliti memberi tahu siswa yang membaca dengan cara yang salah dan peneliti memberi contoh bagaimana membaca teks yang benar dan bagian di bagian mana kesalahan siswa. Peneliti pun member waktu berlatih yang cukup pada siswa. Siswa berlatih secara berpasangan dengan teman sebangkuntan. Solusi ini digunakan untuk memperbaiki RPP siklus I serta RPP siklus II.



Hasil Penelitian Siklus Kedua Pertemuan 1 dan 2


Kegiatan Pendahuluan

Dalam kegiatan pendahuluan peneliti menjelaskan manfaat mempelajari kompetensi dasar pentingnya membaca nyaring dalam pembelajaran sehari-hari siswa kelas satu SD. Peneliti berkata, “Pentingnya membaca nyaring dalam pembelajaran sehari-hari adalah sebagai berikut. Pertama, sebagai dasar/ acuan bagi kalian untuk mempelajari kompetensi-kompetensi dasar lainnya. Kedua, akan menumbuhkan kesadaran pada diri kalian bahwa dengan membaca nyaring maka kalian dapat memecahkan masalah di dalam pembelajaran sehari-hari kalian. Ketiga, kalian akan sadar bahwa dengan membaca nyaring maka kalian telah mensukseskan kelangsungan kegiatan belajar-mengajar. Selanjutnya, penjelasan di atas dituliskan di papan tulis dengan ditambahkan media gambar sebagai ilustrasi kegiatan.

Selama peneliti menjelaskan manfaat mempelajari kompetensi dasar tersebut, terlihat para siswa antusias dan tertarik untuk memahami pentingnya membaca nyaring  dalam pembelajaran sehari-hari. Selanjutnya, peneliti memberikan kesempatan untuk bertanya kepada para siswa, namun tidak ada yang menjawab. Kemudian peneliti bertanya kepada kepada para siswa “ Apakah kalian sudah paham dengan materi yang sudah ibu jelaskan ?”. Dan semua siswa menjawab “Paham bu!”. “Terima kasih anak-anak.” Jawab Peneliti. Selanjutnya peneliti melanjutkan pembelajaran pada  kegiatan inti.

Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti peneliti menjelaskan cara membaca dengan menggunakan metoda SAS. Peneliti lalu memperagakan membaca dengan lafal dan intonasi yang benar, menggunakan jeda panjang dan pendek, serta memberikan penekanan pada kata tertentu sesuai konteksnya. Peneliti menempelkan gambar ilustrasi yang sesuai dengan teks yang diberikan pada siswa. Kegiatan ini lalu dilanjutkan dengan Tanya jawab terkait dengan teks agar siswa memahami isi teks.

Peneliti memberikan kesempatan kepada siswa untuk berlatih. Peneliti juga mengkondisikan pada situasi belajar yang menarik dengan memasang gambar, kemudian beberapa siswa secara bergantian ke depan untuk menjawab pertanyaan peneliti mengenai gambar yang terkait dengan teks. Sementara siswa yang lain diberikan lembar kertas untuk menuliskan komentar mengenai membaca nyaring yang dibacakan tiga orang temannya, yang ke depan. Setelah siswa terlihat tertarik, meneliti memberikan contoh membacakan teks dengan benar sesuai indikator. Gambar, kalimat dan bacaan diubah agar memiliki keterkaitan dengan kehidupan siswa.

Situasi belajar yang tidak kondusif, akan diubah dengan memberikan dukungan dan bantuan pada siswa - siswa yang memerlukan bantuan. Peneliti akan mengatur kembali pengelolaan kelas agar semua siswa dapat diawasi dan diarahkan oleh peneliti. Dengan demikian diharapkan mereka dapat fokus.

Setelah berlatih, siswa membacakan teks bacaan di depan kelas dengan suara yang nyaring. Peneliti berusaha menciptakan suasana pembelajaran yang menyenagkan bagi anak, sehingga anak tidak kejenuhan kebosanan. Peneliti berusaha agar tidak terjadi ketegangan dalam kegiatan ini, supaya dapat membantu siswa untuk lebih bersemangat lagi. Siswa yang kurang akan dibantu oleh siswa yang pandai dengan terlebih dahulu peneliti memberikan arahan dan motivasi pada setiap siswa. Siswa yang sudah ditest diminta untuk mewarnai gambar yang sudah peneliti berikan di awal, agar mereka tidak bermain-main dan menimbulkan suasana tidak kondusif.

Peneliti melakukan penilaian pada saat setiap siswa tampil ke depan. Penilaian dilakukan terhadap aspek-aspek membaca nyaring yaitu : lafal dan intonasi, jeda panjang dan jeda pendek, membaca dengan memberikan penekanan pada kata tertentu sesuai dengan konteksnya. Hasil penampilan setiap kelompok dipaparkan dalam tabel berikut.

Tabel 4.2
Penilaian Penampilan Setiap Siswa Siklus Kedua
Pertemuan Kedua



Kegiatan Akhir

Pada kegiatan akhir peneliti dan siswa menyimpulkan pembelajaran, berdiskusi mengenai manfaat pembelajaran membaca nyaring dan penggunaan metoda SAS.

Refleksi Siklus Kedua

Refleksi siklus kedua pertemuan kesatu dan kedua dilakukan bersama tiga orang observer. Kegiatan ini dilakukan untuk menemukan tugas/ indikator yang sudah tercapai dan yang belum tercapai dalam pembelajaran pertemuan kedua. Adapun caranya adalah dengan membandingkan ketercapaian rata-rata setiap tugas/ indikator dan ketercapaian rata-rata skor tiap kelompok pada pertemuan kesatu dan pertemuan kedua dengan KKM yang telah ditetapkan sebelumnya. Kemudian peneliti mencari penyebab dan solusi untuk mengatasinya.

Hasil Refleksi Siklus Kedua

Hasil analisis terhadap ketercapaian setiap tugas/indikator oleh seluruh kelompok dapat dijelaskan sebagai berikut. Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 1 adalah 20. Rata-rata skor kriteria/indikator 1 di atas KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 1 sudah mencapai skor maksimal yaitu 20. Dengan demikian tugas/ indikator 1 dinyatakan tercapai. Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 2 adalah 20. Rata-rata skor kriteria/indikator 2 di atas KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 2 sudah mencapai skor maksimal yaitu 20. Dengan demikian tugas/ indikator 2 dinyatakan tercapai.Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 3 adalah 20. Rata-rata skor kriteria/indikator 3 di atas KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 3 sudah mencapai skor maksimal yaitu 20. Dengan demikian tugas/ indikator 3 dinyatakan tercapai.

Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 4 adalah 20. Rata-rata skor kriteria/indikator 4 di atas KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 4 sudah mencapai skor maksimal yaitu 20. Dengan demikian tugas/ indikator 4 dinyatakan tercapai.Ketercapaian  rata-rata tugas/ indikator 5 adalah 20. Rata-rata skor kriteria/indikator 5 di atas KKM yang telah ditetapkan yaitu 16. Ketercapaian rata-rata skor tugas/indikator 5 sudah mencapai skor maksimal yaitu 20. Dengan demikian tugas/ indikator 5 dinyatakan tercapai.Skor rata-rata yang telah dicapai oleh seluruh tugas/ indikator adalah 100 atau 100%. Bila dibandingkan dengan skor maksimal yaitu skor 100 atau 100%, maka terdapat tugas/ indikator sudah tercapai. Bila dibandingkan dengan skor KKM yaitu 80 atau 80 %, maka terdapat kelebihan skor yaitu 20 atau 2%. Berdasarkan  uraian data di atas maka semua tugas/ indikator telah berhasil dicapai dan penelitian dinyatakan selesai.

D. Pembahasan Hasil Penelitian

Data yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa adalah pedoman penilaian membaca nyaring melalui metoda SAS. Hasil belajar siklus pertama dan siklus kedua dibandingkan baik untuk pencapaian setiap tugas/ indikator, maupun peningkatan hasil belajar setiap kelompok. Data yang diperoleh adalah data berupa angka, sehingga pengolahan berdasarkan analisis kuantitatif. Teknik kuantitatif ini digunakan dengan cara melihat perbedaan hasil belajar antara siklus pertama dan siklus kedua. Perbedaan hasil belajar baik pada setiap tugas/ indikator maupun pada setiap kelompok. Perbedaan dicari dengan cara mengurangkan data hasil siklus kedua dengan data hasil siklus pertama.

Ketercapaian Setiap Tugas/ Indikator

Berdasarkan data di atas, berikut peneliti tampilkan hasil pengolahan data ketercapaian tugas/ indikator dari setiap kelompok pada siklus pertama dengan siklus kedua.

Tabel 4.3 Ketercapaian Setiap Tugas/ Indikator



Berdasarkan tabel di atas berikut dijelaskan peningkatan hasil belajar sebagai berikut . Hasil belajar tugas nomor 1 adalah 20 – 6,5 = 13,5. Tugas nomor 2  adalah 20 – 6,8 = 13,2. Tugas nomor 3 adalah 20 – 7 = 13. Tugas nomor 4 adalah 20 – 8,7 = 11,3. Tugas nomor 5 adalah 20 – 7,2 = 12,8. Perbandingan ketercapaian setiap tugas / indikator 1:2:3:4:5 adalah 13,5 :  13,2 : 13 : 11,3 : 12,8  =  68,3
Berdasarkan perhitungan di atas maka peningkatan hasil belajar tertinggi adalah tugas/ indikator nomor 1 yaitu sebesar 13,5. Sedangkan ketercapaian hasil belajar terendah adalah tugas/ indikator nomor 4 yaitu 11,3. Berikut diagram pencapaian peningkatan setiap tugas.

Diagram 4.1
Peningkatan Ketercapaian Setiap Tugas




Prosentase tugas 1 adalah 13,5: 68,3 x 100 = 19,8. Tugas 2 adalah 13,2 : 68,3 x 100 = 19,3. Tugas 3 adalah 13 : 68,3 x 100 = 19. Tugas 4 adalah 11,3 : 68,3 x 100 = 16,5. Tugas 5 adalah 12,8 : 68,3 x 100 = 18,7. Dari perhitungan tersebut maka perbandingan ketercapaian tugas 1: 2: 3 : 4 : 5 adalah 19,8 % : 19,3 % : 19 % : 16,5 % : 18,7 % = 100%.Berikut peneliti sajikan hasil perhitungandalam diagram lingkaran.

Diagram 4.2
Prosentase Ketercapaian Setiap Tugas / Indikator



Ketercapaian Peningkatan Rata- rata Hasil Belajar Siswa Seluruh Tugas

Berdasarkan tabel di atas, rata – rata hasil belajar siswa seluruh tugas siklus pertama pertemuan kesatu adalah 35 dan  seluruh tugas siklus kedua pertemuan kedua  adalah 100. Selisih keduanya yang merupakan hasil belajar adalah 100-35= 65. Selanjutnya data di atas akan diubah menjadi diagram batang sebagai berikut.

Diagram 4.3
Hasil tes Siklus I Pertemuan 1 dan Siklus II Pertemuan 2



Pada Siklus Pertama dengan Siklus Kedua

Perbandingan siklus pertama, pertemuan pertama dengan siklus kedua, pertemuan kedua adalah 35 : 100 = 135. Sehingga siklus pertama adalah (35 : 135) x 100% = 26%. Siklus kedua adalah (100 : 135) x 100 = 74% Berikut peneliti sajikan hasil perhitungan dalam bentuk diagram lingkaran.

Diagram 4.4
Prosentase Siklus Pertama dengan Siklus Kedua


E. Kesimpulan dan Saran

1. Kesimpulan

Berdasarkan pencapaian skor rata-rata tugas nomor 1 sampai tugas nomor 5 pada siklus pertama dan siklus kedua, terdapat selisih. Selisih tersebut dianggap sebagai peningkatan hasil belajar siswa.
Hasil belajar tugas nomor 1 adalah 20 – 6,5 = 13,5. Tugas nomor 2  adalah 20 – 6,8 = 13,2. Tugas nomor 3 adalah 20 – 7 = 13. Tugas nomor 4 adalah 20 – 8,7 = 11,3. Tugas nomor 5 adalah 20 – 7,2 = 12,8. Perbandingan ketercapaian setiap tugas / indikator 1:2:3:4:5 adalah 13,5 :  13,2 : 13 : 11,3 : 12,8  =  68,3

Rata – rata ketercapaian peningkatan hasil belajar siswa seluruh tugas adalah 7,2. Ketercapaian tersebut bila dibandingkan siklus pertama dan siklus kedua  adalah 7,2 : 20. Terdapat selisih ketercapaian sebesar 12,8.

Rata-rata kemampuan keterampilan membaca nyaring siklus pertama adalah 7,2 dan siklus kedua adalah 20 Selisih keduanya adalah peningkatan hasil belajar. Yaitu 20 – 7,2 = 12,8. Prosentase peningkatan hasil belajar siklus pertama dan kedua adalah 47,41%.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis terbukti yaitu kemampuan membaca nyaring siswa meningkat melalui metoda SAS.

2.    Saran

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka peneliti memberikan saran sebagai berikut


1.    Bagi guru-guru
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman seorang guru dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca nyaring melalui metoda SAS di kelas 1.


2.    Bagi Sekolah
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi sekolah terutama kepala sekolah, agar dapat memotivasi guru lain untuk melakukan PTK.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Pendidikan Nasional (2003). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD/ MI. Jakarta. Depdiknas.

Haryanto (2007). Sains Untuk Sekolah Dasar Kelas VI. Jakarta. Erlangga.

Mulyani, Nana. (2007), Perkembangan Peserta Didik. Jakarta. Universitas Terbuka.

Santosa, dkk,. (2007). Materi dan Pembelajaran Bahasa Indonesia SD. Jakarta. Universitas Terbuka.

Sutarno, dkk,. (2007). Materi Dan Pembelajaran IPA SD. Universitas
Terbuka. Jakarta.


TIM FKIP. (2008). Panduan Tugas Akhir Program Sarjana FKIP. Jakarta. Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K dkk, (2006), Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta. Universitas Terbuka.

Wardani, I.G.A.K, dkk, (2008). Pemantapan Kemampuan Profesional (panduan), Jakarta. Universitas Terbuka.

Penulis adalah Guru SDN 2 Cibeber Kab. Cianjur

Blog, Updated at: 20.22

0 komentar:

Posting Komentar

Komentari

bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online