bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online
bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online

BatakPedia.org - Asal usul Kota Tarutung

Posted by David Sigalingging, S.Pd on Selasa, 28 Agustus 2012

Abad ke-18 (1816-1817), Onan Sitahuru
Saitnihuta, telah lama dikenal sebagai
pusat perdagangan terbesar di Tanah Batak.
Onan Sitahuru Saitnihuta, saat ini
diperkirakan meliputi kampung
Hutatoruan satu dan empat. Lokasinya
sekitar tiga kilometer dari Kota Tarutung.

image



Hal utama yang menjadi latar belakang
dijadikannya Onan Sitahuru Saitnihuta
sebagai pusat perdagangan dikarenakan
sebuah pohon beringin (hariara, dalam
Bahasa Batak) yang terletak persis di tengah
perkampungan. Konon para pedagang yang
datang dari kawasan Tanah Batak bagian
Utara (Silindung, Humbang, Samosir,
Tobasa dan Dairi) sering mengadakan
perjanjian dagang di tempat ini. Di tempat
ini jugalah mereka bertemu setiap kali
ingin mengadakan transaksi dagang
kembali.
Menurut cerita para orangtua setempat, di
tempat ini juga missionaris Jerman DR
Ingwer Ludwig Nommensen pertama kali
menginjakkan kakinya di Tanah Batak dan
memulai misinya dalam menyebarkan
ajaran Kristen, sekaligus pendidikan dan
pertanian.
Di sini juga, oleh masyarakat, Nommensen
hendak dijadikan sebagai kurban
sembelihan kepada Dewa Siatas Barita yang
diyakini sebagai dewa pujaan masyarakat
setempat waktu itu. Namun rencana itu
gagal disebabkan oleh turunnya hujan
batu, gemuruh, kilat dan gempa yang
datang secara tiba-tiba.
Konon, sang missionaris Jerman itu diikat
di sebuah pohon pohon beringin. Pohon
berusia mencapai 190 tahun hingga kini
masih dapat kita jumpai di Desa Sait
Nihuta, Tarutung.
Pada 1877 pohon beringin di mana pada
pedagang melakukan transaksi dagang
tidak lagi digunakan. Sebagai gantinya para
pedagang pun berpindah ke pohon
lainnya,  pohon durian, dalam Bahasa
Batak disebut “Tarutung” yang fungsinya
sama, yaitu sebagai tempat berjanji
dagang. Tempat ini juga digunakan oleh
para raja Silindung sebagai tempat
partungkoan (pertemuan). Hingga kini,
pohon durian itu masih dapat dijumpai di
depan Kantor Bupati Tapanuli Utara,
Tarutung
Kemudian, daerah ini pun disebut oleh
masyarakat dan para pedagang dengan
nama “Tarutung” yang sebelumnya dikenal
dengan Hutatoruan. Dan sesuai
perkembangan masa, Tarutung dipusatkan
sebagai daerah pemerintahan, hingga kini.
Sumber: Situs Resmi Kabupaten Tapanuli
Utara

Blog, Updated at: 05.46

0 komentar:

Posting Komentar

Komentari

bisnis online, jual beli online, sistem pembayaran, pembayaran online, bisnis online