BAB I
PENDAHULUAN
- A. Latar Belakang Masalah
Mata kuliah Perkembangan Peserta Didik (PPD) membicarakan karakteristik pertumbuhan dan perkembangan, kebutuhan dan tahap-tahap perkembangan, penyesuaian diri remaja (usia sekolah menengah) serta implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan (Pedoman akademik 2005:37), merupakan mata kuliah yang mendukung dan memberi pengetahuan kepada calon guru tentang gambaran, keadaan dan bentuk mental (psikologis) siswa. Berdasarkan pengetahuan dan pemahaman kondisi mental siswa ini, diharapkan guru mampu bertindak atau berperilaku yang sesuai dengan kondisi psikologis siswa-siswa tersebut. Dengan demikian, murid merasa dapat dimengerti guru dan guru juga tidak terkesan memaksakan keinginan.
Setiap perilaku yang dilakukan oleh siswa merupakan cara siswa tersebut untuk menarik perhatian guru. Guru harus mampu memilih untuk memberi perhatian kepada hal-hal yang perlu dalam pembelajaran. Adanya banyak kasus guru lebih banyak memberi perhatian kepada perilaku-perilaku yang tidak baik yang dilakukan oleh siswa-siswa yang bermasalah. Misalnya guru meninggalkan ruang kelas pergi mengintai atau melihat siswa yang memanjat tembok untuk pulang lebih awal dari teman-temannya.
Disisi lain, ada siswa yang tidak mau menarik perhatian guru. Siswa tersebut cenderung pasif, jarang aktif bertanya saat pembelajaran aktif di kelas. Tetapi prestasi siswa tersebut sangat baik. Mungkin ini yang disebut siswa berbicara sedikit, banyak berbuat. Disini diperlukan kemampuan guru untuk mengajak siswa tersebut bekerjasama dan lebih aktif.
|
Dari contoh diatas dapat terlihat jelas pentingnya membicarakan dan memahami perkembangan peserta didik. Guru mampu membelajarkan dan membimbing siswa agar dapat melakukan peran dan tugasnya sebagai siswa (remaja), anggota keluarga, anggota masyarakat dan warga Negara Indonesia. Sehingga arti belajar yang diharapkan perubahan tingkahlaku dapat tercapai.
- B. Rumusan Masalah
Berdasarkan pemilihan judul di atas maka permasalahan yang diangkat dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Siapakah remaja itu?
- Bagaimana karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja?
- Apa saja kebutuhan khas remaja?
- Bagaimana periodisasi perkembangan?
- Apa saja tahap-tahap perkembangan remaja?
- Bagaimana penyesuaian diri remaja
- Apa implikasinya pengetahuan tentang peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan?
- C. Tujuan
Tujuan penulis menyusun makalah ini adalah sebagai berikut:
- Mengetahui siapa remaja
- Mengetahui dan memahami karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja.
- Mengetahui dan memahami kebutuhan khas remaja
- Mengetahui dan memahami periodisasi perkembangan remaja.
- Mengetahui dan memahami tahap-tahap perkembangan remaja.
- Mengetahui dan memahami cara penyesuaian diri remaja.
- Mengetahui dan memahami implikasi pengetahuan tentang peserta didik dalam penyelenggaraan pendidikan.
- D. Manfaat
Manfaat yang dapat diberikan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
- Makalah ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang lebih tentang perkembangan peserta didik.
- Sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran untuk dapat memahami dan mempelajari perkembangan peserta didik.
- Sebagai sumber pengetahuan dan pembelajaran untuk dapat memahami dan mempelajari bagaimana cara memahami remaja
[slideshow] BAB II
PEMBAHASAN
- A. Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock, 1992). Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Seperti yang dikemukakan oleh Calon (dalam Monks, dkk 1994) bahwa masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat (1990: 23) remaja adalah: masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
|
Hal senada diungkapkan oleh Santrock (2003: 26) bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis, kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 12 hingga 21 tahun. Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu 12–15 tahun = masa remaja awal, 15-18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18–21 tahun = masa remaja akhir. Tetapi Monks, Knoers, dan Haditono membedakan masa remaja menjadi empat bagian, yaitu masa pra-remaja 10 – 12 tahun, masa remaja awal 12–15 tahun, masa remaja pertengahan 15–18 tahun, dan masa remaja akhir 18–21 tahun (Deswita, 2006: 192)
Definisi yang dipaparkan oleh Sri Rumini & Siti Sundari, Zakiah Darajat, dan Santrock tersebut menggambarkan bahwa masa remaja adalah masa peralihan dari masa anak-anak dengan masa dewasa dengan rentang usia antara 12-22 tahun, dimana pada masa tersebut terjadi proses pematangan baik itu pematangan fisik, maupun psikologis.
- B. Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan
Perkembangan menunjukkan suatu proses tertentu, yaitu suatu proses menuju kedepan dan tidak dapat diulang kembali. Dalam perkembangan manusia terjadi perubahan perubahan yang sedikit banyak berisifat tetap dan tidak dapat diulang. Perkembangan menunjukkan pada perubahan-perubuahan dalam suatu arah yang bersifat tetap dan maju.
Diantara para psikolog ada yang tidak membedakan antara istilah perkembangan dan pertumbuhan: namu ada yang lebih setuju akan istilah pertumbuhan. Hal ini mungkin untuk menunjukkan bahwa seseorang bertambah dalam berbagai kemampuannya yang bemacam-macam bahwa ia lebih mengalami diferensiasi dan juga bahwa ia pada tingkatan yang lebih tinggi, lebih mengalami integrasi. Disini pertumbuhan khusus dimaksudkan bagi pertumbuhan dalam ukuran badan dan fungsi-fungsi fisik murni. Menurut pendapat para psikolog istilah perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala-gejala psikologi yang menampak.
Pertumbuhan fisik memang mempengaruhi perkembangan psikologi. Pertambahan fungsi-fungsi otak misalnya memungkinkan anak dapat tersenyum, berjalan, bercakap-cakap dan lainsebagainya. Kemampuan berfungsi dalam tingkat yang lebih tinggi ini sebagai hasil pertumbuhan dapat disebut kematangan.
Tumbuh adalah berbeda dengan perkembangan. Pribadi yang tumbuh mengandung arti yang berbeda dengan pribadi yang berkembang. Olehkarena itu dibedakan antara [ertumbuhan dan perkembangan. Dalam pribadi manusia, baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah terdapat dua bagian yang berbeda sebagai kondisi yang menjadikan pribadi manusia berubah menuju ke arah kesempurnaan.
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengeruh lingkungan. Perubahan kuantitatif ini dapat berupa pembesaran atu pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besr, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas.
Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi. Perubahan sesuatu fungsi adalah disebabkan oleh adanya proses pertumbuhan material yang memungkinkan adanya fungsi itu, dan disamping itu disebabkan oleh karena perubahan tingkah laku hasil belajar. Dengan demikian kita boleh merumuskan pengertian perkembangan pribadi sebagai perubahan kualitatif daripada setiap fungsi kepribadian akibat adanya pertumbuhan dan belajar.
- C. Kebutuhan remaja
Rumusan jenis jenis kebutuhan remaja dikemukakan oleh komisi perencana pendidikan pada National Assosiation American (dikutip dari Mappiare, 1982) mengemukakan beberapa kebutuhan yang bersifat khas pada usia remaja, sebagai berikut:
- Remaja merasa butuh untuk mengembangkana kterampilan yang dapat digunakan sebagai bekal untuk bekerja (yang menghasilkan uang).
- Remaja sangat memerlukan informasi untuk memelihara kesehatan dan kesegaran fisisknya.
- Remaja membutuhkan suatu informasi atau pengetahuan tentang hak dan kewajiban seorang warga negara yang baik.
- Memerlukan pengetahuan tentang maslah keluarga dan maknanya bagi individu maupun masyarakat.
- Perlu pengetahuan dan informasi bagai mana memperoleh dan memanfaatkan fasilitas yang ada dan bagaimana cara pemeliharaannya.
- Butuh informasi tentang peranan ilmu pengetahuan (science) bagi kehidupan manusia.
- Membutuhkan peresapan makna (apersepsi) dan penghargaan terhadap seni, musik dan keindahan alam.
- Memerlukan bagai mana cara memanfaatkan waktu luangnya dengan baik.
- Membutuhkan pengetahuan tentang cara mengembangkan rasa hormat kepada oranglain.
- Membutuhkan wawasan dan pengetahuan untuk mampu berpikir secara rasional.
Jenis-jenis kebutuhan trsebut sangat diperlukan untk bekal awal rremaja dalam mensikapi lingkungannya dengan baik dan agar mereka dapat diterima lingkungannya. Dengan penguasaan dan pemenuhan kebutuhan itu remaja dapat hidup layak ssuai dengan tuntutan lingkungan mereka. Disamping rumusan tersebut ada tujuh jenis kebutuhan khas remajaa yang dikemukakan oleh Garrison (dalam Andi Mappiare, 1982):
- Kebutuhan untuk memperoleh kasih sayang
- Kebutuhan untuk diikut sertakan dan diterima kelompoknya.
- Kebutuhan untuk mampu mandiri
- Kebutuhan untuk mampu berpreswtasi
- Kebutuhan untuk memperoleh pengakuan dari oranglain.
- Kebutuhan untuk dihargai.
- Kebutuhan untuk mendapatkan falsafah hidup.
Urgensi dari setiap kebutuhan tersebut antara individu yang satu dengan yang lainnya tidak sama persis, kerena dipengaruhi oleh faktor individual, faktor kultural, dan faktor religius (termasuk nilai-nilai yang dianut). Masing-masing faktor tersebut dapat mewarnai tinggi rendahnya tingkst pengharapan atas pemenuhan setiap kebutuhan tersebut.
- D. Tahap-tahap perkembangan
- Tahap perkembangan berdasarkan Biologis.
- Pendapat Aristoteles
- Tahap perkembangan berdasarkan Biologis.
Aristoteles menggambarkan perkembangan anak sejak lahir sampai dewasa itu dalam tiga tahap yang masing-masing lamanya tujuh tahun.
Tahap I dari 0;0 sampai 7;0 masa anak kecil atau masa bermain.
Tahap II dari 7;0 sampai 14;0 masa anak, masa belajar atau masa sekolah rendah.
Tahap III dari 14;0 sampai 21;0 masa remaja atau pubertas; masa peralihan dari anak-anak menjadi orang dewasa.
Penahapan ini didasarkan pada gejala dalam perkembangan jasmani. Hal ini mudah ditunjukkan: antara tahap I dn tahap II dibatasi oleh pergantian gigi, antara tahap II dan tahap II ditandai oleh mulai berfungsinya perlengkapan kelamin (misalnya kelenjar).
- Pendapat Kretschmer
Kretschmer mengemukakan bahwa dari lahir sampai dewasa, setiap individu melewati empat tahap, seperti dikemukakan dibawah ini.
Tahap I dari 0;0 sampai kira-kira 3;0, funllungs Periode I. pada fase ini anak kelihatan pendek gemuk.
Tahap II dari kira-kira 3;0 sampai kira-kira 7;0, streckungs periode I. pada pase ini akan kelihatan langsing (memnjang/meninggi).
Tahap III dari 7;0 sampai kira-kira 13;0, fullungs Periode II. Pada fase ini anak keihatan pendek gemuk kembali.
Tahap IV dari kira-kira 13;0 sampai kira-kira 20;0, streckugs periode II. Pada fase ini anak kembali kelihatan langsing.
- Pendapat Freud
Freud berpendapat bahwa anak sampai kira-kira umur 5;0 melewati fase-fase yang terdiferensiasi secar dinamis, kemudian sampai umur 12; atau 13;0 mengalami masa tenang atau fase laten; pada masa laten ini dinamika menjadi stabil. Dengan datangnya masa remaja (pubertas) dinamika meletus lagi, dan selanjutnya semakn tenang kalau orang makinm dewasa yaitu sekitas umur 20;0. Fase-fase perkembangan menurut freud adalah :
1) Fase oral dari 0;0 sampai 1;0
Pada fase ini mulut merupak daerah pokok aktivitas dinamis.
2) Fase anal
Dan tahanan terpusat pada fungsi pembuangan kotoran.
3) Fase falis dari kira-kira 3;0 sampai kira-kira 5;0
Pada fase ini alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting.
4) Fase laten dari kira-kira 5;0 sampai kira-kira 12;0
Pada fase ini impuls-impls cenderung untuk ada dalam keadaan mengendap.
5) Fase pubertas dari kira-kira 12;0 sampai kira-kira 20;0
Pada fase ini impuls-impuls menonjol kembali. Apabila impuls-impuls itu dapat dipindahkan dan disubmilasikan oleh das ich dengan berhail, maka sampailah orang kepada fase kematangan yaitu:
6) Fase genital
Individu yang telah mencapai fase ini tetap siap untk terjun kedalam kehidupan masyrakat orang dewasa.
- Tahap perkembangan berdasarkan didaktis/intruksional.
- Pendapat Comenius
Konsepsi Comenius itu sangat populer, karena nilai praktisnya. Comesius merancang jenjang pendidikan yang disesuaikan dengan sifat-sifat khas individu dalam masa perkembangannya. Dengan kata lain, dalam masa perkembangan, individu pada umumnya sifat-sifat yang serasi dengan jenjang pendidikan tertentu.
Menurut Comesius, dipandang dari segi pendidikan, pendidikan yang lengkap bagi seseorang berlangsung dalam empat jenjang, sperti yang disajikan dibawah ini:
- Sekolah ibu (scola materna), untuk anak-anak umur 0;0 sampai 6;0.
- Sekolah bahasa ibu (scola vernacula), untuk anak-anak umr 6;0 sampai 12;0.
- Sekolah latin (scola latins), untuk anak-anak mur 12; sampai 18;0.
- Akademi (academia), untuk pemuda-pemudi umur 18;0 sampai 24;0.
- Pendapat Rousseau
Rousseau dengan karyanya Emeli eu de I’education juga mengemukakan penahapan atas dsar didaktis. Buku karya Rousseau itu sendiri trdiri atas lima jilid. Jilid I sanpai Jilid IV membicarakan pendidikan anak laki-laki (Emeli), dan buku jilid IV membicarakan pendidikan anak perempuan (Sophie). Pendapat Rousseau adalah sebagai berikut:
Tahap I umur 0;0 sampai 2;0 masa asuhan
Tahap II umur 2;0 sampai 12;0 masa pendidikan jasmniah dan latihan panca indra.
Tahap III umur 12;0 sampai 15;0 periode pendidikan akal.
Tahap IV umur 15;0 sampai 20;0 periode pendidikan watak dan pendidikan agama.
- Tahap perkembangan berdasarkan psikologis.
- Pendapat pieget
Suatu pendapat lain yang brdasarkan atas keadaan psikologis, terutama perkembangan intelektual adalah pendapat pieget, yang akhir-akhir ini cpat sekali perkembangannya, termasuk di Indonesia. Bedasarkan perkembangan intelektuaL individu, perkembangan dapat digambarkan dengan melewati empat fase, yaitu;
1) Fase senso motorik, yang berlangsung dari umur 0;0 sampai umur 2;0 tahun.
2) Fase pra-operasional, dari umur 2;0 sampai 7;0 tahun.
3) Fase operasional, yang berlangsung dari umur 7;0 sampai umur 12;0 tahun.
4) Fase konkret, yang berlangsung dari umur 12;0 sampai umur 21;0 tahun.
- E. Penyesuaian diri remaja
- 1. Pengertian Penyesuaian diri remaja
Pengertian penyesuaian diri pada awalnya berasal dari suatu pengertian yang didasarkan pada ilmu biologi yang di utarakan oleh Charles Darwin yang terkenal dengan teori evolusinya. Ia mengatakan: "Genetic changes can improve the ability of organisms to survive, reproduce, and, in animals, raise offspring, this process is called adaptation".(Microsoft Encarta Encyclopedia 2002).
Sesuai dengan pengertian tersebut, maka tingkah laku manusia dapat dipandang sebagai reaksi terhadap berbagai tuntutan dan tekanan lingkungan tempat ia hidup seperti cuaca dan berbagai unsur alami lainnya. Semua mahluk hidup secara alami dibekali kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dengan cara menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan materi dan alam agar dapat bertahan hidup. Dalam istilah psikologi, penyesuaian (adaptation dalam istilah Biologi) disebut dengan istilah adjusment.
Adjustment itu sendiri merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan tuntutan lingkungan (Davidoff, 1991). Manusia dituntut untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial, kejiwaan dan lingkungan alam sekitarnya. Kehidupan itu sendiri secara alamiah juga mendorong manusia untuk terus-menerus menyesuaikan diri.
Berdasarkan uraian di atas dapat dikatakan bahwa penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Atas dasar pengertian tersebut dapat diberikan batasan bahwa kemampuan manusia sanggup untuk membuat hubungan-hubungan yang menyenangkan antara manusia dengan lingkungannya.
- 2. Aspek-aspek Penyesuaian Diri
- a. Penyesuaian pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan sekitarnya. Ia menyadari sepenuhnya siapa dirinya sebenarnya, apa kelebihan dan kekurangannya dan mampu bertindak obyektif sesuai dengan kondisi dirinya tersebut. Keberhasilan penyesuaian pribadi ditandai dengan tidak adanya rasa benci, lari dari kenyataan atau tanggungjawab, dongkol. kecewa, atau tidak percaya pada kondisi dirinya. Kehidupan kejiwaannya ditandai dengan tidak adanya kegoncangan atau kecemasan yang menyertai rasa bersalah, rasa cemas, rasa tidak puas, rasa kurang dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya.
Sebaliknya kegagalan penyesuaian pribadi ditandai dengan keguncangan emosi, kecemasan, ketidakpuasan dan keluhan terhadap nasib yang dialaminya, sebagai akibat adanya gap antara individu dengan tuntutan yang diharapkan oleh lingkungan. Gap inilah yang menjadi sumber terjadinya konflik yang kemudian terwujud dalam rasa takut dan kecemasan, sehingga untuk meredakannya individu harus melakukan penyesuaian diri.
- b. Penyesuian sosial
Setiap iindividu hidup di dalam masyarakat. Di dalam masyarakat tersebut terdapat proses saling mempengaruhi satu sama lain silih berganti. Dari proses tersebut timbul suatu pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesaian bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Dalam bidang ilmu psikologi sosial, proses ini dikenal dengan proses penyesuaian sosial. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain. Hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat di sekitar tempat tinggalnya, keluarga, sekolah, teman atau masyarakat luas secara umum. Dalam hal ini individu dan masyarakat sebenarnya sama-sama memberikan dampak bagi komunitas. Individu menyerap berbagai informasi, budaya dan adat istiadat yang ada, sementara komunitas (masyarakat) diperkaya oleh eksistensi atau karya yang diberikan oleh sang individu.
Apa yang diserap atau dipelajari individu dalam poroses interaksi dengan masyarakat masih belum cukup untuk menyempurnakan penyesuaian sosial yang memungkinkan individu untuk mencapai penyesuaian pribadi dan sosial dengan cukup baik. Proses berikutnya yang harus dilakukan individu dalam penyesuaian sosial adalah kemauan untuk mematuhi norma-norma dan peraturan sosial kemasyarakatan. Setiap masyarakat biasanya memiliki aturan yang tersusun dengan sejumlah ketentuan dan norma atau nilai-nilai tertentu yang mengatur hubungan individu dengan kelompok. Dalam proses penyesuaian sosial individu mulai berkenalan dengan kaidah-kaidah dan peraturan-peraturan tersebut lalu mematuhinya sehingga menjadi bagian dari pembentukan jiwa sosial pada dirinya dan menjadi pola tingkah laku kelompok.
Kedua hal tersebut merupakan proses pertumbuhan kemampuan individu dalam rangka penyesuaian sosial untuk menahan dan mengendalikan diri. Pertumbuhan kemampuan ketika mengalami proses penyesuaian sosial, berfungsi seperti pengawas yang mengatur kehidupan sosial dan kejiwaan. Boleh jadi hal inilah yang dikatakan Freud sebagai hati nurani (super ego), yang berusaha mengendalikan kehidupan individu dari segi penerimaan dan kerelaannya terhadap beberapa pola perilaku yang disukai dan diterima oleh masyarakat, serta menolak dan menjauhi hal-hal yang tidak diterima oleh masyarakat.
- 3. Pembentukan Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri yang baik, yang selalu ingin diraih setiap orang, tidak akan dapat tercapai, kecuali bila kehidupan orang tersebut benar-benar terhindar dari tekanan, kegoncangan dan ketegangan jiwa yang bermacam-macam, dan orang tersebut mampu untuk menghadapi kesukaran dengan cara objektif serta berpengaruh bagi kehidupannya, serta menikmati kehidupannya dengan stabil, tenang, merasa senang, tertarik untuk bekerja, dan berprestasi.
Pada dasarnya penyesuaian diri melibatkan individu dengan lingkungannya, pada penulisan ini beberapa lingkungan yang dianggap dapat menciptakan penyesuaian diri yang cukup sehat bagi remaja, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Lingkungan Keluarga
Semua konflik dan tekanan yang ada dapat dihindarkan atau dipecahkan bila individu dibesarkan dalam keluarga dimana terdapat keamanan, cinta, respek, toleransi dan kehangatan. Dengan demikian penyesuaian diri akan menjadi lebih baik bila dalam keluarga individu merasakan bahwa kehidupannya berarti.
Rasa dekat dengan keluarga adalah salah satu kebutuhan pokok bagi perkembangan jiwa seorang individu. Dalam prakteknya banyak orangtua yang mengetahui hal ini namun mengabaikannya dengan alasan mengejar karir dan mencari penghasilan yang besar demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan menjamin masa depan anak-anak. Hal ini seringkali ditanggapi negatif oleh anak dengan merasa bahwa dirinya tidak disayangi, diremehkan bahkan dibenci. Bila hal tersebut terjadi berulang-ulang dalam jangka waktu yang cukup panjang (terutama pada masa kanak-kanak) maka akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan individu dalam menyesuaikan diri di kemudian hari. Meskipun bagi remaja hal ini kurang berpengaruh, karena remaja sudah lebih matang tingkat pemahamannya, namun tidak menutup kemungkinan pada beberapa remaja kondisi tersebut akan membuat dirinya tertekan, cemas dan stres.
Berdasarkan kenyataan tersebut diatas maka pemenuhan kebutuhan anak akan rasa kekeluargaan harus diperhatikan. Orang tua harus terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pengasuhan, pengawasan dan penjagaan pada anaknya; jangan semata-mata menyerahkannya pada pembantu. Jangan sampai semua urusan makan dan pakaian diserahkan pada orang lain karena hal demikian dapat membuat anak tidak memiliki rasa aman.
Lingkungan keluarga juga merupakan lahan untuk mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari melalui permainan, senda gurau, sandiwara dan pengalaman-pengalaman sehari-hari di dalam keluarga. Tidak diragukan lagi bahwa dorongan semangat dan persaingan antara anggota keluarga yang dilakukan secara sehat memiliki pengaruh yang penting dalam perkembangan kejiwaan seorang individu. Oleh sebab itu, orangtua sebaiknya jangan menghadapkan individu pada hal-hal yang tidak dimengerti olehnya atau sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan olehnya, sebab hal tersebut memupuk rasa putus asa pada jiwa individu tersebut.
Dalam keluarga individu juga belajar agar tidak menjadi egois, ia diharapkan dapat berbagi dengan anggota keluarga yang lain. Individu belajar untuk menghargai hak orang lain dan cara penyesuaian diri dengan anggota keluarga, mulai orang tua, kakak, adik, kerabat maupun pembantu. Kemudian dalam lingkungan keluarga individu mempelajari dasar dari cara bergaul dengan orang lain, yang biasanya terjadi melalui pengamatan terhadap tingkah laku dan reaksi orang lain dalam berbagai keadaan. Biasanya yang menjadi acuan adalah tokoh orang tua atau seseorang yang menjadi idolanya. Oleh karena itu, orangtua pun dituntut untuk mampu menunjukkan sikap-sikap atau tindakan-tindkan yang mendukung hal tersebut.
Dalam hasil interaksi dengan keluarganya individu juga mempelajari sejumlah adat dan kebiasaan dalam makan, minum, berpakaian, cara berjalan, berbicara, duduk dan lain sebagainya. Selain itu dalam keluarga masih banyak hal lain yang sangat berperan dalam proses pembentukan kemampuan penyesuaian diri yang sehat, seperti rasa percaya pada orang lain atau diri sendiri, pengendalian rasa ketakutan, toleransi, kefanatikan, kerjasama, keeratan, kehangatan dan rasa aman karena semua hal tersebut akan berguna bagi masa depannya.
2) Lingkungan Teman Sebaya
Begitu pula dalam kehidupan pertemanan, pembentukan hubungan yang erat diantara kawan-kawan semakin penting pada masa remaja dibandingkan masa-masa lainnya. Suatu hal yang sulit bagi remaja menjauh dari temannya, individu mencurahkan kepada teman-temannya apa yang tersimpan di dalam hatinya, dari angan-angan, pemikiran dan perasaan. Ia mengungkapkan kepada mereka secara bebas tentang rencananya, cita-citanya dan dorongan-dorongannya. Dalam semua itu individu menemukan telinga yang mau mendengarkan apa yang dikatakannya dan hati yang terbuka untuk bersatu dengannya.
Dengan demikian pengertian yang diterima dari temanya akan membantu dirinya dalam penerimaan terhadap keadaan dirinya sendiri, ini sangat membantu diri individu dalam memahami pola-pola dan ciri-ciri yang menjadikan dirinya berbeda dari orang lain. Semakin mengerti ia akan dirinya maka individu akan semakin meningkat kebutuhannya untuk berusaha untuk menerima dirinya dan mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Dengan demikian ia akan menemukan cara penyesuaian diri yang tepat sessuai dengan potensi yang dimilikinya.
3) Lingkungan Sekolah
Sekolah mempunyai tugas yang tidak hanya terbatas pada masalah pengetahuan dan informasi saja, akan tetapi juga mencakup tanggungjawab pendidikan secara luas. Demikian pula dengan guru, tugasnya tidak hanya mengajar, tetapi juga berperan sebagai pendidik yang menjadi pembentuk masa depan, ia adalah langkah pertama dalam pembentukan kehidupan yang menuntut individu untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan.
Pendidikan modern menuntut guru atau pendidik untuk mengamati perkembangan individu dan mampu menyusun sistem pendidikan sesuai dengan perkembangan tersebut. Dalam pengertian ini berarti proses pendidikan merupakan penciptaan penyesuaian antara individu dengan nilai-nilai yang diharuskan oleh lingkungan menurut kepentingan perkembangan dan spiritual individu. Keberhasilan proses ini sangat bergantung pada cara kerja dan metode yang digunakan oleh pendidik dalam penyesuaian tersebut. Jadi disini peran guru sangat berperan penting dalam pembentukan kemampuan penyesuaian diri individu.
Pendidikan remaja hendaknya tidak didasarkan atas tekanan atau sejumlah bentuk kekerasan dan paksaan, karena pola pendidikan seperti itu hanya akan membawa kepada pertentangan antara orang dewasa dengan anak-anak sekolah. Jika para remaja merasa bahwa mereka disayangi dan diterima sebagai teman dalam proses pendidikan dan pengembangan mereka, maka tidak akan ada kesempatan untuk terjadi pertentangan antar generasi.
- F. Implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan
Karakteristik anak usia SD adalah senang bermain, senang bergerak, senang bekerja dalam kelompok, serta senang merasakan/ melakukan sesuatu secara langsung. Oleh karena itu, guru hendaknya mengembangkan pembelajaran yang mengandung unsur permainan, memungkinkan siswa berpindah atau bergerak dan bekerja atau belajar dalam kelompok, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam pembelajaran.
Menurut Havighurst tugas perkembangan anak usia SD adalah sebagai berikut:
- menguasai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik,
- Membina hidup sehat,
- Belajar bergaul dan bekerja dalam kelompok,
- Belajar menjalankan peranan sosial sesuai dengan jenis kelamin.
- Belajar membaca, menulis, dan menghitung agar mampu berpartisipasi dalam masyarakat,
- Memperoleh sejumlah konsep yang diperlukan untuk berpikir efektif,
- Mengembangkan kata hati, moral, dan nilai-nilai mencapai kemandirian pribadi.
Tugas perkembangan tersebut menurut guru untuk:
- Menciptakaan lingkungan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik,
- Melaksanakan pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bergaul dan bekerja dengan teman sebaya sehingga kepribadian sosialnya berkembang,
- Mengembangkan kegiatan pembelajaran yang memberikan pengalaman yang konkret atau langsung dalam membangun konsep; serta
- Melaksanakan pembelajaran yang dapat mengembangkan nilai-nilai sehingga siswa mampu menentukan pilihan yang stabil dan menjadi pegangan bagi dirinya.
Karakteristik yang menonjol pada anak usia sekolah menengah adalah sebagai berikut.
- Adanya kekurangseimbangan proporsi tinggi dan berat badan..
- Mulai timbulnya ciri-ciri sekunder.
- Timbulnya keinginan untuk mempelajari dan menggunakan bahasa asing.
- Kecenderungan ambivalensi antara keinginan menyendiri dengan keinginan bergaul dengan orang banyak serta antara keinginan untuk bebas dari dominasi dengan kebutuhan bimbingan dan bantuan dari orang tua.
- Senang membandingkan kaidah-kaidah, nilai-nilai etika, atau norma dengan kenyataan yang terjadi dalam kehidupan orang dewasa.
- Mulai mempertanyakan secara skeptis mengenai eksistensi (keberadaan) dan sifat kemurahan dan keadilan Tuhan.
- Reaksi dan ekspresi emosi masih labil.
- Kepribadiannya sudah menunjukkan pola tetapi belum terpadu.
- Kecenderungan minat dan pilihan karier sudah relatif lebih jelas.
Karakteristik tersebut menuntut guru untuk:
- Menerapkan model pembelajaran yang memisahkan siswa pria dan wanita ketika membahas topik-topik yang berkenaan dengan anatomi dan fisiologi;
- Menyalurkan hobi dan minat siswa melalui kegiatan-kegiatan yang positif;
- Menerapkan pendekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual atau kelompok kecil;
- Meningkatkan kerja sama dengan orang tua dan masyarakat untuk mengembangkan potensi siswa;
- Menjadi teladan atau contoh, serta
- Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab.
Bab III
Kesimpulah
- A. Kesimpulan
Kesimpulan dari pembahasan yang dilakukan penulis, antara lain:
- Pertumbuhan dan perkembangan psiko-fisik merupakan suatu proses perubahan dari satu keadaan memjadi keadaan yang lain, dan berlangsung pada diri seseorang secara terus menerus sepanjang hayat yang berbeda sebagai kondisi yang menjadikan pribadi manisia berubah menuju ke arah kesempurnaan. Seperti halnya seorang anak tentang makna istilah keluarga mula-mula, ia tak akan tahu bahwa keluarga itu keseluruhan dari anggota-anggotanya.
- Karakteristik penyesuaian diri yang baik sangat diperlukan remaja dalam membina hubungan yang baik dengan lingkungannya.
- B. Saran
- Menyediakan bimbingan dan penyuluhan bagi mahasiswa.
seperti kita ketahui diatas, usia mahasiswa rata-rata masih muda, belum mempunyai pemikiran yang dewasa dan mengetahui seluk-beluk proses belajar yang baik di perguruan tinggi, untuk ini lperan " Bimbingan dan Penyuluhan" bagi mahasiswa di Perguruan tinggi mempunyai peran yang besardidalam menunjang kelancaran dan keberhasilan penerapan SKS.
- Meningkatkan kuantitas maupun kualitas pengajar.
Untuk menupang suksesnya penerapan SKS, nampaknya peningkatan-peningkatan kuantitas staf pengajar sampai mendekati rasio yang ideal dengan jumlah mahasiswa perlu mendapat perhatian. Adapun untuk meningkatkan kualitas staf pengajar, usaha-usaha yang sudah ada seperti program akta mengajar, penataran-penataran perlu terus menerus ditingkatkan dan disempurnakan.
- Sarana dan administrasi pendidikan.
Sarana dan administrasi pendidikan ini tidak saja perlu kelengkapan yang memungkinkan pelayanan mahasiswa dengan lancer, cepat dan teratur, tapi juga perlu ditata alokasi penggunaan yang sebaik mungkin, sehingga penggunaan biaya untuk sarana dan administrasi tersebut dapat berjalan efektif dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, abu, dkk (2005). Psikologi Perkembangan. Jakarta : Rineka Cipta
Gunarsa, S. D. (1989). PsikologiPperkembangan: Anak dan Remaja. Jakarta: BPK. Gunung Mulia.
Hurlock, E.B. (1991). Psikolgi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan (Terjemahan oleh Istiwidayanti dan Soedjarwo). Jakarta : Penerbit Erlangga.
Santrok, J. W. (2003). Adolescence (Perkembangan Remaja). Terjemahan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Tim pembina mata kuliah (2006). Perkembangan Peserta Didik, Buku bahan Belajar. Padang : UNPPress
UNP (2006). Buku Pedoman Akademik. Padang : UNPPress
0 komentar:
Posting Komentar
Komentari