1. Pendahuluan
Layanan konseling kelompok pada hakekatnya adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, terpusat pada pikiran dan perilaku yang disadari, dibina dalam suatu kelompok kecil mengungkapkan diri kepada sesama anggota dan konselor, dimana komunikasi antar pribadi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan diri terhadap nilai-nilai kehidupan dan segala tujuan hidup serta untuk belajar perilaku tertentu ke arah yang lebih baik dari sebelumnya (Winkel, 2004)
Menurut Kartini Kartono (2002) penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga rasa permusuhan, dengki, iri hati, prasangka, depresi, kemarahan dan lain-lain emosi negatif sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis habis.
Layanan konseling kelompok merupakan upaya bantuan untuk dapat memecahkan masalah siswa dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Apabila dinamika kelompok dapat terwujud dengan baik maka anggota kelompok akan saling menolong, menerima dan berempati dengan tulus. Konseling kelompok merupakan wahana untuk menambah penerimaan diri dan orang lain, menemukan alternatif cara penyelesaian masalah dan mengambil keputusan yang tepat dari konflik yang dialamimya dan untuk meningkatkan tujuan diri, otonomi dan rasa tanggung jawab pada diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian konseling kelompok memberikan kontribusi yang penting dalam meningkatkan penyesuaian diri, apalagi masalah penyesuaian diri merupakan masalah yang banyak dialami oleh siswa sehingga untukmengefisiensikan waktu konseling kelompok dimungkinkan lebih efektif dibandingkan layanan konseling individual.
2. Faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Diri
Zakiah Darajat (1985: 24-27) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri seseorang adalah sebagai berikut:
a. Frustasi (Tekanan Perasaan)
Frustasi ialah suatu proses yang menyebabkan orang merasa akan adanya hambatan terhadap terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan, atau menyangka bahwa akan terjadi sesuatu hal yang menghalangi keinginannya.
Pada dasarnya setiap individu memiliki kebutuhan-kebutuhan untuk segera dipenuhi, namun ada kalanya kebutuhan-kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi karena adanya halangan tertentu. Orang yang sehat mentalnya akan dapat menunda pemuasan kebutuhannya untuk sementara atau ia dapat menerima frustasi itu untuk sementara sambil menunggu adanya kesempatan yang memungkinkan mencapai keinginannya itu. Tetapi jika orang itu tidak mampu menghadapi frustasi dengan cara yang wajar maka ia akan berusaha mengatasinya dengan cara-cara yang lain tanpa mengindahkan orang dan keadaan sekitarnya atau ia akan berusaha mencari kepuasan dalam khayalan. Apabila rasa tertekan itu sangat berat sehingga tidak dapat diatasinya mungkin akan mengakibatkan gangguan psikologis pada orang tersebut. Keadaan demikian apabila yang bersangkutan memandang faktor ini sebagai sesuatu yang biasa tanpa beban maka frustasi itu tidak terlalu dipandang sebagai sesuatu yang menghambat penyesuaian diri seseorang terhadap keadaan sekitarnya.
b. Konflik (Pertentangan Batin)
Konflik jiwa atau pertentangan batin adalah terdapatnya dua macam dorongan atau lebih yang berlawanan dan tidak mungkin dipenuhi dalam waktu yang bersamaan.
Konflik dapat terjadi karena dua hal yang sama-sama diinginkan tetapi antara keduanya tidak mungkin dicapai secara bersamaan, selain itu konflik juga terjadi karena dua hal yang pertama diinginkan sedangkan yang kedua tidak disenanginya dan dapat pula terjadi terhadap dua hal yang sama-sama tidak diinginkannya. Keadaan-keadaan seperti ini sangat mempengaruhi penyesuaian diri seseorang karena seseorang dihadapkan pada suatu pilihan yang menyebabkan perasannya selalu terombang-ambing.
c. Kecemasan
Kecemasan merupakan perwujudan dari berbagai proses emosi yang bercampur baur pada saat orang mengalami tekanan perasaan dan pertentangan batin.
Rasa cemas dapat timbul karena menyadari akan bahaya yang dapat mengancam dirinya. Cemas dapat juga berupa penyakit yang terlihat dalam beberapa bentuk seperti cemas dalam bentuk takut akan benda-benda seperti darah, orang ramai dan lain-lain. Selain itu, cemas dapat juga timbul karena perasaan berdosa atau bersalah karena melakukan hal-hal yang berlawanan dengan hati nurani.
Penyesuaian diri terdiri dari dua aspek yaitu penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial, namun Hurlock (1999) tidak membedakan secara tegas ciri-ciri penyesuaian pribadi dan penyesuaian sosial yang baik. Menurut Hurlock, cirri-ciri orang yeng berpenyesuaian baik adalah:
- Mampu bersedia menerima tanggung jawab yang sesuai dengan usia.
- Berpartisipasi dengan gembira dalam kegiatan yang sesuai untuk tiap tingkat usia dan kemampuan yang dimilikinya, misal kegiatan olah raga, pramuka, PMR dan lain-lain.
- Bersedia menerima tanggung jawab yang berhubungan dengan peran mereka dalam hidup, mengadakan komunikasi dengan lingkungan.
- Segera menangani masalah yang menuntut penyelesaian masalah, misalnya konflik dalam pribadi.
- Senang memecahkan dan mengatasi berbagai hambatan yang mengancam kebahagiaan. Misalnya mengadakan pergaulan dengan mengikuti kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler.
- Mengambil keputusan dengan senang tanpa konflik dan tanpa banyak menerima nasehat. Artinya segala sesuatu yang diputuskan itu benr tanpa mendapat bantuan dari orang lain.
- g. Belajar dari kegagalan dan tidak mencari-cari alasan untuk menjelaskan kegagalan. Anak mampu menilai dari kegagalan untuk dijadikan dasar mengadakan perubahan dalam tindakan berikutnya.
- g. Dapat mengatakan “tidak” dalam situasi yang membahayakan kepentingan sendiri. Hal ini biasanya diucapkan atau dilakukan anak dalam kelompok mereka.
- h. Dapat mengatakan “ya” dalam situasi yang pada akhirnya akan menguntungkan. Pernyataan ini juga dapat dilakukan oleh anak-anak dalam kelompok tertentu.
- Dapat menunjukkan kasih sayang secara langsung dengan cara dan takaran yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
- Dapat menahan sakit dan frustasi, emosional bila perlu. Pernyataan-pernyataan ini biasanya dilakukan oleh anak dalam pembelaan terhadap kelompoknya maupun pembelaan terhadap pribadi.
- Dapat berkompromi bila menghadapi kesulitan. Hal ini menunjukkan anak ada kemampuan untuk menyesuaian diri dalam lingkungannya.
- Dapat memusatkan energi pada tujuan yang penting artinya anak lebih ,elakukan kegiatan-kegiatan yang positif.
- Menerima kenyataan bahwa hidup adalah perjuangan yang tak kunjung terakhir. Ini menuntut anak untuk selalu mengadakan penyesuaian diri sesuai dengan perkembangan dan kemajuan jaman.
3. Konseling Kelompok
Layanan konseling kelompok pada hakekatnya adalah suatu proses antar pribadi yang dinamis, terpusat pada pikiran dan perilaku yang disadari, dibina dalam suatu kelompok kecil mengungkapkan diri kepada sesama anggota dan konselor, dimana komunikasi antar pribadi tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman dan penerimaan diri terhadap nilai-nilai kehidupan dan segala tujuan hidup serta untuk belajar perilaku tertentu ke arah yang lebih baik dari sebelumnya.
Konseling kelompok bersifat memberikan kemudahan dalam pertumbuhan dan perkembangan individu, dalam arti bahwa konseling kelompok memberikan dorongan dan motivasi kepada individu untuk membuat perubahan-perubahan dengan memanfaatkan potensi secara maksimal sehingga dapat mewujudkan diri.
Pendekatan ini menitik beratkan pada interaksi antar anggota, anggota dengan pemimipin kelompok dan sebaliknya. Interaksi ini selain berusaha bersama untuk dapat memecahkan masalah juga anggota kelompok dapat belajar untuk mendengarkan secara aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memperlihatkan perhatian dengan sungguh-sungguh terhadap anggota lain.
Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan menimbulkan rasa saling menolong, menerima, dan berempathi dengan tulus. Keadaan ini membutuhkan suasana yang positif antar anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka.
Dalam konseling kelompok, dengan memanfaatkan dinamika kelompok para anggota kelompok dapat mengembangkan diri dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya. Arah pengembangan diri yang dimaksud terutama adalah dikembangkannya kemampuankemampuian sosial secara umum yang selayaknya dikuasai oleh individu individu yang berkepribadian mantap. Keterampilan berkomunikasi secara efektif, sikap tenggang rasa, memberi dan menerima, toleran, mementingkan musyawarah untuk mencapai mufakat seiring dengan sikap demokrtis, memiliki rasa tanggung jawab sosial seiring dengan kemandirian yang kuat merupakan arah pengembang pribadi yang dapat dijangkau melalui diaktifkannya dinamika kelompok itu.
Layanan konseling kelompok memberikan kesempatan kepada anggota kelompok berinteraksi antar pribadi yang khas, yang tidak mungkin terjadi pada layanan konseling individual. Interaksi sosial yang intensif dan dinamis selama pelaksanaan layanan, diharapkan tujuantujuan layanan yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan individu anggota kelompok dapat tercapai secara mantap. Pada kegiatan konseling kelompok setiap individu mendapatkan kesempatan untuk menggali tiap masalah yang dialami anggota. Kelompok dapat juga dipakai untuk belajar mengekspresikan perasaan, menunjukan perhatian terhadap orang lain, dan berbagi pengalaman.
Pendekatan interaksional merupakan pendekatan yang digunakan dalam layanan konseling kelompok. Pendekatan ini menitikberatkan pada interaksi antar anggota, anggota dengan pemimipin kelompok dan sebaliknya. Interaksi ini selain berusaha bersama untuk dapat memecahkan masalah juga anggota kelompok dapat belajar untuk mendengarkan secara aktif, melakukan konfrontasi dengan tepat, memperlihatkan perhatian dengan sungguh-sungguh terhadap anggota lain.
Kesempatan memberi dan menerima dalam kelompok akan menimbulkan rasa saling menolong, menerima, dan berempathi dengan tulus. Keadaan ini membutuhkan suasana yang positif antar anggota, sehingga mereka akan merasa diterima, dimengerti, dan menambah rasa positif dalam diri mereka.
4. Konseling Kelompok untuk Meningkatkan Penyesuaian Diri Siswa
Konseling kelompok merupakan tempat bersosialisasi dengan anggota kelompok dimana masing-masing anggota kelompok akan mamahami dirinya dengan baik. Berdasarkan pemahaman diri itu dia lebih rela menerima dirinya sendiri dan lebih terbuka terhadap aspek-aspek positif dalam kepribadiannya, selain itu dalam layanan konseling kelompok ketika dinamika kelompok sudah dapat tercipta dengan baik ikatan batin yang terjalin antar anggota kelompok akan lebih mempererat hubungan diantara mereka sehingga masing-masing individu akan merasa diterima dan dimengerti oleh orang lain, serta timbul penerimaan terhadap dirinya sendiri.
Keefektifan layanan konseling kelompok telah banyak dibuktikan dalam berbagai penelitian eksperimen, antara lain penelitian yang dilakukan oleh Atik Siti Maryam dengan judul “ Keefektifan Layanan Konseling Kelompok dalam Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa”. Penelitian ini bertujuan untuk mencari pengaruh layanan konseling kelompok terhadap kepercayaan diri siswa.
Penelitian yang dilakukan oleh Partono dengan judul “Pengaruh Layanan Konseling Kelompok terhadap Pengembangan Kecerdasan Emosional”. Pada bagian membina hubungan diperoleh data bahwa sebelum mendapatkan layanan konseling kelompok sebesar 74% dan setelah mendapatkan layananan konseling kelompok meningkat menjadi 79% dan pada bagian mengelola emosi diperoleh data bahwa sebelum mendapatkan layanan konseling kelompok sebesar 78% dan setelah mendapatkan layanan konseling kelompok meningkat menjadi 82%.
Konseling kelompok sebagai layanan yang dipandang mempunyai kontribusi yang penting bagi kelompok sangat membantu siswa untuk meningkatkan penyesuaian diri. Corey (1985) menerangkan bahwa konseling kelompok sangat berguna bagi remaja karena memberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaan, konflik dan merealisasikan bahwa mereka senang berbagi perhatian dalam kelompok. Corey (1985: 9) juga menerangkan bahwa konseling kelompok remaja mempunyai keunikan memberikan kesempatan untuk menjadi instrumen bagi perkembangan pribadi orang lain, karena kesempatan untuk berinteraksi sangat membantu situasi kelompok sehingga para anggotanya dapat menyampaikan apa yang diinginkan dan dapat saling membantu dalam hal pengertian dan penerimaan diri.
5. Simpulan dan Saran
a. Simpulan
Dari uraian yang telah dipaparkan diatas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa membina layanan bimbingan kelompok akan meningkatkan hubungan dan mengelola emosi. Karena membina hubungan dan mengelola emosi juga termasuk dalam indikator penyesuaian dirimaka dapat simpulkan bahwa konseling kelompok juga efektif untuk meningkatkan penyesuaian diri.
b. Saran
1) Guru pembimbing hendaknya berusaha memberikan layanan kelompok dengan memanfaatkan jam bimbingan konseling secara efektif untuk membantu memecahkan masalah siswa termasuk meningkatkan penyesuaian diri siswa serta dapat memberikan motivasi kepada siswa untuk terlibat dalam layanan konseling kelompok.
2) Kepala sekolah perlu memberikan jam khusus minimal 1 jam pelajaran per minggu kepada guru bimbingan konseling agar guru bimbingan konseling dapat melaksanakan program bimbingan yang telah dibuat, baik bimbingan kelompok maupun bimbingan personal
Perkataan peran merupakan istilah yang sering digunakan dalam kehidupan sosial yang mengacu kepada posisi dan hubungannya dengan posisi lainnya. Menurut Devis (dalam Firman, 1997:26) Peran merupakan pola tindakan yang diharapkan oleh seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Lebih lanjut Firman (1997:27) mengatakan bahwa peran merupakan pola tindakan yang diharapkan dari seseorang dalam hubungan tingkah lake dengan satu orang atau lebih. Dalam arti kata proses interaksi antar individu akan terkait dengan peran satu sama lainnya. Namun dalam hal ini peran yang dimaksud adalah peran guru pembimbing.
Guru pembimbing adalah guru yang mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh dalam melaksanakan kegiatan BK di sekolah (Depdikbud 1993). Guru pembimbing selama ini dikenal dengan guru BP. Karena perkembangan ilmu istilah guru BP diganti dengan "Guru Pembimbing". Guru pembimbing yang sudah mengikuti PPK (Pendidikan Profesi Konseling) disebut Konselor atau disingkat dengan Kons.
Ada empat bidang bimbingan yang dapat dilakoni oleh guru pembimbing yaitu: Bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan bimbingan karir. Masing-masing bidang bimbingan tersebut dapat dilaksanakan dengan sembilan layanan yaitu; Pertama, layanan orientasi. Layanan orientasi merupakan upaya pengenalan lingkungan baru pada siswa baru masuk pada suatu lembaga sekolah lengkap dengan seluruh aspek yang ada pada sekolah tersebut. Kedua layanan informasi, hal ini lebih mengarah pada penambahan wawasan kognitif bagi siswa berupa informasi-informasi yang selama ini mungkin belum diperoleh oleh siswa. Dengan berkembangnya teknologi informasi sekarang ini, guru pembimbing dapat mempergunakan Laptop, LCD, Vidio kaset dan lain sebagainya kalau seandainya sarana sudah memadai.
Ketiga, layanan penempatan dan penyaluran. Layanan ini sangat erat kaitannya dengan bakat, kemampuan, dan minat siswa. Tidak sedikit siswa yang bakat, kemampuan, minat dan hobinya tidak tersalurkan dengan baik. Sehingga akhirnya merupakan problema yang cukup serius, dan akhirnya mereka tidak berkembang secara optimal. Dalam hal ini mereka memerlukan orang yang dapat mengerti tentang mereka dan mereka memerlukan bimbingan dan bantuan dari orang dewasa, guru dan guru pembimbing dalam menyalurkan bakat, kemampuan dan potensi mereka. Di sekolah banyak wadah yang dapat menyalurkan minat, bakat, kemampuan serta hobi dari siswa seperti pramuka, PMR, KIR, remaja mesjid, silat, karate, randai, kesenian tradisi Nias (balance madam), kelompok pencinta alam, kelompok belajar adan sebagainya.
Keempat, layanan konseling individual. Banyak permasalahan yang dialami oleh remaja atau siswa yang membawa dampak negatif terhadap perkembangan mentalnya. Kelima, layanan bimbingan kelompok. Layanan ini memberi kesempatan bagi siswa untuk mengaktualisasikan dan mengekspresikan dirinya dengan memanfaatkan dinamika kelompok. Keenam, layanan konseling kelompok. Merupakan layanan terhadap sekelompok siswa yang mengaami persoalan yang sama dengan memanfaatka kelompok dalam pemecahannya di bawah bimbingan guru pembimbing.
Ketujuh, layanan penguasaan konten. Layanan ini merupakan layanan yang memberi kesempatan bagi siswa untuk menguasai konten-konten tertentu yang dapat diadopsi dari lingkungan belajar dan lingkungan sekitamya. Kedelapan, layanan mediasi. Layanan yang memfasilitasi siswa untuk dapat mencapai tujuan-tujuan tertentu yang sesuai dengan kapasitas potensi dirinya dalam hal yang normatif. Kesembian, layanan advokasi, yaitu layanan terhadap perlindungan hak anak secara hukum.
Pengertian Pengembangan diri
Pengembangan diri merupakan kegiatan di luar mata pelajaran sebagai bagian integral dari pelaksanaan kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, kegiatan belajar dan pengembangan karir peserta didik, serta kegiatan ekstrakurikuler. Untukb sekolah kejuruan, kegiatan pengembangan diri, khususnya pelayanan konseling ditujukan untuk pengembangan kreativitas dan karir siswa. Untuk sekolah yang khusus, pelayanan konseling berorientasi pada peningkatan kecakapan hidup sesuai dengan kebutuhan khusus peserta didik.
Kegiatan pengembangan diri difasilitasi/dilakukan oleh Konselor atau Guru pembimbing. Sedangkan kegiatan ekstrakurikuler juga dapat dilakukan oleh guru pembimbing atau guru lain yang sesuai dengan kemampuan dan kewenangannya. Pengembangan diri yang dilakukan oleh guru pembimbing dan eksktrakurikuler dapat mengembangkan kopetensi dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Pengertian Pengembangan diri di atas berlandaskan kepada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistim Pendidikan Nasional, pasal I butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, pasal 3 bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan pasal 4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi ketauladanan, membangun kemauan, dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran.
Selanjutnya Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standard isi pendidikan Dasar dan Menengah. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Pendidikan no 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat pengembangan diri peserta didik dal struktur kurikulum setiap satuan pendidikan. Dan Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Tahun 2004 yang memberi arah pengembangan profesi konseling di sekolah dan luar sekolah.
Perampingan struktur kurikulum dari jumlah 42 jam menjadi 34 jam dengan pelayanan BK di kelas, secara substansial sudah memberi peluang pada peserta didik lebih kurang 6 jam seminggu untuk mengembangkan dirinya diluar jam tatap muka biasa. Dengan demikian sekolah akan dapat membentuk kelas-kelas ekstrakurikulernya lebih banyak sesuai dengan kondisi dan situasi dimana satuan pendidikan tersebut berada. Karena memang kurikulum KTSP ini dirancang menurut budaya dan daerah setempat. Dengan demikian kewenangan dan otoritanya juga terletak pada sekolah yang bersangkutan sesuai dengan kemampuan dan karakteristik daerah atau sekolah yang bersangkutan sesuai dengan MPMBS.
Berbagai polemic yang muncul dengan adanya KTSP. Ada yang memplesetkan dengan "Katesiape",dan ada pula yang mengakronimkan dengan "Kurikulum Tidak Siap Pakai". Apapun komentar public, itu hal yang biasa. Karena bagaimanapun KTSP merupakan kurikulum "Small is beautiful. Kita masih masih ingat diwaktu pelaksanaan kurikulum 1975. Di mana waktu itu sekolah bisa merancang jam "keluar main" atau jam istirahat dua kali. Pada waktu itu siswa dapat mengembangkan sosial emosionalnya, gerak motorik yang berguna untuk pematangan tingkat perkembangan dan pertumbuhan tertentu.
Ketika seorang guru tampil dalam menyelesaikan persoalan anak yang baru saja bertengkar atau berkelahi, ketika itu jugs secara tidak langsung siguru sudah mengisi aspek-aspek tertentu bagi siswanya. Seperti aspek emosional (sabar), aspek spiritual (pemaaf). Segala nasehat dan wejangan guru ketika itu akan direkam dalam memori siswa dan ini merupakan kesan "traumatis" dalam artian positif yang berkesan lama. Malahan sampai kelak kalau siswa tersebut menjadi pejabat masih diingatnya walaupun sudah berlalu sekian tahun. Disinilah keunggulan KTSP itu sebetulnya.
Ruang Lingkup
Pengembangan diri meliputi dua komponen. Pertama, pelayanan konseling (tatap muka di kelas), meliputi pengembangan: (a) Kehidupan pribadi (b) Kemampuan sosial (c) Kemampuan belajar (d) Wawasan dan perencanaan karir. Kedua, Ekstrakurikuler, meliputi kegiatan: (a) Kepramukaan (b) Silat/karate (c) KIR,PMR, Pencinta Alam (d) Seni, Olah dan Raga (e) Keagamaan (f) All
Bentuk-bentuk Pelaksanaan
Pelaksanaan kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan sebagai berikut: (1) Rutin yaitu kegiatan yang dilakukan terjadual seperti upacara bendera, senam, membaca asmaul husna setiap pagi memulai pelajaran, ibadah khusus, dan lain-lain. (2) Spontan, adalah kegiatan tidak terjadual dalam kejadian khusus seperti: pembentukan prilaku memberi salam, membuang sampah pada tempatnya, antrian, penyelesaian pertengkaran, dan sebagainya. Dari uraian di atas dapat dilihat peluang yang mungkin (3)Keteladanan adalah prilaku sehari hari seperti: berpakaian rapi, berbahsa yang baik,rajin membaca, datang tepat waktu, memuji kebaikan dan keberhasilan orang lain.(4)Terprogram, adalah kegiatan yang dirancang secara khusus dalam kurun waktu tertentu untuk memenuhi kebutuhan peserta didik secara individu, kelompok, dan kiasikal melalui penyelenggaraan layanan dan kegiatan pendukung konseling, krida, karya ilmiah, latihan lomba, cerdas cermat, seminar, workshop, bazar, dan kegiatan lapangan. apat dilakukan oleh guru pembimbing dalam mengisi aspek pengembangan diri. (5) Pengkondisian, adalah pengadaan sarana yang mendorong terbentuknya prilaku terpuji. Untuk menentukan ekstrakurikuler apa yang minati oleh siswa, sekolah dapat menentukan ekskul melalui daftar pilihan atau daftar isian yang disediakan untuk siswa ketika awal masuk sekolah. Demikianlah tulisan ini dibuat untuk dapat menjadi bahan
diskusi selanjutnya bagi guru pembimbing di sekolah. (*) Top of Form
0 komentar:
Posting Komentar
Komentari