Kita akan coba mengulas tentang tehnik yang digunakan Jo Frost dalam reality show Super Nanny. Berikut ini ulasannya :
1. Menemukan masalah. Masalah utama umumnya berasal dari orang tua itu sendiri. Anak yang bandel dan tidak patuh disebabkan ia melihatorang tuanya sebagaisosok yang lemah, tidak berdaya, bodoh, dan tidak tegas. Ada juga yang melihat orang tuanyasebagai sosok pendiam, sulit mengakrabkan diri, dan pemarah, sehingga satu-satunyacara untuk membuat orang tuanya berbicara padanya adalah dengan memancing emosinya. Ini tentunya kurang baik.Dan ini tentunya bisa dihindari asalkan orang tua tersebut menyadari kekeliruannya selamaini dan mau memperbaikinya. Langkah pertama ini disebut Parent Education. 2. Memberlakukan aturan. Logikanya, anak-anak menjadi bandel karena tidak tahu aturan apa yangharus dipatuhinya. Karena itu mesti ada tolok ukur yang jelas dan TERLIHAT. Kita akan melihat Jo membawa sebuah papan berisi aturan-aturan yang harus dipatuhi. Aturan-aturan ini beragam macamnya disesuaikan dengan masalah yang dihadapi. Contohnya :masalah jam tidur yang tidak teratur maka diatasi dengan pemberlakuan jadwaltidur; masalah anak-anak suka masuk kamar kakak atau abangnya seenaknya diatasi dengan memasang tanda di depan pintu yang menjadi sinyal kapan boleh masuk dan kapan tidak; masalah senang membuat ruangan berantakan dijawab dengan membuat sebuah permainan ‘meletakkan benda-benda pada tempatnya’. Yang berhasil meletakkan dengan benar, ia boleh mengambil bola biru dan dimasukkan ke dalamtabung. Jika tabung itu penuh dengan bola biru, maka ia pun mendapatkan penghargaan. Jika ia memberantakkannya,ia harus mengambil bola merah. Jika tabung penuh dengan bola merah, maka ia harus siap dengan hukuman yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Anehnya, kita akan melihat anak-anak yang nakal itu bersikeras tidak mau mengambil bola merah padahal dia berbuat kesalahan, tapi ia akhirnya mengambilnya lalu memasukkan ke dalam tabung sambil menangis terisak-isak.Ini akan membuatnyakapok. Karena apa? Karena ia tidak ingin terlihat buruk di depan orang tuanya dan bola merah itu membuatnya terlihat sangat buruk.
3. Memberlakukan hukuman. Syarat utama menggunakan cara ini adalah orang tua tetap tenang, bisameredam emosi, sabar, dan jangan menyerah. Tidak boleh ada kata-kata kasar, bentakan, apalagi makian, saat seorang anak berbuat salah. Tidak boleh ada kekerasan fisik seperti pukulan, cubitan, atau jeweran, karena anak-anak tidak membutuhkan itu. Ingat! Kenakalan itu awalnya karena didikan orang tua yang salah, jadi jangan sampai diperparah dengan adanya kekerasan secara fisik. Hukumanyang digunakan adalah memisahkan anak dari tempatnya dan membawanya kesebuah tempat tertentu seperti sudutruangan, kursi, dan sebagainya. Jika ia laridari tempat tersebut,maka jemput ia dan letakkan lagi di suduthukuman. Lakukan berkali-kali, dan biasanya si anak akanmenyerah juga pada akhirnya. Ia akan menangis merengek-rengek tanpa beranjak dari sudut hukuman. Jangan mengunci pintu, karena ini justru akanmemperburuk keadaan.
Mengunci pintu saat hukuman dijalankan akan membuat anak senang menyimpan rahasia dalam hatinyananti , tampak manis di depan, tapi tidak demikian saat tidak terlihat. Jika si anak meronta-ronta sambil berguling-guling di lantai, yang harus dilakukan orang tua adalah duduk dengan dua lutut menyentuh lantai (bukan sekedarberdiri sambil membungkukkan badan), mendekatkan wajah ke wajah si anak, lalu menasehatinya dengan nada rendah (bukan suara tinggi). Tehnik “mendekat dan bersuara rendah” ini ternyata ampuh buat membuat seorang anak patuh dan tunduk. Ini juga yang menjelaskan mengapa rata-rata anak lebih segan kepada ayahnya ketimbang ibunya. Yakarena suara ayahnya lebih rendah, lebih berat , ketimbang suara ibunya.
4. Mengajari anak meminta maaf karena kesalahannya,lalu orang tua pun meminta maaf karena telah menghukumnya. Lalujelaskan kenapa kita menghukumnya. “Maafkan ibu, sayang. Ibu menghukummu karena kamu tidak patuh pada ibu.” Dengan cara demikian, si anak mendapat contoh secara langsung bahwa meminta maafitu bukanlah sebuah hal yang
memalukan,gengsi, bukan pula sebuah hal yang sulit.Jo kadang mengajari mereka untuk saling mengatakan “I’m sorry, Mom. I love you.” Lalu, dibalas dengan pelukan hangat sang ibu sambil berkata, “I love you, too.” Atau Jo memancing mereka dengan pertanyaan, “How much do you love your daughter? How much do you love your mom?” secara bergantian. 5. Ajari sambil bermain, lalu berikanapresiasi. Untuk yang satu ini saya terkesan dengan orang tua yang tuli yang berusaha mengajari bahasa isyarat kepada 3 orang anaknya sambil bermain. Si ibu membawa papan tulis besar, dan juga gambar-gambar lucu,dan si anak harus memperagakan dalam bahasa isyarat untuk menjawab nama dari gambar tersebut. Luar biasa! Sedangkan si ayah membuat kotak-kotak. Jika salah seorang anak berhasilmenjawab dengan benar (dengan bahasa isyarat, tentu), maka ia bolehmaju selangkah. Maka ketiga anak tersebut berusaha semaksimal mungkin untuk menjawab dengan benar. Siapa yang paling cepat sampai pada kotak paling akhir, maka dialah yang menang dan berhak atas hadiah yang sudah dipersiapkan. Intinya adalah “Belajar sambil bermain. Bermain sambil belajar.”
6. Temani anak-anak sebelum tidur. Kita mungkin lupa bahwa
menceritakan sesuatusebelum anak tidur adalah sebuah cara yang luar biasa efektif untuk mendekatkan hubungan anak dengan orangtuanya. Suara ibu atau ayah yang pelan saat menceritakan dongeng sungguh sangat memikat pendengaran anak-anak. Ia akan meresapinya,
membayangkannya dalam benaknya, sehingga membuatnya lelah. Dan tak lama ia pun tertidur. Selain itu, menceritakan dongeng sebelum tidur akan membuat jam tidur menjadi saat-saat yang menyenangkan buat seorang anak. (Saya jadi ingat saat-saat ibu saya menceritakan dongeng sebelum tidur. Jika ibu tidak sempat karena ketiduran, maka nenek yang akan menceritakannya kepada kami. Entah kenapa, cerita sebelum tidur ini merupakan momentum yang amat menarik dan sayang untuk dilewatkan.) 7. Berlibur. Berlibur disini dalam artian memiliki waktu seharipenuh untuk menemani anak bermain-main. Ini tidak berarti harus pergi ke tempat-tempat tamasya. Yang terpenting adalah kreatifitas membuat sebuah suasana liburan. Sayakebetulan pernah melihat di tayangan Super Nanny tersebutdimana seorang ayahmengajak anak-anak berlibur dengan cara berguling-guling dan bermain kejar-kejaran di halaman rumput belakang rumahnya. Dan itu ternyata cukup membuat anaknya senang. Ketika seorang anak merasa cukup mendapatkan kebahagian dari kedua orang tuanya, maka seolah-olah ia tidak membutuhkan apa-apa lagi di dunia ini selain kedua orangtuanya itu. Semoga bermanfaat.
Mendidik Anak
Posted by David Sigalingging, S.Pd on Kamis, 02 Februari 2012
Blog, Updated at: 13.00
0 komentar:
Posting Komentar
Komentari